Proyeksi Kebutuhan Uang Kertas Ramadan di Jabar Rp 12 Triliun

44

BISNIS BANDUNG- Kantor Perwakilan  (KPw)  Bank Indonesia Jawa Barat menyiapkan  ketersediaan uang kas  selama bulan  Ramadan dan Lebaran 1439 Hijriah.

Dan salah satu langkah  yang dilakukan  pada  Maret  2018,   KPw BI Jabar telah meminta seluruh  kantor perbankan untuk menghitung kebutuhan uang selama periode Ramadan dan Lebaran 1439 H.

“Kemudian  menghitung kembali proyeksi kebutuhan perbankan tersebut dan melakukan rekapitulasi jumlah keseluruhan kebutuhan Perbankan yang telah disampaikan,” ungkap Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi KpW BI Jabar, Ismet Inono kepada wartawan, Selasa pekan ini di Kota Bandung.

Ismet menambahkan BI melakukan koordinasi dengan KPBI dan KPwDN di bawah koordinasi KPw Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat untuk menambah persediaan kas di KPw Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat.

Sedangkan  proyeksi kebutuhan Ramadan tahun 2018 berjumlah Rp11,92 triliun. Proyeksi kebutuhan  tersebut  meningkat sebesar Rp 440 miliar atau 3,8%, dibandingkan realisasi pemenuhan kebutuhan Ramadan tahun  2017sebesar Rp11,48 triliun.

“Bank Indonesia akan memenuhi sesuai dengan yang diperlukan oleh perbankan dan masyarakat,” katanya.

Adapun, langkah-langkah strategis dalam penanganan uang palsu, KPw BI Jabar telah bekerjasama dengan Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan untuk menanggulangi pemalsuan uang.

Selain itu KPw BI Jabar terus melakukan edukasi secara intensif baik di perkotaan maupun di desa-desa untuk memberikan informasi terkait ciri-ciri keaslian uang Rupiah.

Sehubungan dengan pelaksanaan  Pilkada  Serentak tahun  ini dilakukan penambahan kegiatan edukasi keaslian uang rupiah di 16  Kota/Kabupaten . Kegiatan sosialisasi direncanakan menjadi 83 kali mengingat selama Pilkada Jabar ditengarai  adanya uang palsu yang  meningkat.

Adapun program kerja Edukasi Keaslian Uang Rupiah KPw BI Provinsi Jawa Barat dijadualkan sebanyak 48 kali, bekerjasama dengan pihak kecamatan di wilayah Kab/Kota.

Menyoroti  beberapa  komoditas yang menyumbang inflasi selama bulan Ramadan, ia menyebutkan   seperti daging ayam ras, bawang  putih, bawang merah, telur ayam ras, beras dan tarif angkutan.

Perkembangan inflasi tersebut terjadi saat memasuki Ramadan  yang disebabkan  sejumlah harga bahan makanan terpantau  meningkat.

Kantor Perwakilan (KpW) Bank Indonesia Jawa Barat mencatat sampai dengan bulan April 2018 inflasi Jawa Barat sebesar -0,04% (mtm) atau secara kumulatif Januari hingga April, inflasi Jawa Barat sudah mencapai 1,45% (ytd) dari target 3,5% ± 1.

Ismet Inono menyebutkan selama  empat  tahun terakhir, komoditas yang menyumbang inflasi pada bulan suci Ramadan dan Idul Fitri antara lain daging ayam, telur ayam dan  bawang  serta  bahan bakar rumah tangga.

Untuk mengantisipasi adanya lonjakan harga yang ekstrem dan berpengaruh terhadap inflasi, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan, antara lain Operasi Pasar Murah, Pengamanan Stok oleh Bulog, Pengawasan penerapan tarif batas atas dan bawah di terminal dan agen dan melibatkan Forum Ulama.

“Selain itu dilakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai belanja secukupnya sesuai kebutuhan,” tuturnya. (B-002)***