Industri 4.0 Gairahkan Industri Otomotif

94

Pemerintah saat ini terus membahas soal industri generasi ke-empat atau industri 4.0. Bahkan, Presiden  telah meresmikan peta jalan atau roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0, pada 4 April 2018 lalu.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartato menjelaskan apa yang dimaksud dengan revolusi industri 4.0 serta tujuan dari adanya industri tersebut. Dalam penjelasannya, Airlangga menceritakan di balik hadirnya Industri 4.0 .

Dia mengatakan, sejatinya revolusi industri ini dimulai sejak zaman pemerintahan Hindia-Belanda. Saat itu, revolusi industri pertama hadir dalam konteks steam engine atau mesin uap.

Airlangga menyebut, pada saat itu globalisasi yang dikhawatirkan adalah lahirnya digitalisasi. Dalam rapat APEC tahun 90-an, kata Airlangga, disebutkan bahwa globalisasi untuk ASEAN bakal dimulai di tahun 2020.

Untuk itulah, pihaknya menyusun roadmap industri 4.0 dengan bantuan sejumlah pihak. Dengan adanya roadmap ini, diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri nasional di kancah global serta dapat menjadikan Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia di 2030.

Dalam revolusi industri ke-4, terjadi konektivitas antara manusia, mesin dan data. Implementasi Industry 4.0 mampu meningkatkan produktivitas, penyerapan tenaga kerja dan perluasan pasar bagi industri nasional.

“Maknanya kita akan menghadapi situasi, dimana kapasitas sumber daya manusia dan efisiensi efeknya adalah distruption atas pertumbuhan angkatan kerja Indonesia,” tambah Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, dalam keterangan resminya, Selasa (19/6/2018).

Para ahli memperkirakan, pada era ini orang akan berhenti membeli mobil dan makin banyak orang menyewa properti, biaya komunikasi akan gratis, printing 3-dimensi akan berkembang pesat, robot akan menggantikan manusia di banyak industri, bank tidak lagi berarti sebuah tempat, tetapi hanya sebuah konsep.

“Menyadari besarnya tantangan tersebut, maka mutu SDM dan peningkatan kapasitas inovasi menjadi hal yang mutlak. Sayangnya, peringkat Indonesia dalam Indeks Inovasi Global masih perlu didongkrak,” ujar Moeldoko.

Sebagai gambaran Indeks Inovasi Global Indonesia pada 2015 berada pada peringkat 97 dari 141 negara, lantas menjadi peringkat 88 dari 128 negara pada tahun 2016, dan pada 2017 menjadi 87 dari 127 negara. Meski naik, beberapa dimensi penilaian yang mencakup institusi, SDM dan riset serta iklim bisnis perlu banyak perbaikan.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan inovasi?

Inovasi bus listrik hasil karya anak bangsa yang ramah lingkungan. Selain itu, penemuan teknologi aspal dingin, micro bubble, dan padi unggul yang bisa menghasilkan 9 ton per hektarnya.

Untuk bus listrik sendiri, seperti diketahui, PT Mobil Anak Bangsa (MAB)  telah mempunyai Prototipe II bus listrik bernama Maxvel. (E-002/BBS)***