Infrastruktur Menjadi Poin Penting Untuk Kendaraan Listrik

86

Wacana untuk menjadikan kendaraan listrik sebagai sarana transportasi masa depan makin kuat gaungnya. Indonesia  bersiap-siap bergerak ke arah sana.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan pada tahun 2025 sebanyak 20 % dari mobil yang diproduksi di Indonesia adalah mobil rendah emisi, bisa mobil hybrid, plug-in hybrid, atau mobil listrik berbasis baterai.

Namun untuk menuju ke sana, tentu diperlukan persiapan agar kendaraan listrik dapat beroperasi dengan baik di Indonesia.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Warih Andang Tjahjono menjelaskan,  sedikitnya ada empat hal yang perlu diperhatikan, jika Indonesia mau mengembangkan kendaraan listrik.

“Ada empat pilar, customer, infrastruktur, regulasi, dan supply chain (rantai pasok),”kata Warih. Dari keempat hal tadi, mungkin infrastuktur menjadi salah satu yang perlu mendapat perhatian khusus karena nantinya akan secara langsung ditemui pengguna.

Infrastrukur memang menjadi salah satu hal yang kerap kali dipertanyakan kesiapannya, jika kita membicarakan kendaraan listrik. Tidak lagi menggunakan bahan bakar, kendaraan listrik akan memanfaatkan baterai yang dapat diisi ulang dayanya sebagai sumber energi.

Lebih lanjut Warih mengatakan, kalau yang dimaksud infrastruktur ini, juga tidak hanya soal tempat pengisian daya saja (charging station). Hal-hal yang menyangkut masalah purnajual dan servis juga perlu mendapat perhatian.

“Tapi sebenarnya infrastruktur bukan cuman charging station. Misalnya kendaraan konvensional servis dua jam, nanti kendaraan listrik servis juga harus dua jam. Kalau ngak, nanti ngak ada yang mau. Hal-hal seperti itu juga termasuk infrastruktur . Semua service juga termasuk equipment di bengkel,” ujar Warih.

Jangan lupa juga soal komponen kendaraan. Menurut Warih secara teori, ada sekitar 30 % komponen kendaraan yang berfokus pada permesinan yang  juga perlu dipersiapkan, baik rantai pasok maupun pemahaman teknologinya.

Gaikindo juga mengungkapkan,  sebaiknya Indonesia terlebih dahulu mempersiapkan diri untuk membangun kendaraan listrik sebelum bermimpi punya mobil listrik nasional. (E-002/BBS)***