Peternak Jangan Paksakan Menjual DOC ke Pasaran

35

BISNIS BANDUNG- Para peternak ayam di Jawa Barat diimbau dalam  bulan Ramadan ini tidak memaksakan diri memasukan Day Old Chicken (DOC)  atau ayam umur sehari  ke pasaran. Sebab,  nantinya  harga ayam potong akan melambung.

“Saya berharap para peternak gak usah jor-joran masukin DOC sekarang ini karena susah nanti jualnya. Jika terus dilakukan, tidak akan menutup biaya produksi. Belum lagi bibitnya susah,”kata Anggota Komisi II DPRD Jabar, Heri darmawan kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Sebaiknya, peternak mendistribusikan ayam potong ke pasar dari DOC ayam yang telah diternak beberapa bulan sebelum puasa atau yang sedang dipanen. Sebab harganya masih relatif terjangkau di kisaran Rp5000 per kg. Sehingga ketika masuk pasar, pedagang punya laba Rp1500 per kg.

Saat ini, harga ayam di kandang Rp 22,500, ketika sampai di pedagang ditambah biaya tranpor menjadi Rp25.000. Lalu, dipotong penyusutan sebesar 30% tanpa hilang kaki, kepala dan jeroan. Maka harga di pasar nanti maksimal Rp36.000 per kg.

Modal peternak diperkirakan sampai Rp20.000. Sedangkan saat panen sekarang harga bibitnya cenderung terus meningkat.

Harga bibit DOC yang Rp5000 tersebut di atas belum termasuk pakan ayam yang harganya sekitar Rp7000. Tentu, pemakaian pakan sendiri lebih boros karena pakan ternak sudah tidak boleh lagi memakai AGP (Antibiotic Growth Promoter) sebab dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi manusia.

“Jadi 1 kg ayam butuh pakan 1,7 kg. Dengan harga Rp22.500 ini peternak ada untung 1500 per kg. Keuntungan ini mudah-mudahan bisa bertahan. Karena kalau masukin sekarang harga bibitnya sudah Rp7000 per kg dan harga modal di kandang  bisa sampai Rp23.000,” jelas Heri.

Menurutnya, eksistensi ayam selama 3 bulan terakhir ayam sudah bagus karena ditopang oleh peraturan pemerintah. Di antaranya Permentan nomor 32 dan Permendag nomor 27.

“Tapi implementasinya butuh dukungan dari provinsi dan kabupaten/kota. Di Provinsi Jabar  belum ada aturan tentang perunggasan. Pemprov selama ini hanya melaksanakan perintah dari pusat padahal Jabar ini gudangnya unggas di Indonesia. Hampir 50% ada di  provinsi ini,”ucapnya.

Usaha peternakan ayam semakin bergairah.  Peternak berlomba-lomba untuk melakukan chick in (memasukan DOC ke kandang) karena mengejar prediksi harga broiler (ayam pedaging) hidup (live bird) akan bagus pada saat bulan puasa dan Lebaran.

Harga DOC pembelian melalui broker di Januari diangka Rp 4.600 per ekor, Februari mulai merangkak menjadi Rp 5.600 per ekor, dan di Maret sudah mencapai Rp 6.200 per ekor dan harga tertinggi di Rp 6.800 per ekor.

“Kalau pembelian DOC dari hatchery bisa saja lebih murah tetapi kondisinya pasokan DOC susah di dapat,” tuturnya.

Sumber Bisnis Bandung menyebutkan DOC susah di dapat karena breeding farm sering  bermasalah terkena penyakit seperti AI (Avian Influenza/flu burung). Juga persoalan lain yang menyebabkan penurunan produksi dikisaran 30 – 50 %.

“DOC juga banyak dibeli perusahaan integrasi yang memiliki internal farm atau kemitraan sehingga DOC yang biasa dijual lepas ke pasaran berkurang pasokannya.(B-002)***