Perlukah Tes Psikologi pada Ujian SIM?

87

AKHIR-AKHIR ini ramai perbincangan soal penambahan tes psikologi, pada deretan ujian pengajuan dan perpanjangan Surat Izin Mengemudi ( SIM). Pemohon juga dikenakan tambahan biaya pada tes baru ini.

Keharusan  tes psikologi ini tertulis dalam Undang-undang LLAJ Nomor 22 tahun 2009. Lebih jelasnya ada di Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi.

Pada pasal 36 tertulis, setidaknya ada enam komponen penilaian pada kesehatan rohani, yaitu kemampuan konsentrasi, kecermatan, pengendalian diri, kemampuan penyesuaian diri, stabilitas emosi, dan ketahanan kerja.

Tes Psikologi menjadi salah satu tahap ujian baru untuk mendapatkan maupun perpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM). Langkah ini berlaku untuk semua jenis SIM.

Mendengar kabar bahwa pembuatan SIM harus melalui tes psikologi terlebih dahulu agar membuat para pengemudi mampu berperilaku baik di jalan raya sehingga akan meminimalisir terjadinya kecelakaan. Namun Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu meragukannya.

Sebab, menurutnya sikap pengendara yang baik bisa saja muncul hanya ketika si-pembuat SIM menghadapi tes psikologi dan tes praktek saja alias sebagai bentuk formalitas saja.

Namun, setelah mempunyai SIM, bisa saja pola perilaku pengemudi berubah drastis 360 derajat menjadi urakan. Hal ini tentu dapat membahayakan bagi para pengguna jalan lainnya.

Seperti yang diketahui, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya telah memutuskan akan memasukkan tes psikologi ke dalam salah satu syarat dalam pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi). Tes psikologi ini  mulai diberlakukan sejakl 25 Juni 2018 yang lalu.

Menurut Kasi SIM Polda Metro Jaya, Kompol Fahri Siregar,  tes psikologi ini akan diberlakukan untuk semua jenis SIM, mulai dari SIM A, SIM B2, SIM C serta SIM D.

Tes psikologi ini sebenarnya telah diterapkan dan hanya berlaku bagi para calon pemegang SIM umum saja, seperti pengemudi kendaraan umum angkutan kota atau angkutan lain berplat kuning.

Namun menurut Jusri, tes ini kurang tepat jika diterapkan pada semua golongan SIM. Dirinya bahkan meragukan jika tes ini dapat mengubah perilaku pengemudi menjadi lebih tertib. Jusri justru memaparkan bahwa terdapat metode lain yang menurutnya dianggap paling “jitu”, yaitu dengan cara metode ‘penjebakan’ kepada si pemohon SIM ketika sedang menjalani praktek mengemudi di jalan raya.

Metode ‘penjebakan’ sendiri merupakan metode dengan membuat rekayasa lalu lintas menjadi sedemikian rapih atau ketika menghadapi situasi genting saat berkendara yang tidak disadari oleh para pemohon. Trik ini dilakukan sebagai salah satu persyaratan terakhir yang wajib  dilakukan oleh setiap pembuat SIM.

“Misalnya, assessor (petugas berlisensi duduk sebagai seorang penumpang), melakukan rekayasa situasi dan kondisi terburu-buru saat melakukan tes praktik nyetir. Nah, pada situasi tersebut, assessor menyarankan agar para pemohon melewati bahu jalan tol atau situasi lainnya, seperti melanggar lampu merah. Disitulah mental para pemohon SIM akan terlihat dengan jelas, apakah dirinya pantas untuk menerima SIM atau tidak,” terang Jusri.

Metode ini menurut Jusri, pernah dilakukan di Indonesia pada era tahun 1970-an dan metode ini terbukti berhasil meluluskan para pengemudi yang mampu berperilaku baik di jalanan. Bahkan, di beberapa negara maju, metode ini masih menjadi salah satu syarat dalam pembuatan SIM.

“Metode ini telah dilakukan di tahun 1970-an dan terbukti efektif dalam mengetahui perilaku pengemudi kendaraan sebenarnya. Metode ini telah diterapkan di banyak negara, namun di Indonesia, metode ini hanya dilakukan pada perusahaan multinasional saja,” tambah Jusri . (E-002)***