Ayuningtyas Yuli Hapsari, SIP. MM., Pengalaman Negatif Membuat Bijak Dalam Mengambil Keputusan

31

Ayuningtyas Yuli Hapsari lahir di Bandung 2 Juli 1982. Istri dari Dr. Tezza Adriansyah Anwar, SIP.MM. (37) ini, berprofesi sebagai akademisi di Universiitas Widyatama (Utama) Bandung. Spesialisasi bidang ilmunya adalah pemasaran. Selain menjadi akademisi, ia adalah juga pemilik usaha ArTez Wedding Organizer.

Ibu dari Yuzza Pramudya Anwar (10 ) dan Annasya Azkadina Tezza (6) ini, menjadi akademisi sejak tahun 2010, diawali sebagai dosen kontrak di Universitas Widyatama. Tahun 2012, Ayuningtyas Yuli Hapsari diangkat menjadi dosen tetap Yayasan Widyatama.

“Ayah saya berprofesi sebagai dosen Kopertis yang mengajar di salah satu PTS di Bandung. Saya tidak langsung terjun di dunia akademisi.  Setelah lulus S1, saya sempat mencoba bisnis dengan menjadi reseller, dan membuka kantin untuk mahasiswa sambil melanjutkan S2 di MM Unpad.

  Lulus MM, saya menjadi praktisi, dengan bekerja di salah satu management mall di Bandung, yakni pada bidang event promotion dan leasing (sewa unit / toko). Sesudah itu, saya mulai mencoba masuk ke dunia akademisi, mengikuti jejak ayah dan suami.

Profesi saya saat ini, mungkin saja ada kaitannya dengan latar belakang keluarga besar saya yang notabene adalah akademisi,” cerita Ayuningtyas tentang awal perjalanan kariernya kepada BB, Selasa (15/05/18) di Bandung.

Seiring berjalannya waktu, maka sudah hampir 8 tahun Ayuningtyas menggeluti profesinya sebagai akademisi / dosen. Spesialisasi ilmunya adalah bidang marketing (pemasaran).

Ia mengaku, memilih spesialisasi marketing karena bidang ini unik, dan hampir semua bidang ilmu lain memiliki keterkaitan dengan marketing.

Selama 8 tahun menggeluti profesinya, Ayuningtyas sudah menghasilkan 5 jurnal nasional maupun internasional.

Ia juga membuat buku kerja untuk lingkungan internal Universitas Widyatama, yakni buku tentang mata kuliah, antara lain, Komunikasi Bisnis, Statistika Bisnis dan buku mengenai praktik MICE (Meeting, Incentive, Conference and Exhition).

“Yang paling berkesan untuk saya adalah, ketika saya meredesign modul kerja mata kuliah hitungan seperti Statistika Bisnis, karena memiliki tantangan tersendiri bila dibandingkan dengan mata kuliah non hitungan.

Ketika  kita akan membuat satu buku yang harus mudah dipahami oleh mahasiswa, maka hal ini tidaklah sesederhana yang kita bayangkan.

Kita harus bisa menyusun materi dan menjelaskan materi, agar mahasiswa yang tadinya tidak menyukai mata kuliah tersebut, bisa menjadi tertarik pada mata kuliah itu,” tutur Ayuningtyas Yuli Hapsari.

Penggemar warna hitam ini mengaku bahwa, ia sangat menghargai semua aspek bidang pekerjaannya.

Menurutnya, semua hal yang dialami selama menjadi akademisi, merupakan pengalaman yang menarik, terutama pengalaman pada saat menghadapi keberagaman mahasiswa dengan berbagai karakter.

Pengalaman negatif juga selalu ada, namun semua itu tergantung bagaimana cara kita untuk menyikapinya. Semakin banyak pengalaman negatif, maka kita akan semakin bijak dalam mengambil keputusan.

