Rupiah dalam Tekanan

12

Rupiah versus US Dollar. KONTAN/Baihaki/27/8/2015

PENINGKATAN ekspor  menjadi sangat penting agar nilai perdagangan Indonesia meningkat, cadangan devisa bertambah. Sekarang, cadangan devisa makin berkurang dan harus diisi ulang dengan peningkatan ekspordan kepariwisataan.

Sejak Januari 2018 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Akhir 2017 nilai tukar rupiah terhadap diolar AS masih berada pada kisaran Rp 13.200 – 13.400. Sampai minggu pertama  Juli 2018, rupiah terus melorot sampai Rp 14.400 perdolar AS. Angka itu makin mendekati nilai tyukar rupiah terendah yang terjadi tahun 1998, antara Rp 1500 – Rp 1.600 perdolar AS. Swecara internal, saat itu Indonesia mengalami krisi ekonomi sedangkan secara global, hampir semua Negara mengalami krisis moneter. Situasi itu berakibat krisis ekonomi dunia yang berkepanjangan.

Sekarang pun, hampir semua negara merasakan dampak nilai tukar uang nasional terhadap dolar AS yang terus  merosot. Negara yang tengah berkembang, termasuk negara-negara anggota ASEAN, mengalami depresiasi ekonomi. Namun di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand fluktuasi nilai tukar dolar AS itu tidak begitu tampak ke permukaan. Masalahnya, neraca perdagangan negara-negara tersebut cukup kuat. Sedangkan neraca perdagangan Indonesia akhir-akhir ini mengalamui defisit cukup besar.

Nilai impor masih sangat besar dibanding nilai ekspor. Ketimpangan neraca perdagangan terjadi akibat daya saing komoditas Indonesia di pasar global, rendah. Indistri manufaktur yang berorientasi ekspor masih harus mengimpor bahan bakunya. Impor bahan baku industri bernilai 75% dari jumlah nilai impor.

Ekspor komoditas andalan seperti CPO dan hasil pertanian, masih terus mengalami guncangan teknis dan nonteknis dari berbagai negara pengimpor. Minyak sawit mentah (CPO) kita dihambat masuk ke beberapa negara, termasuk Uni Eropa dan AS dengan berbagai alasan. Penghambatan itu punya pengaruh besar terhadap perkembangan industri dan perkebunan kelapa sawit. Pemerintah  ”terpaksa” harus turut campur. Menteri luar negeri harus melakukan safari diplomasi ke berbagai negara, mengklarifikasi penilain negatif produk CPO Indonesia.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, selain akibat neraca perdagangan yang makin pincang, kebijakan ekonomi negara maju, terutama Amerika Serikat dan China, berakibat makin terpuruknya usaha perdagangan Indonesia. Perang dagang China – AS, serta kebijakan ekonomi dan keuangan AS berpengaruh sangat besar terhadap dunia moneter dan perdagangan internasional. Presiden AS, Donald Trump, melakukan tarik- ulur kebijakan moneternya. Impor barang dari China dipangkas dengan menaikkan suku bunga dan menaikkan bea masuk. Sebaliknya, China secara sepihak, memagari pintu pagar bambunya agar produk ekspor AS tidak dapat masuk ke balik tirai bambu.

Kebijakan ekonomi Trump itu bagi Indonesia, selain berdampak negatif, sebetulnya ada nilai positifnya. Pintu ekspor Indonesia terbuka lebar, baik ke AS maupun ke China. Komoditas ekspor AS yang tidak boleh masuk ke China dan sebaliknya,  merupakan kesempatan bagi Indonesia menggenjot ekpspor..

Di samping peningkatan ekspor, devisa dapat meningkat dengan menata dan meningkatkan kepariwisataan. Indonesia kaya akan destinasi wisata. Selain punya Bali yang sudah menjadi ikon pariwisata duna, kita juga punya geo park yang diakui dunia melalui keputusan PBB, terakhir, UNESCO menetapkan Ciletuh di Jawa Barat, sebagai geo park dunia. Indonesia juiga punya destinasi wisata alam dan budaya yang sangat menarik. Arus wisata mancanegara yang mencapai rausan juta manusia itu, yang masuk Indonesia masih terlalu sedikit. Promosi wisata besar-besaran harus segera dilakukan secara intensif dan ekstensif.

Masuknya wisman ke Indonesia sangat besar manfaatnya, baik langsung kepada rakyat, termasuk UMKM, maupun terhadap peningkatan devisa negara. Sekarang justru devisa itu semakin berkurang. Sangat banyak wisatawan Indonesia yang justru berkunjung ke berbagai negara di dunia. Devisa pun semakin terkuras. Arus wisata yang semakin banyak, kita akan memiliki cadangan devusa yang memadai.***