Investasi dan Nilai Ekspor

85

NILAI investasi yang makin besar dapat mendorong laju pertumbuhan industri manufaktur. Namun pada sisi lain, dominasi modal asing, dapat menjadi senjata utama, kaum oposan dalam menyerang kebijakan pemerintah. Hal itu terjadi di mana-mana bahkan di semua negara, termasuk negara maju sekali pun. Kebijakan pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump yang justru melindungi produk dalam negerinya (sebaliknya dari keterbukaan investasi) tetap saja mendapat tentangan banyak pihak, baik dari kaum oposan maupun dari komponen internal.

Kebijakan Indonesia yang seolah-olah menggantungkan perekonomiannya terhadap modal asing, dinilai menjerat diri sendiri dengan utang yang semakin menggunung. Indonesia sudah tidak punya apa-apa lagi, semuanya sudah menjadi milik asing. Industri manufaktur sampai kepada perdagangan kebutuhan pokok rakyat kecil sudah berada di tangan bangsa asing. Tersebarnya toko dan restoran waralaba, merupakan bukti, makin kuatnya modal asing masuk ke perut manusia Indonesia. Akibatnya, pasar tradisional dan warung-warung rakyat semakin terpuruk.

Industri manufaktur yang berorientasi ekspor belum mampu menaikkan nilai ekspor Indonesia. Hal itu terjadi akibat industri manufaktur menggunakan bahan baku impor.Kaum industri  yang berbasis investasi asing, tahun ini  mengimpor bahan baku produksinya seharga 57,96 miliar dolar AS. Sedangkan nilai ekspornya senilai 54,45 miliar dolar AS. Untuk menutup modal bahan baku saja, industri manufaktur harus berusaha keras memanfaatkan pasar domestik padahal kita butuh cadangan devisa dan pendapatan berupa valuta asing.

Salah satu upaya meningkatkan pendapatan manufaktur, pemerintah harus mendorong ketersediaan bahan baku industri dalam negeri. Mengubah ekspor komoditas secara tradisional, berupa hasil pertanian, hasil hutan, dan hasil laut, menjadi produk siap ekspor atau menjadi bahan baku industri. Namun patut diingat, hampir tidak ada negara yang mampu menyediakan bahan baku industri secara murni dari dalam negerinya. Industri pesawat terbang, misalnya, harus mendatangkan komponen industrinya dari luar negeri. Indonesia (PT DI) pernah menjadi pemasok komonen pesawat terbang luar negeri.

Indonesia, sebetulnya memiliki berbagai hasil industri yang berbasis ekspor dengan bahan baku sepenuhnya berasal dari dalam negeri. Akan tetapi produk itu tetap menggunakan mesin industri dan kemasan dari luar negeri. Begitu pula negara industri maju masih membutuhkann investasi dari luar. China masih membuka diri, masuknya investasi dari Jepang dan Kiorea Selatan. Kedua negara itu sekarang mulai melirik negara lain, khususnya Asia Tenggara, dalam berivestasi. Konon, Indonesia menjadi fokus penanaman modal yang dialihkan dari China tersebut.

Dalam perdagangan bebas seperti sekarang ini, dunia investasi menjadi penunjang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi. Negara yang menutup diri dari investasi dan pasar bebas, akan terkucilkan. Namun pemerintah tetap harus berhati-hati dalam menerima dan mengelola investasi luar negeri. Sepanjang Indonesia mampu menyediakan barang atau komoditas secara mandiri, segera alihkan investasi asing itu ke sektor lain.

Selain itu, kita harus bderani mendidik SDM lokal menjadi eksponen industri yang mumpuni. Karena SDM kkita mampu, kita harus menolak masuknya tenaga kerja asing. Benar, kita dan negara mana pun, tidak dapat menolak masuknya tenaga kerja asing begitu saja. Kita terikat dengan perjanjian pasar bebas dengan negara lain. Negara lain pun, secara terbuka menerima masuknya tenaga kerja Indonesia. Tentu saja termasuk tenaga kerja asing pada sektor industri manufaktur. Masuknya TKA seyogianya menjadi pendorong bagi peningkatan profesionalisme para pekerja Indonesia.

Pemerintah harus secara ketat memantau dan mengawasi keberadaan TKA itu. Pemerintah harus secara tegas menindak semua TKA illegal atau yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Produk yang dihasilkannya juga harus benar-benar beorientasi ekspor. Mengapa harus ekspor bukankah Indonesdia memiliki potensi pasar yang luar biasa banyaknya? Industri harus mampu memasok dan memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi andalan ekspor.

Kita harus meningkatkan ekspor untuk memasukkan valuta asing dan meningkatkan besaran devisa. ***