Kenaikan BBM, Kado Pahit…

25

SEBUAH  kado pahit di awal bulan Juli 2018, suka atau tidak suka harus diterima. Kado dari Pertamina itu adalah  kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi. Coba kalau  harga BBM  bersubsidi seperti premium,  pertalite dan solar yang naik  tentunya bakal terasa lebih pahit.  Malahan  bisa  mual yang tidak  gampang diobati.

Kenaikan harga BBM  sejak dulu sangat  tidak diharapkan, karena selain memberatkan  dalam hidup dan kehidupan masyarakat  juga memiliki efek domino  atas kenaikan  harga lainnya yang sulit dibendung.

Per tanggal 1 Juli 2018 kado dari pemerintah untuk masyarakat Indonesia berupa naiknya BBM  resmi diberlakukan.  Kenaikan  harga BBM  tersebut cukup mengejutkan di saat masyarakat sedang  demam nonton sepekbola dunia serta menunggu  hasil Pillkada serentak. Eeeh…. diam-diam  harga  BBM meroket.

Bukan sekadar isu, namun sudah menjadi  kenyataan  dan resmi  diberlakukan oleh Pertamina. Kenaikannya  bervariasi, sekitar Rp600 – Rp900 dan berlaku nasional. Harga BBM yang naik adalah Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sedangkan Pertalite  dan Premium  tetap harga lama.

Naiknya BBM  non subsidi  ini, bagaikan operasi  senyap dan tanpa gaduh. Entah untuk keberapa kalinya kenaikan  harga BBM yang senyap itu terjadi?  Berbeda  dengan  kenaikan  harga BBM  tempo dulu  kerap mendapat  pembahasan yang alot antara  eksekutif dan legislatif.

Saya baru tahu kenaikan harga BBM  ketika  akan mengisi bahan bakar  di SPBU Kota Bandung.  Tentu merasa  keberatan, namun apa mau dikata  harga BBM sudah naik.   Keberatan karena  saya mengisi BBM untuk sepeda motor  jenis  Pertamax  Turbo   yang kini harga Rp 10.700/liter bisa menambah biaya hidup, tentunya temasuk masyarakat  lainnya.

Konon  kenikan  harga BBM  harus dilakukan  karena sekarang kita sudah jadi negara pengimpor minyak. Bukan hanya itu pemerintah dalam hal ini pertamina memberikan alasan kenapa harga BBM non subsidi naik karena tak hanya harga minyak yang meroket, kenaikan harga Pertamax Cs juga dipicu menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah.

Pro dan kontra pemerintah dalam menaikan harga  BBM  non subsidi, pasti akan terjadi perbincangan sampai beberapa hari ke depan walaupun pemerintah menaikan BBM  dengan cara  yang senyap dan mengejutkan.  Dan  masyarakat yang akan menilai dan mengawal setiap kebijakan  dilakukan pemerintah.

Ocid Sutarsa, Pasirkaliki Bandung