Memahami kepribadian seseorang

Dikatakan pula oleh Ayuningtyas bahwa, banyak manfaat yang didapat selama menggeluti profesi sebagai akademisi. Selain networking,  banyak pengetahuan lain yang kita peroleh, yang tidak kita dapatkan sebelumnya di bangku sekolah, yakni bagaimana cara memahami karakter dan kepribadian seseorang.

“Saya memberi kebebasan sepenuhnya untuk menentukan pilihan kepada anak didik. Saya tidak akan memaksakan mereka untuk menjadi apa, dan saya ingin mereka menjadi dirinya sendiri.

Suami dan kedua orang tua saya adalah yang paling berjasa dalam kehidupan serta karier saya.  Sebagai orang terdekat, mereka selalu mendoakan dan mensuport saya,” tutur Ayuningtyas

Akademisi berhijab modis ini mengaku bahwa, untuk meningkatkan kualitas diri dan profesinya, ia masih terus banyak belajar. Intinya, belajar tidak hanya dalam menjalani bidang akademisi. Belajar secara teori hanya mencakup 20%, dan sisanya, kita wajib belajar di lapangan dan terjun langsung ke masyarakat.

Serta melakukan survey, bahkan mencoba untuk memulai bisnis. Dengan demikian, kita akan dapat memahami keinginan konsumen. Selain itu juga, kita bisa mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kemampuan diri.

Ayuningtyas Yuli Hapsari menjelaskan juga bahwa, ilmu marketing selalu berubah seiring dengan perubahan jaman. Oleh karena itu, ilmu marketing harus selalu di‘update’, sesuai dengan perkembangan kondisi perekonomian di Indonesia, bahkan perekonomian global.

“Indikatornya dapat kita lihat dari permintaan konsumen yang ada di pasaran saat ini. Misalkan, produk ‘A’ sedang booming di pasaran, maka produsen atau bahkan reseller akan turut berlomba-lomba untuk menjual produk ‘A’, dengan mengambil margin profit yang paling murah, agar produknya laku dipasaran.

Indikator lainnya adalah, penetapan harga di pasaran.  Ketika produk ‘A’ mulai booming di pasaran, maka harganya akan mahal.

Namun ketika ‘supply product’’ nya sudah banyak, maka harga produk ini akan turun dengan sendirinya, dan kemudian berhenti di titik tertentu. Bila pengusaha sudah sampai pada titik seperti ini,  maka mereka harus segera melakukan inovasi untuk produk tersebut,” ujar Ayu.

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di dunia, dan menempati lima besar sebagai negara dengan konsumtif tertinggi.

Di satu sisi, hal ini sangat menguntungkan bagi pengusaha, terutama pengusaha baru. Para pengusaha ini akan terus berkembang usahanya, bila ada saling support antara pengusaha dengan konsumen.

Tingginya tingkat konsumtif Indonesia di mata dunia, disebabkan oleh mudahnya akses informasi dalam semua hal.

Mulai dari berita sehari-hari, serta mudahnya memperoleh produk yang diinginkan, baik  melalui offline store maupun online store, dan juga longgarnya regulasi yang ada di Indonesia.

Produk–produk dari luar Indonesia bisa dengan bebasnya beredar tanpa label halal, bahkan bila melakukan pembelanjaan online, pengiriman barang bisa dikirim langsung dari negara asalnya, misalnya China.

“Di satu sisi, hal tersebut sangat menguntungkan Indonesia, karena konsumen dimanjakan dengan kemudahan untuk melakukan pembelanjaan, terutama produk-produk yang dijual secara online.

Namun tanpa disadari, cara ini akan mematikan usaha yang dilakukan oleh offline store, yang efeknya berdampak hingga ke usaha penyewaan unit untuk retail (mall, ruko, toko, butik, dan lain-lain).

Para pengusaha offline store mayoritas berjualan juga di online store, dan menurut mereka, keuntungan yang diperoleh justru lebih besar dibandingkan dengan berjualan di toko. Hal inilah yang perlu dibenahi, agar regulasi pemerintah mempunyai payung hukum yang jelas,” ungkapnya.    (E-018)***