Catatan Diah Suhandi dari Maroko, CHEFCHAOUEN – MUTIARA BIRU DI UTARA AFRIKA

58

HIJAUNYA pepohonan, gunung dan lembah yang cantik serta keledai dan kambing menjadi pemandangan yang mengasyikan , selain menikmati luasnya padang rumput yang menjadi pemandangan sepanjang perjalanan kami menuju destinasi impian ,yakni Kota Chefchaouen. Chefchaouen atau Chaouen merupakan sebuah kota yang bertengger indah di Pegunungan Rif di wilayah barat laut Maroko.  Keunikan dan nilai historis yang dimiliki Chefchaouen menjadi magnet yang menarik banyak pelancong untuk menjelajahi kota ini. Berada di wilayah utara benua Afrika yang dikenal karena bangunan-bangunannya yang berwarna biru dan berusia ratusan tahun menyempurnakan Chefchaouen sebagai salah satu kota paling cantik di Maroko.

Bangunan dan rumah penduduk di kota ini belum sepenuhnya berwarna biru di awal berdirinya pada tahun 1471. Kebiasaan mengecat bangunan dengan warna biru,  baru terjadi saat penduduk kota mulai  menerima masuknya orang-orang Yahudi yang melarikan diri dari inkuisisi Spanyol untuk menetap di Chefchaouen pada tahun 1492. Orang Yahudi tersebutlah yang membawa tradisi mengecat bangunan dengan warna biru yang konon memiliki arti filosofis sebagai langit dan surga.

Pada dasarnya, semua kota yang kami kunjungi di Maroko memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri, yang membuatnya istimewa. Menapaki kota tua Chefchaouen seakan-akan kita terbawa menjelajah waktu ke masa lampau. Mulai dari mobil-mobil tua yang berseliweran di jalanan Chefchaouen, suasana Kasbah atau alun-alun kota dengan jalanan terjal bebatuan serta gang-gang sempit di antara rumah penduduk membuat kami excited sekali menjelajah kota tua ini, belum lagi lalu lalang keledai pengangkut barang melewati jalanan di sudut-sudut kota, semuanya klasik mengingatkan kita kepada film-film tentang suasana di abad pertengahan.

Atmosfir Andalusia sangat terasa dengan kental di jantung Medina atau kota tua. Gaya rumah khas Andalusia ini bisa dilihat dari kebanyakan  rumah penduduk yang kaya akan elemen dekoratif, seperti pada dinding rumah, keramik ubin, serta kehadiran taman mungil yang menghiasi ruangan tengah di hampir setiap rumah. Banyak penduduk di Medina menyewakan rumah mereka kepada para pelancong. Rumah-rumah penduduk yang disewakan tersebut dikenal dengan sebutan “Riad”.

Sejarah  Chefchaouen

Didirikan pada tahun 1471 oleh Moulay Ali Ben Moussa. Dahulu, kota ini menjadi tempat pengungsian para pemeluk Islam Andalusia dan orang-orang Yahudi yang melarikan diri dari Spanyol untuk menghindari pengejaran besar-besaran terhadap kaum Muslim dan Yahudi oleh pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella yang berhasil mengakhiri kejayaan Islam selama 8 abad di Andalusia. Tak heran jika kita menemukan mayoritas penduduk Chefchaouen berparas tampan dan cantik, karena kebanyakan mereka adalah percampuran keturunan Spanyol, Arab dan Suku Berber (suku asli Maroko ).

Saat ini Chefchaouen menjadi salah satu tujuan favorit para pelancong karena di kota ini dapat dilihat perpaduan budaya yang berasal dari suku Berber, Muslim dan Yahudi, bersama dengan keturunan orang-orang buangan Moor dari Spanyol yang tinggal di sana sejak tahun 1400-an.

Di setiap kota yang kami kunjungi di Maroko, kami selalu disuguhi menu yang sama . Yaitu, roti yang dipanggang dalam oven berbahan bakar kayu tradisional dan homemade yoghurt nan lezat. Roti ini memiliki cita rasa yang khas dengan lapisan luar roti yang renyah. Kebanyakan penduduk Maroko selalu menikmati hidangan ini untuk mengawali hari mereka. Santapan ini biasanya disuguhkan bersama  beberapa pelengkap seperti B’ssara, sup tradisional khas Maroko yang berbahan dasar kacang fava, atau banyak juga yang menambahkan roti tersebut dengan Topping. Adapun topping yang sering digunakan untuk roti ini adalah madu atau keju kambing.

Makanan khas Maroko lainnya adalah Tagine : hidangan bergaya Maroko yang dibuat dari ayam, sapi, atau  sayuran yang kaya dengan rempah-rempah dan minyak.  Disajikan dalam wadah tanah liat yang khas dan dimasak secara tradisional. Selain Tagine masih ada makanan khas Maroko lainnya, seperti couscous dan makouda yang kesemuanya kaya akan rempah-rempah.

Setiap hidangan Maroko selalu dilengkapi dengan teh mint yang menyegarkan, teh ini dibuat dari rebusan daun teh hijau dan ditambahkan daun mint segar serta sedikit gula. Teh mint memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan dan merupakan bagian penting dari kehidupan penduduk Maroko. Menikmati secangkir teh mint sambil melihat orang berlalu lalang di alun-alun kota menjadi agenda kami setiap sore saat mengunjungi Maroko.

Dari banyak tempat yang sudah saya kunjungi, Chefchaouen adalah tempat yang sempurna tidak hanya untuk menjelajahi suasana kotanya, tapi terlebih lagi untuk mengabadikan keunikan sudut-sudut kota ini dalam kamera.

Pesona magis Chefchaouen seringkali menjadi pilihan untuk dijadikan lokasi pemotretan baik untuk kebutuhan komersial ataupun sekedar koleksi pribadi. Sehingga perjalanan panjang untuk menuju kota ini terbayar sudah dengan keramahan penduduk, keunikan dan keindahan kotanya. ***