Cara Rusia Membuat Iklan FB untuk Pengaruhi Pemilu AS

50

UNTUK mengarahkan pemilih dalam Pemilu di Amerika Serikat (AS), Rusia diduga mendanai iklan Facebook yang menyasar kelompok tertentu. Iklan itu sengaja dibuat untuk menciptakan ketegangan sosial menggunakan isu-isu sensitif.

Konten iklan yang disebar Rusia ini biasanya memuji Trump dan menyerbu lawan Demokratnya, Hillary Clinton. Postingan lainnya memuji lawan Demokrat Clinton, Bernie Sanders.

Iklan-iklan ini seringkali bersifat provokatif pada isu-isu seperti imigrasi dan pengendalian kepemilikan senjata. Mereka sering melontarkan konten yang dibahas dari dua sisi berbeda untuk masalah yang sama.

Mereka juga menggunakan fitur penargetan yang disediakan Facebook. Dengan demikian, mereka bisa mengarahkan iklan tersebut untuk agar dilihat oleh pengguna Facebook dengan ciri tertentu.

Kelompok pembuat konten

Terdapat berbagai kelompok yang mendorong konten untuk iklan-iklan ini. Sebagai contoh, ada kelompok yang menamakan diri sebagai Tentara Yesus, The Heart of Texas, Black Matters.

Mereka membuat konten sesuai dengan kelompok pengguna yang ingin ditarget. Misal mereka ingin mempromosikan konten terkait ras Afrika di AS.

Maka mereka melemparkan iklan ini ke orang yang tertarik dengan Martin Luther King Jr., Pergerakan Hak Sipil Afrika-Amerika, sejarah Afrika-Amerika, Malcolm X, bahkan menargetkan mereka yang suka warna hitam.

Contoh lain adalah pada laman yang disponsori oleh kelompok “Tentara Yesus”. Mereka menyamakan Clinton dengan Setan. Iklan ini diarahkan pada orang-orang yang minatnya termasuk “menghentikan imigrasi ilegal”.

Selain itu, ada pula grup populer bernama The Heart of Texas yang dikontrol oleh IRA. Kampanye dari grup ini adalah meminta Texas dilepaskan dari AS.

Iklan ini menargetkan warga Texas, dilihat oleh 36.702 pengguna, 3.800 orang mengkliknya, dan Rusia mesti membayar US$502 (sekitar Rp7 juta) untuk iklan tersebut, tulis Cnet.

Rusia disebutkan menghabiskan US$ 100 ribu (Rp1,4 miliar) untuk iklan di Facebook. Kelompok-kelompok yang dibayar untuk membuat konten tersebut setidaknya berhasil menjangkau lebih dari 100 juta orang Amerika, seperti disebutkan The Independent.

Sementara itu, Facebook berjanji untuk mulai merilis lebih banyak informasi tentang iklan politik. Mereka juga telah meluncurkan fitur yang memungkinkan pengguna melihat apakah mereka berinteraksi dengan konten buatan Rusia. (C-003/CNN)***