Indonesia yang Tertinggi di Dunia E-Commerce Belum Terkena Pajak

88

BISNIS BANDUNG- Pengamat Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama, Ayuningtyas Yuli Hapsari, S.IP.,.M.M mengatakan , pertumbuhan industri belanja online ( e-commerce)  di Indonesia semakin meningkat dan menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.

Merujuk kepada laporan Unlocking Indonesias Digital Opportunity, Ayuningtyas Yuli Hapsari menyebutkan , peralihan ke ranah digital akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga US$ 150 miliar dolar pada 2025.

Laporan itu menyebut pula, 73 % pengguna internet di Indonesia mengakses internet melalui perangkat selular. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah dalam lima tahun ke depan.

Dikatakan,pertumbuhan  belanja online oleh pelaku usaha dianggap menguntungkan, banyak pelaku usaha yang awalnya mereka membuka offline shop, pada akhirnya mengikuti tren  dengan membuka online shop, hal ini efektif untuk menambah profit bagi pelaku usaha.

“Umumnya pelaku usaha yang memanfaatkan jasa belanja online sebagian besar bergerak di sektor kebutuhan primer, seperti makanan dan minuman, fashion, aksesoris wanita, buku dan kosmetik,” tutur Ayuningtyas

Dikatakan,  Di Indonesia konsumen yang memanfaatkan jasa belanja online berasal dari kalangan menengah keatas khususnya B2C (Business to Consumer), tepatnya konsumen  perorangan dengan mobilitas tinggi yang tidak memiliki waktu untuk berbelanja offline shop.

Namun dibalik itu, lanjut Ayuningtyas, akses jasa belanja online, telah mengancam keberadaan pelaku usaha konvensional, apabila pelaku usaha konvensional tidak mau dan tidak bisa beradaptasi dengan kondisi perdagangan e-commerce saat ini.

“Sebagai gambaran, para pengguna internet di dunia membelanjakan uangnya sekitar US$ 5,6 miliar (setara Rp 75 triliun) di perdagangan e-commerce, di Indonesia rata-rata membelanjakan uangnya Rp 3 juta/tahun, tidak menutup kemungkinan dengan maraknya promosi yang ditawarkan serta bertambahnya online shop akan meningkatkan pembelanjaan konsumen e-commerce setiap tahunnya,”ungkapnya.

Sejalan dengan pertumbuhan e-commerce diperlukah payung hukum untuk melindungi konsumen yang memanfaatkan jasa belanja online.

Dijelaskan Ayuningtyas, payung hukum sangat perlu, sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan PP nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE).

Konsumen situs belanja online perlu untuk dilindungi mengingat pertumbuhan e-commerce di Indonesia makin meningkat, untuk meminimalisir penipuan terhadap konsumen.

Situs tanpa batas   

Dikemuikakan Ayu , saat ini situs jual beli online merupakan situs tanpa batas yang dapat diakses oleh siapapun ,  karena itu pelaku usaha jual beli online hendaknya lebih cermat dan peka dalam pesatnya perkembangan e-commerce.

Keberadaan akses belanja online sangat menguntungkan bagi perekonomian regional dan nasional, sebab itu pemerintah  harus mulai menertibkan situs jual beli online.

“Selain itu sudah harus diberlakukan pajak bagi pelaku usaha di sektor belanja online, karena saat ini diduga marak pelaku usaha online  yang tidak terdaftar sebagai wajib pajak,” ucap Ayu, Senin (14/5/18).

Dikemukakan Ayu, pelaku e-commerce (belanja online), perlu mengetahui , antara lain : Target konsumen yang akan dituju, keperluan konsumen disesuaikan dengan produk yang dijual.

Gambar produk harus menggunakan resolusi tinggi, sehingga pada saat konsumen mengakses gambar tersebut tidak mudah pecah dan dapat terlihat jelas Informasi yang diberikan mengenai produk yang dijual harus jelas, jujur, dan transparan karena tampilan produk yang dijual di situs belanja online terkadang tidak sesuai dengan produk sebenarnya pada saat diterima oleh konsumen.

Misalnya produk secondhand, harus diinformasikan bila ada bagian-bagian yang defect (cacat), kotor, memerlukan laundri dan lain sebagainya. Navigasi yang sederhana sehingga memudahkan konsumen dalam menelusuri katalog produk.

Menyediakan kantong belanja untuk memudahkan konsumen melakukan pembelian lebih dari satu item produk, selalu melakukan update informasi apabila ada produk yang terjual, sediakan beberapa pilihan pembayaran, misal melalui COD, debit, credit card dan lainnya.

Apabila memungkinkan konsumen dapat diberikan ongkos pengiriman gratis, missal untuk pembelian minimal sekian atau hari-hari tertentu.  Tampilkan nomor kontak yang mudah dihubungi, kalau bisa lebih dari satu.

“Konsumen yang cerdas  harus memperhatikan  saat  mengakses situs belanja online, di antaranya memastikan identitas dan reputasi penjual , memastikan testimoni positif dari setiap konsumen yang pernah melakukan pembelian di situs tersebut, selalu meminta resi pengiriman dan jangan mudah tergiur dengan diskon dan promo, karena bisa jadi harga online shop lebih mahal dibandingkan dengan harga offline shop,” pungkas Ayuningtyas.  (E-018)***