Bom, Pariwisata, dan Investasi

21

KETIKA orang bergembira menyambut datangnya Ramadan, bangsa Indonesia justru diliputi duka mendalam. Ketika orang bersiap-siap melaksanakan ibadah saum, bangsa Indonesia justru harus siap dan siaga menghadapi terorisme.

Peristiwa teror diawali dengan kerusuhan di Mako Brimbob, Kelapadua, Depok, berlanjut dengan peristiwa dilumpuhkannya empat orang teroris di Pasirhayam, Cianjur.

Puncaknya terjadi di Surabaya. Tiga gereja, ketika umat Kristiani tengah beribadah, misa pagi, bom bunuh diri meledak di tiga tempat secara beruntun. Disusul ledakan di Sidoarjo.

”Mei kelabu” yang terjadi  di Gereja Santa Maria tak Bercela, menewaskan 5 orang. Ledakan di  Gereja Kristen Indonesia menewaskan 3 orang.

Kemudian ledakan di Gereja Pantekosta Pusat, menewaskan 5 orang. Ledakan juga terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo yang menesakna 1 orang.

Terakhir, ledakan bom terjadi di Mapolres Surabaya Tragedi bulan Mei itu semunya menewaskan 14 orang dan melukai 43 orang. Dari 14 orang tewas itu 8 di antaranya, diyakini sebagai pelaku bom bunuh diri.

Indonesia yang tengah melangkah ke tingkat perekonomian yang lebih maju,  justru harus terganjal dengan  peristiwa terorisme yang beruntun. Meskipun secara fisik dan psikis, bangsa Indonesia tidak merasa khawatir bahkan takut terhadap teroriosme, ada juga kekhawatiran terhadap dampak ledakan bom beruntun itu.

Dikhawatirkan, peristiwa di luar batas kemanusiaan itu—sepetrti dikatakan Presiden Joko Widodo—justru berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Biasanya, peristiwa yang menyangkut stabilitas keamanan itu, dapat mengerem laju investasi atau penanaman modal luar negeri.

Kaum investor tidak akan membatalkan invesatsinya di Indonesia. Akan tetapi bisa jadi mereka agak mengerem invesatasinya.

Bisa saja terjadi pengurangan volume masuknya modal. Sektor yang dikhawatirkan tersendat, ialah pariwisata. Dikhawatirkan kunjungan wisata terpengaruh peristiwa teror. Para wisatawan dipastikan memilih negara tujuan wisata yang dinilainya aman.

”Kita berharap peristiwa tersebut tidak menyebabkan negara lain mengeluarkan travel warning atau travel ban,”  kata Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Jabar, Budijanto Ardiansjah, sepertri dimuat {PR 14/5).

Menusut Budijanto, sampai sekarang belum ada wisatawan mancanegara yang membatalkan kunjungannya ke Indonesia.

Baru ada yang meminta jaminan keamanan. Namun penanganan terorisme di Indonesia selalu cepat dan itu mendapat penilaian baik dari pers mancanegara. Dampaknya, kaum investor dan buyers pariwisata masih menaruh kepercayaan tinggi terhadap Indonesia.

Mereka menilai, Indonesia memiliki masa depan perekonomian yang sangat cerah. Indonesia masih memiliki daya tarik hampir semua kaum investor dari berbagai negara.

Pemerintah menjamin, terorisme merupakan musuh bersama bangsa Indonesia Secara bersama-sama pihak keamanan dan masyarakat dapat segera menumpas terorisme dalam bentuk apapun.

Masyarakat pelaku ekonomi di Indonesia tidak usah khawatir. Investor mancanegara sama sekali tidak terpengaruh dengan terorisme seperti itu. Apalagi kalau kaum investor tahu, pemerintah dalam hal ini kepolisian bertindak cepat. Pemerintah dan masyarakat bertekad, tanpa rasa takut, serempak melawan terorisme.

 Pihak keamanan, selain butuh dukungan masyarakat, juga berharap segala tindakan baik pencegahan maupun penumpasan harus memiliki payung hukum. Sampai peristiwa Surabaya, regulasi itu belum tuntas.

Agar dampak terorisme tidak menyasar ke sektor ekonomi dan pariwisata, undang-undang anti-terorime itu harus segera diundangkan.(NetSum) ***