Di Bandung Selatan Ada Kereta Api?

49

BANDUNG Selatan pada masa depan akan memjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Manurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sekira 27 tahun mendatrang Bandung Selatan menjadi bagian dari  megapolitan urban. Penduduk Jakarta dan Bandung akan mencapai julah 80 juta jiwa, Bandung Selatan sebagai pusat pertumbuhan  ekonomi, bukan Jakarta Hal itu sudah tampak sejak sekarang. ”Secara kasat mata, volume kendaraan di daerah itu sangat tinggi. Investor semakin banyak yang menanamkan modalnya di kawasan Bandung Selatan,” kata Kepala Bidang Fisik Bappeda Jabar, Slamet Multyanto, seperti dimuatrPR  25/6.

Menghadapi pertyumbuhan yang sangat pesat di kawasan Bandung Selatan itu, pemerintah mulai mempersiapkan berbagai antisipasi. Antara lain, setelah diresmikannya Tol Soroja, kini dipersiapkan upaya pelebaran jalan utama menuju Bandung Selatan dari ROW 16 menjiadi ROW 20. Pemerintah juga mulai menetapkan rencana pembangunan jalan lintas Ciwidey, jalan lintas cepat Soreang-Katapang-Baleendah-Majalaya, jalan lintas Banjaran, jalan lintas Majalaya Pembangunan flyover Kopo dan Buahbatu.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sesuai rencana Pemerintah Pusat, berencana membangun jalur kereta api LRT Bandung Raya. LRT tersebut melintasi lima kota/kabupaten yakni Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Cimahi, dan Kabupaten Sumedang. LRT itu dipastikan akan terintegrasi ke dalam tiga koridor yang mengarah ke Bandung Selatan. Pada Februari 2016 lalu, disepakati pula pembangunan lintas kereta api Ciwidey – Rancabuaya. Sayang pada kesepakatan itu tidak tercantum revitalisasi jalur kereta api Kiaracondong – Ciwidey. Padahal jalur itu akan menjadi salah satu solusi memecah kemacetan di Bandung Selatan dan akan menjadi solusi bagi kelancaran arus barang dan distribusi hasil pertanian/perkebunan di Bandung Selatan. Entah kalau revitalisasi KA Bandung-Ciwidey itu dinilai akan overlapping dengan LRT Bandung Raya.

Pertumbuhan ekonomi kawasan Bandung Selatan yang langsung terasa oleh masyarakat, terjadinya kemacetan luar biasa di semua jalan penghubung Bandung Selatan dan Kota Bandung.  Arus lalu lintas di Jl. Kopo sudah mulai teratasi dengan diremsikannya Jalan Tol Soroja. Akan tetapi kemacetan di jalur Sorang-Banjran-Baleendah-Bandung, masih terjadi setiap saat apalagi apabila arus lalu lintas terhambat banjir di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang. Pertumbuhan perumahan dan pertokoan yang sangat pesat tidak disertai pembangunan infrastruktur yang memadai di kawasan itu. Dipastikan kemacetan sepanjang Baleendah – Biojongsoang – Bandung akan semakin parah.

Masyarakat Bandung Selatan yang selama bertahun-tahun ini tidak merasa nyaman dalam melakukan aktivitas melalui jalan umum, berharap pelaksanaan semua rencana pengembangan Bandung Selatan itu segera terwujud. Masyarakat tidak ingin, pembangunan infrastruktur yang sudah terencana sangat matang itu, bernasib sama dengan Tol Soroja. Dari perencanaan sampai terwujud, memakan waktu yang sangat lama. Tersalip pembangunan infrastruktur di tempat lain. Masyarakat sangat berharap pembangunan flyover dijadikan proyek prioritas. Pembangunan flyover itu selain mengatasi kemacetan juga akan dapat menghindari para pengguna jalan dari banjir yang selalu menggenangi jalan raya.

Bandung Selatan sebagai kawasan industri dan pariwisata, benar-bnenar membutuhkan infrastruktur yang prima. Jalan menuju obyek wisata di Panghalengan, dan Ciwidey, bahkan yang tembus hingga pantai selatan, terasa  terlalu sempit. Setiap hari libur jalan ke dan dari kedua tempat wisata itu selalu macet. Hal itu menghambat arus wisata, terutama wisatawan asing. Mereka merasa tidak nyaman bepergian ke Bandung Selatan padahal obyek wisata di selatan sangat menarik dan selalu menjadi daerah kunjungan wisata favorit. Lintas Ciwidey sebagaimana direncanakan pemerintah, menjadi dambaan masyarakat. Bukan saja untuk kepentingan mobilitas penduduk tetapi juga untuk kepentingan pariwisata dan distribusi hasil pertanian dan perkebunan. Diharapkan jalur lintas Ciwidey itu dibangun sebagai secepatnya dengan ukuran setara ROW 16 atau bahkan ROW 20.

Kemacetan lalu lintas yang selalu terjadi sepanjang hari di jalur Bandung Selatan, akibat kepemilikan  kendaraan pribadi sangat tinggi. Hal itu tidak ditunjang pertumbuhan jaringan dan jalur transportasi yang memadai. Sedangkan dua kota besar Jakarta dan Bandung semakin terintegrasi, dihubungkan dengan pembangunan industri serta perkotaan yangh tidak terputus.

Pembagunann kota baru di Padalarang kemudian disusul dengan pembangunan kota baru di Walini, dapat mengintegrasikan Bandung- Purwakarta dan menyatu dengan pembangunan industri dan perkotaan di daerah Bekasi dan Karawang. Sekarang saja, wilayah Karawang yang tadinya hanya berupa persawahan yang sangat luas, sekarang sudah menjadi kawasan industri yang maju sangat pesat. Daerah itu menjadi tujuan urbanisasi paling besar dari semua daerah di Indonesia.Sejak tahun 2015 hingga sekarang, Karawang menjadi tujuan pencari kerja dan arus wisata terbesar di Jawa Barat. Tahun 2017 mencapai angka hampir 6 juta 500 ribu orang. ***