Dra. Rosani Pudjiati, MPd.

112

Dra. Rosani Pudjiati, MPd., lahir di Malang-Jawa Timur, pada tanggal 31 Juli 1960 silam. Rosani Pudjiati selain berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia di SMA Negeri 15 kota Bandung, ia pun merupakan pendiri dan pengelola sekolah non formal Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Bangsa Berkarakter, di kampung Cilimus RT 02/RW 03, desa Padaasih, kecamatan Cisarua, kabupaten Bandung Barat.

        Anak dari pasangan R. Roeslan Noto Asmoro serta Endang Saminah ini mengutarakan bahwa, awal mendirikan PKBM Bina Bangsa Berkarakter, diawali dari cita-cita / keinginan suaminya untuk berkebun sayur di daerah pegunungan. Empat tahun menjelang suaminya pensiun, suami dari Rosani ini membeli kebun di daerah kampung Cilimus, Cisarua kabupaten Bandung Barat. Lokasinya jauh dari kebisingan kota dengan udara yang nyaman dan sejuk.

“Saya sempat berpikir, bagaimana anak-anak kampung Cilimus bisa sekolah, bila daerah itu jauh dari kota dan transportasi masih sulit.  Sebagai seorang guru dan berada di tengah masyarakat yang mayoritas dari golongan ekonomi lemah, maka saya merasa berdosa bila saya hidup di tengah mereka tanpa berbuat apa-apa,” ceritanya kepada Bisnis Bandung.

Tahun 2012, Rosani bersama suaminya, Tri Iswahyudi (59) seorang Purnawirawan TNI AU Husein Sastranegara Bandung, dan anaknya Restu Ardhya Wahyuningsih (23) yang bekerja sebagai karyawati BUMN PLN di Jakarta, mendirikan sekolah non formal setara SD, SMP, SMA, serta Rumah Pintar dan Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) dalam satu naungan PKBM Bina Bangsa Berkarakter.   Sumber dana pendiriannya berasal dari hasil jerih payah Rosiani, anak dan suaminya.

“Diawali dengan pembangunan ruang kelas Paud, yang juga mendapat bantuan dana dari mantan murid (read: Agus Mudjiaanto) di SMA Negeri Bangil, yaitu sekolah tempat saya pertamakali diangkat menjadi guru SMA, pada 30 tahun yang lalu. Alhamdulillah, Agus Mudjiaanto yang berprofesi sebagai polisi di Polda Jabar masih mengingat saya sebagai gurunya ketika bertemu kembali melalui facebook, dan dia turut memberi donasi untuk pembangunan ruang kelas Paud beserta alat permainannya.  Saya semakin percaya diri, dan berhasil mendapatkan ijin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2015. Saya tertarik mendirikan sekolah non formal, mengingat faktor geografis kampung Cilimus yang jauh dari kota, serta didominasi oleh masyarakat ekonomi lemah, sehingga sebagai guru, jiwa saya terpanggil untuk mendirikan sekolah gratis tanpa biaya, demi kemajuan masyarakat kampung Cilimus, agar masyarakat disana bisa mendapatkan pendidikan yang setara dengan masyarakat kota, tentu saja ditunjang dengan dukungan suami dan anak, serta keluarga saya yg sebagian besar berlatar belakang guru maupun TNI,” ungkap Rosani.

Pemerintah mempunyai visi untuk mengedepankan pendidikan berkatakter, sehingga lembaga PKBM pun turut mengusung visi dan misi sesuai dengan tujuan pemerintah.

PKBM Bina Bangsa Berkarakter, berkeinginan membantu pemerintah untuk mencerdaskan masyarakat, sehingga salah satu visi misinya adalah dengan mengutamakan pendidikan karakter, membentuk karakter siswa yang beriman, beretika, cerdas, tangguh, disiplin, jujur dan bertanggungjawab, serta mempunyai etos kerja yang tinggi dan mampu bersaing di era globalisasi.  Visi misi ini diterapkan oleh PKBM melalui peraturan sekolah, tata tertib, serta pada kegiatan belajar mengajar di kelas, dengan nenambahkan pelajaran etika dan budi pekerti.

“Semenjak pemerintah menghapus pendidikan budi pekerti, tidak bisa dipungkiri bahwa, banyak siswa sekolah yang bersikap tidak sopan santun terhadap guru, dan dilapangan, kenyataannya ada siswa yang sampai membunuh gurunya, hanya karena diperingatkan oleh guru.  Membentuk karakter siswa, mendapat porsi besar pada lembaga saya, sebab karakter yang baik sangat dibutuhkan ketika mereka terjun di lapangan, atau ketika mereka sudah bekerja.  Apalagi, Indonesia sekarang ini sudah siap ‘go public’, dan masuk ke dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asia), yang membuka kesempatan warga asing untuk bekerja di Indonesia, dan warga Indonesia bisa bekerja di luar negeri,” tutur Rosiani.

Mau tidak mau, siap tidak siap, PKBM Bina Bangsa Berkarakter harus bisa menghasilkan siswa-siswa yang mempunyai etika, kerja keras, disiplin, jujur dan bertanggung jawab, karena untuk bisa terjun di lapangan mereka membutuhkan 5 hal tersebut.  Tanpa 5 hal ini, jangan harap siswa-siswa ini bisa terjun di lapangan, bahkan dikhawatirkan mereka hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri.

