Uniknya Masjid Agung Demak Dibangun Dari Pagi Sampai Subuh

63

Masjid Agung Demak merupakan Masjid tertua di Pulau Jawa. Didirikan oleh Wali Sembilan atau Wali Songo.

Lokasi Masjid berada di pusat Kota Demak, berjarak ± 26 km dari Kota Semarang atau ± 25 km dari Kabupaten Kudus dan ± 35 km dari Kabupaten Jepara. Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak.

Struktur bangunan Masjid mempunyai nilai historis seni bangun arsitektur tradisional khas Indonesia. Wujudnya megah, anggun, indah, karismatik, mempesona dan berwibawa.

Masjid ini dibangun sekitar abad ke-15  oleh Sultan pertama dari Kesultanan Demak bernama Raden Patah, serta para Wali Songo yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa. Konon pembangunan masjid tersebut selesai dalam waktu tak lebih dari sehari. Dari pagi sampai  subuh.

Raden Patah serta Wali Songo berbagi-bagi tugas dalam membangun masjidini . Ada 4 Wali  yang ditugaskan mencari tiang penyangga dari kayu jati, yaitu Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga. Ke empat tiang itu disebut Soko Guru atau Tiang Utama.

Dari ke empat tiang, ada satu yang cukup unik,  dibuat dari serpihan-serpihan kayu yang disebut soko tatal. Ini adalah tiang yang dibawa atau dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Soko tatal artinya serpihan kayu digabung menjadi satu menjadi berupa tiang. Waktu itu sudah hampir subuh. Tapi tiang punya Sunan Kalijaga itu kurang. Jadi potongan kayu ditumpuk, dijadikan satu terus diikat.  Kini Masjid Agung Demak difungsikan sebagai tempat peribadatan dan ziarah.

Penampilan atap limas piramida masjid ini menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagian ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, bertuliskan “Condro Sengkolo” yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani .

Pintu Bledheg, pintu ini konon diyakini mampu menangkal petir  merupakan ciptaan Ki Ageng Selo pada zaman Wali. Peninggalan ini merupakan prasasti “Condro Sengkolo” yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M atau 887 H.

Mihrab atau tempat pengimaman, didalamnya terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti “Condro Sengkolo”. Prasasti ini memiliki arti“Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M (hasil perumusan Ijtihad).

Di depan Mihrab sebelah kanan terdapat mimbar untuk khotbah. Benda arkeolog ini dikenal dengan sebutan Dampar Kencono warisan dari Majapahit.

Serambi depan Masjid Agung Demak berbentuk bangunan terbuka dengan tiang-tiang ukiran yang memiliki bentuk menarik sebagai penyangganya. Disana juga terdapat dua bedug berukuran 3,5 x 2,5 m.

Masjid dengan arsitektur nusantara yang khas ini mempunyai atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki.

Atap masjid berbentuk limas  memiliki makna , bahwa seorang beriman perlu menapaki tiga tingkatan penting dalam keberagamaannya, yakni iman, islam, dan ihsan. Bagian pintu masjid memiliki lima buah pintu yang bermakna rukun Islam , yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.

Sementara rukun iman tercermin dari jendela masjid yang memiliki enam buah jendela.Ketika berkunjung, selain bisa beribadah pengunjung juga bisa ziarah ke makam muslim di kawasan masjid.

Ada makam Raden Patah, Syekh Maulana Magribi dan lain-lain. Selain itu ada pula Museum Masjid Agung Demak yang dikunjungi setiap hari Sabtu-Kamis mulai pukul 08.00 sampai 16.00 WIB. (E-001) ***