Budaya Mudik Didorong Infrastruktur

64
  • Mobilitas penduduk menjelang, selama,

    dan setelah Hari Raya Idulfitri

    menjadi sangat tinggi. Meski berbagai upaya

    dilakukan agar budaya mudik tidak identik

    dengan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas

   keinginan masyarakat pulang kampung

   tidak pernah surut

 

    SEJAK tiga bulan lalu, masyarakat yang berencana pulang kampung atau mudik, sudah bersiap-siap. Terbukti dari penjualan tiket kereta api, pesawat terbang, feri,  kapal laut, bus, dan persewaan mobil,  rata-rata sudah habis terjual.

Meskipun ada upaya mengerem laju mudik itu, tampaknya masyarakat atau kaum pemudik tidak peduli.

Kebiasaan yang sudah mendarah-daging dan turun temurun itu tidak akan pernah surut. Orang beranggapan mudik itu merupakan ritual yang tidak boleh dilewatkan.

    Apakah mudik itu salah? Dilihat dari berbagai kepentingan, tidak ada rumusan yang menghalangi orang pulang kampung. Dari segi agama juga bersilaturahmi dengan orang tua dan kerabat yang ada di kampung halaman justru dianjurkan.

Dari sisi ekonomi dan pembangunan, mudik justru merupakan pendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Tidak dapat dimungkiri, selama musim mudik, ekonomi di perdesaan tumbuh sangat pesat.

    Mobilitas  penduduk menjelang, selama, dan setelah Hari Raya Idulfitri menjadi sangat tinggi. Meskli berbagai upaya dilakukan agar budaya mudik tidak identik dengan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas, keinginan masyarakat pulang kampung tidak pernah surut

. Malah jumlah pemudik dari tahun ke tahun terus meningklat padahal teknologi komunuikasi semakin canggih.

Orang merasa tidak cukup hanya bersua melalui hape, video call, 3G, 4G, bahkan sekarang sudah sampai pada teknologi 5G. Ada semacam kerinduan yang tak akan tergantikan dengan alat bantu secanggih apapun.

     Kementrian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik Lebrabn tahun ini mencapai angka 19,5 juta orang. Naik 10-15 persen dibanding tahun lalu.(KOMPAS 28/5). Sedangkan peredaran uang, menurut prakiraan Bank Indonesia, selitar Rp 200 triliun. Jumlah yang cukup fantastis.

Apabila dana itu merupakann investasi, pemerintrah dapat membangun kawasan industri yang representatif. Kalau digunakan sebagai modal usaha, kita akan mampu meningkatkan kelas UMKM menjadi pengusaha besar.

Namun ada nilai nonmatematis yang muncul dalam budaya mudik itu, antara lain pemeretaan. Masyarakat desa yang terpencuil sekali pun, dapat merasakan gairah kehidupan yang luar biasa. Nilai itu tidak akan terukur dengan jumlah uang yang beredar.

    Sekarang, budaya mudik itu bukannya surut malah cenderung makin meningkat. Pembangunan infrastruktur berupa jalan tol, jalur kereta api, dan perbaikan jalan nontol, justrui menjadi penrorong  orang makin bergairah untuk mudik.

Pembangunan jalann tol trans Jawa dari Jakarta – Semarang – Jatim, sepanjang 1.167 km,  merupakan fasilitas yang mendorong arus mudik secara signifikan.

Pembuatan rel ganda dan pembukaan jalur kereta api, pembangunan bandara,. Baik domestik maupun internasional, yang sebelumnya tidak ada, membuat orang semakin mudah melakukan perjalanan.

Tahun ini juga pemerintah memberikan gaji ke-13 bagi ASN, anggota Polri, TNI, dan para pensiunan. Bukankah itu merupakan pendorong makin maraknya arus mudik?

    Tampaknya sekarang terhapus sudah, upaya pengereman arus mudik.Kita semua, termasuk pemerintah, amat suilit mengalihkan budaya mudik ke budaya nabung, mengganti ongkos perjalanan dengan saham atau izin mendirikan perusahaan.

Seolah-olah sudah tidak ada kaitan lagi biaya mudik dengan investasi atau penanaman jiwa entrepreneur. Kita masih bisa berharap, peredaran uang yang sangat besar itu justru betrada di lingkaran domestik

. Para pelaku usaha, termasuk UMKM, justru harus mampu menggunakan momentum mudik itu untuk meraih keuntungan dan meningkatkan usahanya.

Masyarakat yang punya rejeki lebih, dalam musim mudik ini, tidak berlibur ke laur negeri yang justru akan mengurangi devisa. Bersilaturahmilah ke kampung halaman.

Kalau pun  tidak punya kampung, berliburlah di tempat-tempat wisatata dalam negeri. Destinasi wisata domestik semakin banyak dan tidak kalah indahnya dibanding obyek wisata di luar negeri.

   Melihat fenomena budaya mudik yang justru semakin masif, pemerintah tinggal melakukan upaya mencegah efek negatf budaya mudik itu. Antara lain, kepadatan arus dan kecelakaan  lalu lintas.

Fasilitas mudik gratis yang dilakukan pihak swasta, sedikitnya akan mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya. Pengiriman sepada motor ke tempat tujuan dengan kereta api atau truk secara cuma-cuma, juga dapat sedikit mengurangi jumlah pemotor.

Jalur mudik yang semakin banyak, membutuhkan petugas lalulintas, medis/paramedis, dan SDM lainnya yang siap di jalan sepanjang hari. Arahkanlah para pemudik agar berlalulintas sesuiai aturan. Bimbinglah mereka agar aman dan nyaman serta selamat dal;am perjalanan. ***