“Pembentukan karakter ini salah satunya diterapkan melalui peraturan sekolah, seperti tidak boleh terlambat datang ke sekolah, dan setelah bel berbunyi, maka 10 menit kemudian pagar sekolah akan langsung dikunci. Juga melaksanakan apel bersama bagi siswa paket A, B, dan C, yang mana sebelum masuk kelas, kita menyanyikan lagu Indonesia Raya, diberi pengarahan dan apresiasi. Selain itu, menerapkan kebersihan sekolah, dengan cara tidak menyediakan tempat sampah di sekolah, dan siswa diminta membawa kantung plastik dari rumah untuk menyimpan sampah yang dihasilkannya sendiri dan dibawa pulang, sehingga sekolah selalu bersih,” ungkap Rosiani.

        Penganut motto hidup “Lebih baik keringat kita dimakan orang lain, daripada kita memakan keringat orang lain” ini mengklaim bahwa, lembaga PKBM Bina Bangsa Berkarakter sudah menghasilkan 6 angkatan.  Prestasi yang diraih adalah, mendapat juara I Tutor paket C tingkat kabupaten Bandung Barat tahun 2018.   Pengalaman positif  yang didapat Rosiani adalah, bisa memahami karakter orang yang beragam, mengalami kepuasan batin, ketentraman dan kedamaian dalam keluarga, karena bisa berbagi kepada masyarakat. Pengalaman negatifnya adalah, ia merasa prihatin terhadap masyarakat yang belum menyadari pentingnya pendidikan. “Saya akan mengelola sekolah non formal ini sampai semua  masyarakat kampung Cilimus mempunyai ijazah setara SMA, dan sampai dunia pendidikan tidak lagi  membutuhkan saya,” jelas Rosiani.

Sumber dana operasional PKBM Bina Bangsa Berkarakter, selain dari dana mandiri, juga dari bantuan pemerintah tapi belum tetap, dan setiap waktu ada donatur.

Selama ini, peserta didik banyak yang berasal dari luar kampong Cilimus, bahkan paling banyak dari kota Bandung.  Tenaga pendidik ada yang berasal dari teman guru di SMA 15, baik yang sudah pensiun atau belum,  juga dari teman-teman anak dan suami yang mempunyai latar belakang pendidikan Sekolah Tinggi Keguruan.  Pengajaran lebih menekankan pada pendidikan karakter. Metode yang digunakan adalah metode Analisis Hots, sebab sangat cocok untuk siswa non formal dalam belajar memecahkan masalah. Perbedaannya, jika di sekolah formal waktu belajar hanya 3 hari untuk program penyetaraan, maka di Paud dari Senin sampai jumat, sedangkan Rumah Pintar di hari Sabtu & Minggu.

        Keunggulan dari PKBM Bina Bangsa Berkarakter adalah, mampu menyiapkan siswa yang laku jual di dunia IT, mempunyai kemampuan Bahasa dan keterampilan kerja. Lembaga memberikan lifeskill computer dan bahasa Inggris, sebab 2 keterampilan ini sangat dibutuhkan di dunia kerja atau usaha. Disamping itu, siswa diberi kesempatan untuk memupuk bakat di bidang musik, tari dan angklung.  Siswa lulusan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) diharapkan dapat melanjutkan kuliah, dan dapat menerapkan bekal yang diberikan oleh lembaga di lapangan nanti, serta yang terpenting adalah, dapat merealisasikan 5 visi misi PKBM yaitu : beretika, beriman, disiplin, jujur dan bertanggungjawab.

        Dra. Rosani Pudjiati mengutarakan bahwa, PKBM Bina Bangsa Berkarakter untuk sementara ini karena tanpa biaya  atau gratis, hanya bisa menerima 30 orang untuk masing-masing paket A, B dan C, dengan indikatornya, siswa itu benar-benar ingin sekolah, ingin maju dan ingin berkualitas, terutama pada sikap.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Kepala Sekolah SMA 15 Bandung, Drs. H.Hatta, MSi., yang selama ini mendukung dan memberi motivasi, serta membantu kelancaran lembaga kami, dengan meminjamkan laboratorium komputer untuk siswa saya praktek komputer, serta keikhlasan dari teman guru di SMA 15 Bandung. baik yang sudah pensiun maupun yang belum, dalam membantu mengajar di lembaga kami,” ucap Rosani.

Bantuan dari pemerintah sementara ini belum merata ke semua jenjang, sehingga dana mandiri harus selalu ada dan siap. Diharapkan, pemerintah dapat membantu sarana komputer kepada lembaga PKBM Bina Bangsa Berkarakter, serta membangun ruang kelas maupun infrastruktur.

“Saya juga mengucapkan terimakasih kepada PT. TELKOM Bandung dan PT. LENS yang sudah berpartisipasi dalam kemajuan lembaga saya. Harapan kami, marilah kita bergandengan tangan mencerdaskan bangsa, untuk membantu pemerintah dalam mencerdaskan masyarakat. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi perusahaan swasta untuk ikut membantu kami. Keberadaan PKBM Bina Bangsa Berkarakter sangat dibutuhkan oleh masyarakat, dan kami tanpa memberikan beban biaya, berusaha menuntaskan masyarakat yang belum mempunyai ijazah setara SD, SMP dan SMA.  Bahkan yang belajar di PKBM banyak yang datang dari kota Bandung. Saya terus memotivasi  dan memberi himbauan kepada masyarakat, terutama warga kampung Cilimus, ayo belajar, manfaatkan kesempatan ini dengan baik, jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari,” demikian pernyataan Dra. Rosiani.

        “PKBM Bina Bangsa Berkarakter berusaha menjalankan pendidikan sesuai prosedur dan sistem yang diberikan oleh pemerintah. Pemasangan label Berkarakter pada lembaga PKBM Bina Bangsa tentu saja sudah dipikirkan secara mendalam dan penuh pertimbangan, disertai tekad untuk membantu pemerintah dalam membentuk bangsa yang berkarakter, yang dapat dipercaya oleh masyarakat dan berkualitas,” pungkasnya kepada BB.    (E-018)****