BIJB Kertajati untuk siapa ? Oleh: YAYAT HENDAYANA

57

DALAM boarding pass (tanda masuk penumpang ke bandara) sebuah maskapai penerbangan,  Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) “Kertajati” yang ditandai denga KJT, disertai pula dengan kata “Cirebon”, sehingga memberi kesan bahwa BIJB “Kertajati” terletak di Kabupaten Cirebon, dan bukan di Kabupaten Majalengka.

Hal itu tentu saja menimbulkan kekecewaan para petinggi Kabupaten Majalengka. Majalengka protes keras. Majalengka  harus dikenal, tidak sja secara nasional melainkan juga secara Internasionalinternasional.

Ada kekhawatiran dari para petinggi Kabupaten Majalengka bahwa para turis, baik domestik maupun mancanagara, yang mendarat di BIJB “Kertaajti” akan berbondong-bondong ke Cirebon dan bukan ke Majalengka.

Padahal,  sebagaimana dituturkan oleh Sekda Kabupaten Majalengka, Diki Ahmad Sodikin, Majalengka mempunyai banyak objek wisata serta tempat olahraga paralayang yang bertaraf internasional.

Para petinggi Kabupaten Majalengka berharap agar keberadaan “Kertajati” berpengaruh positif bagi kotanya. Langkah-langkah yang dilakukan pengelola BIJB “Kertajati” selama ini, terkesan kurang memperhitungkan pengaruh positif bagi kota Majalengka itu.

Sejak awal, Bupati Majalengka, Sutrisno, kurang menyetujui pembangunan jalan tol Cisumdawu (Cileunyi, Sumedang Dawuan). Setidak-tidaknya ia menghendaki agar selain tol dibangun pula jalan biasa sebagai akses ke “Kertajati”.

Dengan begitu diharapkan, akan terjadi pertumbuhan ekonomi masyarakat di sepanjang jalan tersebut. Dibangunnya jalan tol menuju ke BIJB “Kertajati” diyakini Bupati tidak akan enumbuhkan ekonomi masyarakat di daerah-daerah  yang dilaluinya.

Jadi, kekecewaan yang ditimbulkan oleh salah satu maskapai penerbangan yang memberi kesan bahwa BIJB “Kertajati” terletak di Kabupaten Cirebon, dan bukan di Kabupaten Majalangke, adalah salah satu kekecewaan dari serangkaian kekecewaan yang dialami Kabupaten Majalengka. Mungkin sejak “Kertajati” dibangun.

Sejak awal pembangunannya, konon “Kertajati” tak pernah melibatkan masyarakat sekitar. Padahal peengerjaan proyek BIJB tersebut dapat melibatkan sejumlah tenaga kerja dari lokasi sekitar. Para petani misalnya,  yang banyak menganggur setelah lahannya beralih fungsi, tentu dapat dimanfaatkan sebagai tenaga kerja.

Kurang dilibatkannya masyarakat setempat sebagai tenaga kerja pembangunan, barangkali erat kaitannya dengan kualitas yang ingin dicapai, sehingga perlu menggunakan tenaga -tenaga profesional.

Hal itu mengingat pembangunan sebuah bandara bertaraf internasional harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Tetapi tenaga kasar dengan kompetensi yang diinginkan itu tentu dapat dipersiapkan oleh Majalengka sendiri. Itulah yang tidak dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Majalengka.

Rencana akan dibangunnya sebuah bandara bertaraf internasional di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, telah berlangsung sejak bertahun-tahun lalu. Rencana pembangunan itulah yang tidak diantisipasi dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Majalengka.

Pengelolaan sebuah bandara bertaraf internasional tentu membutuhkan banyak tenaga kerja. Tidak saja pada tingkat manajerial melainkan juga tenaga-tenaga pelaksana.  Tukang parkir pesawat misalnya, sekalipun membutuhkan ketrampilan khusus tentu bisa dipelajari.

Tenaga-tenaga kerja yang menganggur di Majalengka dengan tingkat pendidikan yang sesuai, tentu bisa dididik untuk menjadi tukang parkir pesawat itu. Kebutuhan tenaga satpam, baik di dalam maupun di luar bandara, tentu bisa dipenuhi oleh tenaga kerja yang ada di Majalengka.

Pemerintah Kabupaten Majalengka, baik atas inisiatif sendiri maupun atas kerja sama dengan pihak swasta, tentu dapat menyelenggarakan pendidikan dan latihan untuk tugas-tugas yang pasti akan dibutuhkan dalam pengelolaan sebuah bandara bertaraf internasional.

Matan Kertajati, Kabupaten Majalengka,buah bandara bertaraf internasional. Sejak pembangunan BIJB “Kertajati” direncanakan, Pemerintah Kabupaten Majalengka tentu dapat pula mempersiapkan tenaga-tenaga terdidik untuk tugas-tugas kebandaraan.

Dalam bayangan kita, sejak pembangunan BIJB “Kertajati” direncanakan, di Majalengka sudah berdiri sebuah SMK yang secara khusus mendidik para siswa untuk mengisi berbagai bidang kerja kebandaraan yang tentu saja membutuhkan banyak tenaga.

Keberadaan BIJB yang berlokasi di Kecamatan Kertajaati, Kabupaten Majalngka, yang luasnya 5000 hektar (3.800 hektar untuk area bandara, dan 1.200 hektar untuk aerocity) tentu harus bermanfaat secara optimal bagi masyarakaat Majalengka.

“Kertajati” hsrus bisa menjadi penyalur tenaga kerja masyarakat Majalengka, harus bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat, dan lain-lain.

Pemerintah Kabupaten Majalengka tentu tidak menghendaki warganya hanya menjadi penonton yang bengong dari berseliwerannya pesawat di langit Majalengka.***

Penulis adalah dosen pada program

sarjana dan pascasarjana Unpas.