Neraca Perdagangan Defisit Lagi

82

PADA bulan April 2018 neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit 1,63 miliar dolar AS padahal Maret 2019 justru surplus 1,1 miliar dolar AS. 

Defisit itu terjadi hampir tiap bulan pada kuartal I tahun 2018, Januari, Februari, dan April, kecuali Maret,  akibat beberapa faktor, antara lain meningkatnya nilai impor, menurunnya nilai ekspor, dan fluktuasi harga beberapa komoditas ekspor.

Nilai impor meningkat signifikan pada awal tahun, terutama April dan mungkin juga Mei dan Juni. Sebetulnya, kenaikan  nilai impor itu selalu terjadi menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Kenaikan impor terutama terjadi pada bahan pakain dan konsumsi. Menurut catatan BPS, impor mengalir dari Tiongkok berupa filamen atau benang untuk bahan baku pembuatan tekstil.

Impor filamen Tiongkok itui mencapai  320,82 juta dolar AS. Sedangkan konsumsi berupa buah-buahan (pir dan apel), bawang putih, daging beku, dan beras Impor bawang putih pada April 2019 mencatat angka tertinggi yakni 61,5 juta dolar AS.

Masuknya komoditas impor bukan hanya dari Tiongkok tetapi juga dari Amerika Serikat, Australia, dan Thailand. Nilai impor pada April 2018 melonjak hingga 11,28% (16,09 miliar dolar AS) dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Sedangkan nilai ekspor April 2018 turun 7,19% dibanding bulan sebelumnya. BPS merilis angka ekspor Indonesia  April 2018 hanya 14,47 miliar dolar AS.

Defisit neraca perdagangan yang terus meningkat berpengaruh sangat besar terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Apalagi kalau impor itu didominasi barang konsumen seperti buah-buahan, daging, dan beras.

Semua komoditas itu, secara kuantitas,  cukup tersedia di Indonesia. Begitu pula sandang, selama ini Indonesia merupakan pengekspor tekstil dan produk tekstil. Artinya Indonesia mampu memenuhi kebutuhan sandang dalam negeri.

Benar,  kenaikan nilai impor yang tinggi itu tidak didominasi barang konsumsi. Menurut BPS, kontribusi impor barang konsumsi hanya 9,39%, lebih kecil dari impor barang modal yang mencapai 16,29%.

Impor terbesar April 2018 didominasi bahan baku mencapai 74,32%. Namun nilai impor barang konsumsi dan sandang sebetulnya masih dapat ditekan. Susahnya, pola konsumsi masyarakat Indonesia, sulit diubah.

Baik pangan maupun sandang, barang impor masih tetap lebih disuklai masyarakat. Dampaknya, kontribusi  sandang lokal makin menurun.

Selain itu, dalam perdagangan barang konsumsi, tekstil dan produk tekstil, juga barang sekunder seperti mainan anak-anak, sering terjadi masuknya barang luar negeri secara illegal.

Sebetulnya dalam perekonomian, makin besarnya impor barang modal dan bahan baku, bernilai positif. Hal itu berarti, industri tumbuh signifikan. Indonesia belum mampu menyediakan barang modal dan bahan baku industri.

Diprediski, produk industri dan manusfaktur akan tumbuh dan berkembang. Ke depan, Indonesia akan berbicara banyak pada ekspor produk manufaktur.

Nilai ekspor barang jadi, jauh lebih tinggi bahkan bergengsi dibanding ekspor komoditas tradisional, seperti hasil pertanian, perkebunan, dan hasil hutan.Tidak berarti peningkatan produkstivitas dan mutu komoditas tradisional itu harus diabaikan.

Kita punya kopi, kakao, teh, umbi-umbian, dan komoditas nonmgas lainnya. Kitta semua, khususnya pemerintah wajib membimbing para petani. Selain meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya, mereka juga diarahkan mengalihkan hasil pertanian itu menjadi bahan baku industri, bahkan hasil industri yang laik guna dan laik ekspor. ***