Dari Mana Dananya?

85

TINGGAL  menghitung hari, sesaat lagi, masa kampanye Pilkada Seremtak 2018 akan usai.

Kita sudah melihat dan mendengar dinamika kampanye para calon. Semuanya mengemukakan visi-misi dan berbagai janji politik.

Dari rencana yang  fantastis sampai rencana amat sederhana, terartikulasi di atas panggung kampanye. Pendidikan, ekonomi, industri,  merupakan isu yang paling banyak dijadikan tema kampanye.

Akibat berbagai rencana “andaikan terpilih” masyarakat merasa betapa besarnya tiupan angin surga.  Masa kampanye yang menghabiskan waktu cukup panjamg itu, merupakan ”ruang pamer andai-andai” yang sangat mengagumkan.

Disebut mengagumkan karena semua yang dikampenyekan itu berlabel  ”andai kata”. Kita juga melihat, semua rencana atau janji yang diampanyekeun para calon, merupakan stabilo atau penggarisbawahan, isu baku.

Semuanya sudah dikampanyekan bahkan sudah dilaksanakan secara sukses oleh pejabat-pejabat yang akan mereka gantikan kelak.

”Untuk kesejahteraan rakyat”, “pendidikan gratis“, ”menurunkan angka  pengangguran”,  ”membangun infrastruktur”, dan sebagainya, sungguh sudah sangat jenuh.

Semuanya sudah menjadi rencana induk, baik pemerintah pusat maupun daerah. Bahkan hampir semuanya sudah dilaksanakan dan mencapai titik-titik sasaran atau target yang sudah ditentukan.

Pembangunan di Provinsi Jawa Barat secara umum sudah dilaksanakan sesuai rencana. Gubernur yang akan datang, tinggal menyelesaikan masalah-masalah teknis dan nonteknis yang belum rampung.

Dalam hal inftrastruktur, masalah paling pelik yang dihadapi pemerinrah ialah masalah pembebasan lahan. Bagaimana upaya gubernur yang akan datang melakukan pendekatan terhadap warga, baik secara regulasi maupun komitmen, agar lahan bagi pembangunan tidak selalu menjadi hambatan.

Masalah urgen yang menjadi tantangan palingbesar, terutama bagi pemerinah pusat, ialahterjadinyaRevolusi Industri Jilid keempat, yang seering disebut revolusi 04.0.

Bagaimabn Pemda menyikapi revolusi industri mahadahsyat itu tanpa harus mengorbankan para buruh dan merusak lingkungan hidup.

Sebetulnya ada dua masalah teknis dan nonteknis yang seharusnya menjadi isu kampanye dalam menyelesaikannya. Pertama masalah dana.

Dari mana pemda mencari dana untuk melaksanakan pembangunan dan menyejaterakan rakyat? Kalau hanya menanti transfer dari pusat, semua orang juga akan mampu menjadi pemimpin.

Kita nyaris tidak mendengar, apa kiat yang akan dilaksanakan cagub/cawalkot/cabup/ mendulang dana untuk berbagai proyek pembangunan.

Untuk meningkatkan kesejahteran petani, buruh, dan nelayan? Yang selalu kita dengar, adalah rencana dan janji politik tentang rencana pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat yang ”fantastis”.

Hampir tidak ada masalah “kecil” yang dapat dilakukan pemda dan rayat tetapi berdampak ekonomi cukup tinggi. Kalaupun ada, justru dianggap elit politik sesuatu yang recehan.

Masalah kedua tumbuhnya komitmen berupa semangat melawan keinginan memperkaya diri atau orang lain dengan cara koruptif. Apa saja kiat yang akan dilakukan para calon dalam menutup semua kebocoran.

Kita tidak mendengar komitmen para calon dalam menditeksi dini terjadinya penyelewengan. Pencegahan korupsi tidak cukup dengan menaikkan gaji para pegawai atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat saja.

Terbukti, para koruptor yang kini berada di LP, hampir semuanya orang-orang yang berkecukupan. Jumlah kekayaannya fantastis, kedudukannya cukup tinggi.

Apabila calon memiliki kiat mujarab menyelesaikan dua buah tantangan itu saja, ia akan mampu mengatasi tantangan lain, seberat apa pun. **