Heboh Mobil Listrik Jangan Matikan Industri Otomotif Indonesia

97

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi, mengungkapkan kekhawatirannya bila pemerintah langsung memutus penjualan mobil konvensional untuk beralih ke listrik.

“Kalau sekarang peraturannya membatasi combustion engine, kendaraan berbahan bakar minyak, harus berhenti dijual di 2040, celaka kita,” katanya.

Bukan tanpa sebab, industri otomotif Indonesia saat ini masih bergantung dengan mesin pembakaran internal bisa gulung tikar. Ia tak menampik  bahwa kendaraan listrik menjadi masa depan industri otomotif. Tapi alangkah baiknya kalau perubahan itu dilakukan secara bertahap.

“Kenapa kok malah dimatiin? Kalau bisa jangan dimatiin terlebih dahulu, kalau memang sudah menjanjikan (prospek mobil listrik), baru berjalan saja bersama,” tutur Nangoi.

Nangoi mengungkapkan, tidak kurang dari 1,2 juta orang bergantung nasibnya di industri otomotif. Selain itu, sektor ini juga memberikan kontribusi terhadap neraca perdagangan dalam negeri.

Dalam sambutannya pada pembukaan IIMS 2018, Presiden Joko Widodo mengatakan kebutuhan komponen terhadap mobil listrik lebih kecil dibandingkan yang menggunakan mesin konvensional. Dia menyebut bahwa mobil berbasis baterai kebutuhan komponennya satu per sepuluh, menciut 90 %.

Dijelaskan  Nangoi ,pasar mobil listrik masih sangat kecil.  Dari 5 juta unit mobil yang terjual per bulan, baru 30 ribu unit di antaranya yang berbasis listrik.

“Kalau saya bilang peraturannya kita benahin, jadi peraturan yang mendukung ke kendaraan yang low emission itu harus kita dorong. Nah, ini akan menumbuhkan mobil-mobil hybrid dan plug-in hybrid, juga electric vehicle (EV) nantinya,”  kata Nangoi.

Produksi Mobil Listrik Harus Siapkan Dulu Baterainya

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) ini  mengomentari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengirimkan surat rekomendasi tentang program percepatan kendaraan listrik nasional ke Presiden Joko Widodo.

Menurut dia, usulan soal Indonesia yang harus bisa memproduksi mobil listrik sendiri dengan merek nasional sangat positif. Tapi, ia pun menyarankan sebelum membuat produknya mobil/motor listrik, secara massal ada baiknya industri baterai di dalam negeri dibangun terlebih dahulu.

“Indonesia mau membuat mobil listrik boleh, tapi yang terutama harus bikin baterainya dulu. Nah, ini kami  sangat senang, karena artinya kita jadi negara elit pembuat baterai. Tapi harus diingat juga kalau pakai lithium, Indonesia enggak punya (bahan bakunya) dan harus impor semua dari Bolivia, China,” kata Nangoi di sela-sela acara Press Conference GIIAS 2018, Selasa (22/5).

Dengan menguasai riset dan pengembangan baterai hingga ke industri, lanjut Nangoi, akan memberikan lapangan kerja baru khususnya untuk bidang riset hingga memikirkan bagaimana pengolahan dari limbah baterai itu sendiri.

 “Jika membicarakan mobil listrik jangan bicarakan mobilnya dulu tapi baterainya terlebih dahulu. Kalau kita membicarakan mobil listrik nasional dan semuanya serba impor lalu apa yang kita buat cangkangnya doang?” ujarnya.

Fokus pada baterai listrik ini juga semakin penting mengingat dalam mobil listrik, baterai ini harus didaur ulang setelah dipakai 10-15 tahun. Mengingat sulitnya hal ini, sampai sekarang baru ada satu atau dua negara yang bisa melakukannya.

Sehingga kalau Indonesia mau dan bisa fokus membuat dan mendaur ulang baterai mobil listrik tentu akan menjadi keuntungan tersendiri. (E-002/BBS)***