Stabilitas Harga Kepokmas Diperlukan Ketika Ramadan

66

BISNIS BANDUNG- Guna  menjamin daya beli masyarakat  tetatp terpelihara , maka  diperlukan stabilas harga kebutuhan  pokok masyarakat (Kepokmas). 

Pemerintah harus bergerak efektif, sehingga saat bulan Ramadan dan jelang Lebaran harga kebutuhan mampu dikendalikan. Lebih-lebih dalam momentum  ini kerap dijadikan alasan pedagang untuk menaikan harga.

Beberapa ibu rumah tangga kepada Binsis Bandung mengharapkan  supaya pemerintah  mampu menjaga stabilitas harga sembako jelang bulan Ramadhan dan Lebaran, agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

“Kebiasaan buruk,  menjelang puasa dan lebaran suka dijadikan alasan oleh sebagian pedagang untuk menaikan harga  kebutuhan dapur,” ungkap Ny.Ina (46) di  Kompleks Antapai Bandung.

Menurut  Ny.Amah, seorang ibu yang tinggal di Terus Buahbatu, fenomena  kenaikan harga kebutuhan  pokok  masyarakat  (Kepokmas) tersebut harus jadi perhatian serius pihak pemerintah  agar tidak menambah beban biaya hidup warga.

Ia menyebutkan,  langkah  melakukan operasi pasar dan pengendalian harga sembako merupakan solusi paling efektif dalam mengatasi lonjakan harga “Pasar murah  bisa kita lakukan agar warga miskin tetap bisa belanja dan sekaligus melakuka  stabilitas harga,” ujarnya

Ibu Dian  di  Kara[itan Bandung  mengatakan, kecuali  menjaga stabilitas harga, pemerintah juga harus menyiapkan regulasi agar pengawasan bagi para penimbun sembako berjalan efektif.  Dengan pengawasan yang ketat tak akan ada pedagang yang mengaku kekurangan  pasokan,  padahal sebenarnya  barang tersedia.

Meroket

Harga daging ayam dua hari menjelang bulan Ramadan  di bebera pasar tradisional  di Bandung terus meroket  mencapai Rp 42.000 perkilogram  di Pasar Astanaanyar, sedangkan di pasar  Sayati  Rp 40.000 perkilogram. Tak hanya daging ayam yang melonjak naik tapi telur pun ikut naik mencapai Rp 26.000 per kilogram.

Kenaikan harga daging ayam karena adanya kemacetan dari daerah asal masuk ke Kota Bandung. Diduga  masalahnya transportasi kemacetan yang  menyebabkan  harga tersebut naik, sedangkan kebutuhan pokok  lainnya relatif stabil.

Wawan, salah satu pedagang di Pasar Karapitan  Bandung menyebut harga telur ayam per kilogramnya kini mencapai Rp 27 ribu. Sebelumnya, telur ayam dijual Rp 23 ribu per kilogram di pasar tersebut. “Sudah lima hari ini harganya naik, karena mau puasa,” ucap Wawan.

Heri, pedagang lainnya di toko berbeda juga mematok harga yang sama untuk telur ayam. “Sama semua, RP 27 ribu per kilogram,” kata Heri.

Harga serupa untuk telur juga terjadi di Pasar Templek, Jakarta Selatan. Haryati, salah satu pembeli mengeluhkan naiknya harga telur ayam yang terbilang cukup tinggi di pasar tersebut. “Sebelumnya Rp 22 ribu, sekarang mahal banget jadi Rp 27 ribu,” kata dia.

Sementara, di pasar  lainnya harga daging ayam juga mengalami kenaikan harga. Dedi, salah satu pedagang, menyebutkan harga daging ayam melonjak dari Rp 39 ribu menjadi Rp 42 ribu per kilogramnya.

Kenaikan itu baru terjadi sejak hari ini. Di Pasar  Kosambi, daging ayam juga mengalami kenaikan hingga Rp 42.000. “Sebelumnya Rp 38 ribu menjadi Rp 42 ribu per kilogram,” ucap Niniek.

Masih jelang Ramadan, Tim Satgas Pangan Polres Cimahi bergerak mengantisipasi berbagai tindak pidana ekonomi seperti penimbunan Kebutuhan Pokok Masyarakat (Kepokmas). Hal tersebut sebagai upaya menekan kecurangan dan menyebabkan kerugian bagi masyarakat.

Menurut  Kepala Satgas Pangan Polrtes Cimahi,  AKP Niko N. Adiputra,  pihaknya akan mengawasi dan memeriksa ketersedian barang maupun kenaikan harga sembako yang berpotensi melambung tinggi. Pengawasan diawali dengan memantau ketersediaan beras baik di Bulog maupun di gudang beras perorangan (agen). mengecek ketersedia stok Kepokmas hingga ke tingkat distributor.

“Kita sudah datangi pasar-pasar, Bulog, distributor, dan agen gas elpiji. Artinya menjelang Ramadan ini, potensi tindak pidana ekonomi sangat kita antisipasi. Jangan sampai ada kelangkaan Kepokmas maupun gas elpiji,” ujarnya.

Sejauh ini, dari hasil pengecakan sementara di lapangan, lanjut Niko, harga-harga sembako di pasaran sudah menunjukkan indikasi kenaikan. Hal itu mengingat masyarakat masih setia dengan perilaku ‘panic buying’.

Kendati demikian, ia menegaskan, sudah mengantongi target sasaran yang berkaitkan dengan tindak pidana ekonomi seperti penimbunan kepokmas, gas, dan kebutuhan masyarakat lainnya. “Berkaca pada tahun lalu di mana banyak kartel yang berperan pada meroketnya harga komoditas cabai,” tuturnya.(B-002)**