Kreativitas Warga Binaan Tak Bisa Dibatasi Jeruji Besi

11

PENDIRI Yayasan Second Chance Evy Amir Syamsuddin berusaha memperkenalkan sisi lain dari lembaga pemasyarakatan. Stigma negatif kerap melekat dalam diri para warga binaan.

Evy yang merupakan istri Amir Syamsuddin, mantan Menkum HAM era Susilo Bambang Yudhoyono ini berusaha memperkenalkan kreasi warga binaan ke dunia luar. Evy melihat karya warga binaan berpotensi besar menembus batas negara.

Bermodal kemampuan yang para warga binaan dapatkan selama di lapas, bermacam karya seni kriya, seni pertunjukan, maupun produk kuliner seperti roti, mereka hasilkan. Hal inilah yang Evy tuangkan dalam buku keduanya bertajuk ‘Made in Prison’. Dia berharap bisa mengubah pandangan masyarakat terhadap warga binaan.

“Ketika mereka terkurung dalam penjara, akses informasi kepada masyarakat terbatas, sehingga masyarakat belum tahu mereka punya potensi luar biasa sekalipun posisi mereka terbatas,” ujar Evy.

Evy bergelut dengan warga binaan sejak dia menemani suaminya menjadi menteri beberapa tahun lalu. Lapas demi lapas dia sambangi. Di sana dirinya tersadar, bahwa meski kehidupan warga binaan dibatasi oleh jeruji besi, namun pemikiran dan kreativitas tetap bebas.

“Mereka terkurung tetapi tak bisa mengurung pemikiran dan kreativitas,” imbuhnya.

Seseorang di penjara, menurut dia bukan berarti hidupnya berhenti di sana. Namun memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

“Tak mungkin memenjarakan pemikiran seseorang. Terutama para wanita sebagai pembina generasi penerus punya peran penting dalam kehidupannya,” ucapnya.

Tak hanya lewat buku, Evy juga berupaya menyebarluaskan kreativitas warga binaan lewat pameran kesenian kesenian. Dia membuat pameran level bertajuk ‘napicraft’ agar publik bisa berkenalan dengan karya warga binaan. Responsnya, menurut Evy, sangat baik dan banyak yang tertarik dengan hasil karya tersebut.

“Respons cukup baik yang tidak tahu jadi tahu. Produk warga binaan tidak dipandang sebelah mata lagi,” ucapnya.

Dalam peluncuran buku ini, para warga binaan unjuk kebolehannya. Mereka menampilkan tarian-tarian ala Indonesia, serta musik di atas panggung bersama beberapa musisi berkewarganegaraan asing. Tak canggung, penampilan memukau mereka sajikan kepada penonton yang juga banyak dihadiri para warga internasional.

“Kita ingin menunjukkan menampilkan walaupun mereka adalah warga binaan, mereka mampu melakukan kolaborasi dengan musik internasional,” tutup Evy. (c-003/bbs)***