Gunung Manglayang, Sisa Letusan Gunung Sunda Purba Menyimpan Misteri Jatuhnya Kuda Semprani

133

Gunung Manglayang merupakan jajaran gunung di  Bandung Utara yang terbentuk setelah terjadinya letusan besar Gunung Sunda Purba yang terjadi pada 3 juta tahun silam. Gunung lainnya adalah gunung Tangkuban Perahu, Bukit Tunggul dan gunung Burangrang.

Nama “Manglayang” sendiri diambil dari kata “Layang” yang berarti terbang. Konon, dahulu ada seekor kuda terbang bernama Semprani yang sedang melakukan perjalanan dari Cirebon menuju Banten. Saat melintasi gunung Manglayang, Semprani terjatuh, terperosok dan terjebak di lereng gunung Manglayang.

Dia tidak bisa melepaskan diri dari semak belukar yang membelit dirinya.. Saking lamanya, Semprani pun berubah menjadi batu. Saat ini,  bahwa batu besar yang menyerupai kuda  adalah perwujudan dari kuda Semprani.

Dikisahkan, penunggang kuda Semprani adalah Prabu Layang Kusuma atau Eyang Prabu, merasa putus asa atas kejadian terjebaknya sang kuda di lereng gunung Manglayang. Kemudian dia menunggu sang kuda di atas sebuah kursi yang sekarang dikenal dengan nama “batu kursi”.

Selain batu kuda dan batu kursi ,di gunung Manglayang juga terdapat batu Lawang, dua batu kembar yang berdiri sejajar, menyerupai gerbang. Biasanya di antara kedua batu tersebut, banyak orang yang mengadakan ritual berupa pembacaan mantra atau berdzikir.

Namun tidak sembarang orang yang bisa melakukan ritual tersebut. Sebab, sebelum melakukan ritual, mereka harus mendapatkan izin dari kuncen dan ruh penunggu terlebih dahulu.
                                      

Kepercayaan Masyarakat

Walau saat ini cerita itu sudah terkikis , sebelumnya masyarakat sekitar percaya bahwa ada aturan  bahwa pada hari Senin dan Kamis, siapapun tidak diperbolehkan memasuki kawasan gunung Manglayang dan tidak boleh melakukan pendakian dalam jumlah rombongan ganjil.

Sebab, pada dua hari itu, semua leluhur, termasuk roh Semprani datang ke gunung Manglayang untuk berkumpul.

Banyak  hal buruk yang terjadi di gunung Manglayang, hingga akhirnya sekitar 44 sesepuh Jawa Barat berkumpul di gunung Manglayang untuk meminta para roh tidak terlalu mengganggu orang-orang yang datang ke Manglayang, kejadian ini disebut ritual “keakuran” antara roh dan manusia.

Setelah ritual dilakukan di area Batu Kuda dan segala upaya dilakukan oleh para sesepuh. Akhirnya ritual keakuran menghasilkan kesepakatan. Yaitu, siapapun dapat mendatangi gunung Manglayang kapan saja dan berapapun jumlah rombongannya.

Dengan syarat, orang-orang yang datang tidak merusak keasrian gunung Manglayang. Tidak boleh mencoreti batu, menguliti pepohonan dan membawa atau mencabut apapun tanpa izin.

Pada tahun 1977 , terjadi sebuah tragedi memilukan akibat  longsornya perbukitan Gunung Manglayang. Menurut keterangan , tanah perbukitan yang longsor menutup lembah di antara bukit dan menjadi sebuah bendungan yang menampung air hujan dengan debit ribuan meter kubik.

Tak mampu menahan debit air , tanah longsoran itu bobol  dan menimbulkan banjir besar yang melanda wilayah Ujungberung , di antaranya daerah Cigending , Ciporeat , Cipanjalu dan lainnya. Kayu-kayu besar yang terseret banjir melintang di jalan raya Ujungberung.

Tragedi memilukan ini menimbulkan korban 14 orang meninggal dunia dan raturan rumah rusak berat/ringan , ditambah lumpur tebal yang menutup jalan maupun rumah.

Di sisi lain tragedi  itu ada yang mengaitkan dengan kedatangan kuda Semprani ke Gunung Manglayang. Sesaat setelah kedatangannya terjadilah longsor . Kedatangan kuda Semprani  memberi peringatan bahwa akan ada bencana. .

Mitos  , memang akan selalu hidup sampai kapan pun. Percaya atau tidak, itu tidak masalah, hal terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menyikapi sebuah mitos. Apakah akan menjadikannya pelajaran untuk bersikap lebih baik kepada alam atau malah sebaliknya.(B-003/BBS) ***