Gojek Berpeluang Gerus Bisnis Grab di Asia Tenggara

77

DOMINASI Grab dalam penyediaan transportasi daring di delapan negara Asia Tenggara tidak menyiutkan nyali Gojek untuk melakukan ekspansi. Gojek bahkan dinilai berpotensi menggerus bisnis Grab.

Rencananya, Gojek akan berekspansi di empat dari delapan negara tersebut, yakni Vietnam, Thailand, Singapura, dan Filipina. Ekspansi ini didukung dengan suntikan dana yang cukup fantastis dari investor lokal maupun global yang mencapai US$500 juta atau sekitar Rp7,1 triliun.

Pengamat Teknologi Informasi dari Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Heru Sutadi mengatakan Gojek dianggap memiliki potensi di mata para investor untuk bersaing dengan Grab di negara lain.

“Gojek dinilai punya potensi untuk bersaing di negara lain. Gojek juga memiliki tim yang kuat untuk ekspansi,” ujar Heru saat dikonfirmasi wartawan, Sabtu (26/5).

Investor dinilai percaya Gojek mampu meruntuhkan kedigdayaan Grab di Asia Tenggara. Oleh karena itu, mereka pun berani menyuntikkan dana ke Gojek sebesar Rp 7,1 triliun.

Kendati demikian, Heru menilai Gojek harus mampu membaca kebutuhan dan permintaan calon pelanggan di setiap negara. Gojek dinilai membutuhkan tim yang mampu merumuskan strategi pasar setiap negara yang diekspansi.

Strategi Gojek harus bisa berasimilasi dengan negara setempat, baik dengan peraturan maupun budaya lokal.

“Tim yang tahu pasar dan kondisi di negara Asia Tenggara selain Indonesia. Mungkin di Thailand atau Kamboja tidak bisa karena mereka lebih menggunakan Tuktuk sehingga mungkin disesuaikan dari Gojek ke Gotuk misalnya,” kata Heru

Heru menilai setiap negara memilik jenis pasar yang berbeda-beda. Oleh karena itu Gojek harus bisa mencari strategi yang pas dalam melakukan ekspansi. Tentu saja variasi strategi ini harus tetap dikendalikan oleh kantor pusat agar tidak terjadi kesalahan koordinasi.

“Harus ada manajemen yang mengatur semua dari pusat juga. Bisa saja strategi lokal akan berbeda keinginan dengan kantor pusat. Kendali terpusat harus tetap dimainkan,” terang Heru.

Heru juga menilai sudah saatnya Gojek melakukan ekspansi. Pasalnya Grab yang berakuisisi dengan Uber, seolah bermain sendiri di lahan tranportasi daring di Asia Tenggara. Negara tersebut adalah Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja.

“Kalau kita lihat, kan, persaingan Gojek dan Grab sekarang di Indonesia. Grab besar di luar Indonesia, khususnya Asia Tenggara. Jadi saya pikir tepat jika Gojek juga ingin menguasai Asia Tenggara,” ungkap Heru.

Kendati demikian, Heru tidak memungkiri ada potensi kegagalan dalam ekspansi ini. Heru pun menyarankan Gojek untuk melakukan ekspansi secara bertahap. Keberhasilan ekspansi diperkirakan baru akan terlihat dalam satu hingga dua tahun ke depan.

“Potensi gagal juga bisa, seperti Uber masuk Indonesia gagal karena perlu penyesuaian dengan aturan lokal, melokalisasi layanan dan manajemen,” kata Heru.

Empat Negara

Perusahaan transportasi online asal Indonesia, Go-Jek secara terang-terangan mengungkapkan akan segera beroperasi di empat negara ASEAN dalam waktu beberapa bulan ke depan.

Keempat negara tersebut yakni Vietnam, Thailand, Singapura, dan Filipina.

Dalam upaya ekspansi tersebut, startup unicorn besutan Nadiem Makariem ini dikabarkan akan menggelontorkan dana investasi sekitar 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 7,6 triliun.

Investasi bisnis ini kabarnya juga akan melibatkan beberapa investor besar, yakni Astra Internasional, JD.com, Tencent, dan Temasek.

 “Orang-orang di Vietnam, Thailand, Singapura dan Fillipina merasa bahwa mereka tidak memiliki beberapa pilihan untuk menggunakan jasa transportasi online,” ungkap CEO Go-Jek, Nadiem Makarim sebagaimana diberitakan The New York Times dan dikutip BB, Senin (28/5/2018).

Go-Jek pun mengatakan bahwa pihaknya telah mulai berkoordinasi dengan regulator maupun pemangku kepentingan lainnya di ke empat negara ini untuk mempersiapkan operasional baru.

Go-Jek pun menegaskan bahwa perusahaan akan memberikan dukungan baik secara teknis maupun tenaga ahli untuk mengembangkan bisnis di empat negara tersebut.

Kemudian perusahaan di ke empat negara ini akan beroperasi secara mandiri untuk menentukan strategi bisnis masing-masing.

“Kami mengunjungi semua negara itu dan kami merasa solusi (transportasi) yang kami lakukan di Indonesia akan cocok untuk beberapa negara ini,” ungkap Presiden Go-Jek, Andre Soelistyo dikutip dari CNBC.

Kabar Go-Jek yang akan segera melebarkan sayap di luar Indonesia memang bukan berita baru. Kabar ini sudah mulai terendus sejak akhir tahun 2017 lalu.

Beberapa hari lalu terungkap bahwa Go-Jek akan mulai menjajaki Vietnam pada bulan Juli mendatang. Jika kabar ini benar, maka Vietnam bisa menjadi negara pertama dari empat negara lain yang akan mulai dijajaki oleh Go-Jek. (C-003/BBS)***