Dana Desa Modal Awal Pemerataan Pembangunan, Tingkat Urbanisasi Masih Tinggi

52

    TINGGINYA  arus mudik setiap tahun merupakan cermin betapa tingginya arus urbanisasi di  Indonesia. Apabila kita punya mimpi, Indonesia terbebas dari budaya mudik, satu-satunya cara, stop urbanisasi. Tanpa urbanisasi, setiap musim libur,  semua infrastruktur yang berkaitran dengan mobilitas penduduk, akan dipenuhi para pelancong. Kenaikan arus wisatawan, baik domestik maupun wisman merupakan tolok ukur tingginya  tingkat kemakmuran rakyat.

     Di setiap negara berkembang, arus urbanisasi selalu tinggi. Kesenjangan sosial di desa dan di kota sangat lebar. Penduduk desa melihat betapa menggiurkannya kehidupan di kota-kota besar. Mereka mengira, hidup di kota besar jauh lebih mudah dan menguntungkan daripada harus berkutat dengan rutinitas perdesaan yang tidak pernah beranjak. Setiap hari mereka harus bergelut dengan lumpur, tanpa masa depan yang jelas.

     Karena itu, penghentian urbanisasi tidak bisa hanya dengan regulasi. Tanpa upaya menyempitkan kesenjangan sosial, urbanisasi akan terus berjalan. Semua kota besar akan terus menjadi sasaran para pendatang yang mengejar mimpi serta mencari sesuap nasi. Apa lagi dengan tingkat pembangunan industri yang semakin marak di berbagai kota besar. Kesempatan kerja merupakan magnet sangat kuat menyedot urbanisasi.

    Indonesia masih membutuhkan waktu panjang jika ingin mengurangi urbanisasi. Angka mobilitas penduduk dari daerah ke kota-kota besar akan terus berlanjut. Dampak yang sangat jelas terlihat makin tingginya arus mudik dan tentu saja arus balik pada setiap musim libur panjang. Setap tahun menjelang Lebaran dan Tahun Baru, makin banyak orang rela berdesakan dalam kemacetan total di sepanjang jalur arus mudik.

     Upaya pemerintah mengurangi kemacetan lalu lintas dengan membangun berbagai sarana dan prasarana mobilitas penduduk, ternyata belum mampu menjawab tantangan budaya mudik. Pembangunan infrastruktur ternyata bukan satu-satunya solusi. Ada pekerjaan besar yang harus dilakukan pemerintah.  Tingkat urbanisasi yang semakin tinggi merupaka akar masalah dari kesemerawutan kota, penumpukan sampah, perusakan lingkungan, dan tersendatnya mobilitas penduduk.

     Akar masalah itulah yang seyogianya menjadi target pembangunan pemerintah. Namun pengurangan tingkat urbanisasi harus kita akui, bukanlah masalah yang sederhana. Penanggulangan arus urbanisasi berkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan rakyat. Kesenjangan sosial antara kota dan desa dapat dipersempit dengan penyebaran investasi  Kalau perlu, ada gerakan relokasi industri dari kota ke desa. Konsentrasi investasi yang selama ini berpusat di kota-kota besar harus segera disebar-luaskan  ke luar kota bahkan ke luar Pulau Jawa.

     Penyebar-luasan pembangunan selama ini baru merupakan angin surga bagi daerah. Kita masih harus ”tunduk” terhadap keinginan dan selera kaum investor. Semua negara yang masih memerlukan penanaman modal, baik domestik maupun asing, selalu berada pada posisi tawar yang lemah. Para investyor mau membuka industri hanya di tempat-tempat strategis, baik pasar maupun kemudahan arus barang. Kemudahan itu baru ada di kota-kota besar. Infrastruktur belum tembus ke daerah secara merata. Distribusi terhambat karena sulitnya transportasi.

    Semua tantangan itu harus terjawab terlebih dahulu sebelum kita mengubah mimpi terhapusnya kesenjangan sosial menjadi kenyataan.  Kita masih belum siap melakukan moratorium pembangunan industri di kota-kota besar dan mengalihkan investasi ke daerah perdesaan. Perkembangan kota juga masih membutuhkan campur tangan pemilik modal. Penyebaran dana desa meru[akan salah satu titil awal terjadinya dinamika masyarakat desa.

    Masalah urbanisasi yang beerkaitan dengan arus mudik masih akan menjadi masalah setiap saat. Namun pemerintah harus memiliki target yang jelas tentang moratorium urbanisasi. Sasaran awalnya, memenej arus mudik secara lebih profesional dan tidak selalu menyalahkan kaum pemudik. Bagaimana pun mereka merupakan pejuang sekali gus agen perubahan bagi klampung halamannya. ***