Filosofi Ketupat Ngaku Lepat dan Meminta Maaf

33

Ketupat atau kupat ( Sunda-red) merupakan sebuah hidangan khas Indonesia berbahan dasar beras yang dibungkus dengan  anyaman daun kelapa muda (janur) atau kadang-kadang dari daun palma yang lain.

Ketupat paling banyak ditemui pada saat perayaan Lebaran sampai 5 hari berikutnya ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa.

Tradisi ketupat (kupat) Lebaran menurut cerita merupakan simbolisasi ungkapan dari bahasa Jawa Ku = ngaku (mengakui) dan pat = lepat (kesalahan) yang digunakan oleh Sunan Kalijaga saat mensyiarkan ajaran Islam di Pulau Jawa yang pada waktu itu masih banyak yang meyakini kesakralan kupat.

Asimilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan ketupat menjadi tradisi Islami ketika ketupat menjadi makanan yang selalu ada  saat umat Islam merayakan Lebaran sebagai momen yang tepat untuk saling meminta maaf dan mengakui kesalahan.

Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya Lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Kupat  dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.

Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat : Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khususnya orang tua.

Laku Papat : Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran.

Empat tindakan tersebut adalah:

  1. Lebaran.
  2. Luberan.
  3. Leburan.
  4. Laburan.

Arti Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan

Lebaran : Bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan : Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin. Pengeluaran zakat fitrah menjelang Lebaran hal  wajib dilakukan umat Islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

Leburan : Maknanya , habis dan melebur. Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan : Berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air atau pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Filosofi Ketupat:

  1. Mencerminkan beragam kesalahan manusia.

Hal ini bisa terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini.

  1. Kesucian hati.

Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.

  1. Mencerminkan kesempurnaan.

Bentuk ketupat begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak Idul Fitri.

  1. Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, maka dalam pantun Jawa disebut “KUPA SANTEN“, Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten (Saya Salah Mohon Maaf). (E-001) ***