Asal Usul Sate dan Berbagai Citarasa Sate Nusantara

18

SATE merupakan makanan berbahan daging sapi/kambing yang dipotong kecil-kecil , yang ditusuk bilah bambu (tusukan sate-red), kemudian dipanggang di atas bara api arang kayu. Sate disajikan dengan berbagai macam bumbu yang bergantung pada variasi resep sate.Daging yang dijadikan sate antara lain daging ayamkambingdombasapibabikelincikuda, dan lainnya.

Sate diketahui berasal dari Jawa, dapat ditemukan di seluruh Indonesia dan  dianggap sebagai salah satu masakan nasional khas Indonesia. Sate juga populer di negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti MalaysiaSingapuraFilipina, dan Thailand. Sate juga populer di Belanda yang dipengaruhi masakan Indonesia yang dulu merupakan koloninya.

Sate adalah hidangan yang sangat populer di Indonesia dengan berbagai suku bangsa dan tradisi seni memasak telah menghasilkan berbagai jenis dan bumbu sate. Di Indonesia, sate dapat diperoleh dari pedagang sate keliling, pedagang kaki lima di warung tepi jalan, hingga di restoran kelas atas, serta kerap disajikan dalam pesta dan kenduri. Resep dan cara pembuatan sate beraneka ragam bergantung variasi dan resep masing-masing daerah. Hampir segala jenis daging dapat dibuat sate. Sebagai negara asal mula sate, Indonesia memiliki variasi resep sate . Biasanya sate diberi saus , bisa berupa bumbu kecapbumbu kacang atau yang lainnya, biasanya disertai acar dari irisan bawang merah, mentimun, dan cabai rawit.

Sate dimakan dengan nasi hangat , tapi di beberapa daerah disajikan dengan lontong atau ketupat.Kata “sate” atau “satai” diduga berasal dari bahasa Tamil. Diduga sate diciptakan oleh pedagang makanan jalanan di Jawa sekitar awal abad ke-19, berdasarkan fakta bahwa sate mulai populer sekitar awal abad ke-19 bersamaan dengan banyaknya pendatang dari Arab dan  Muslim Tamil dan Gujarat dari India ke Indonesia.

Hal ini pula yang menjadi alasan populernya penggunaan daging kambing dan domba sebagai bahan sate yang disukai oleh warga keturunan Arab. Dalam tradisi Muslim Indonesia, hari raya Idul Adha atau hari raya kurban adalah peristiwa istimewa. Pada hari raya kurban ini daging kurban berlimpah dan dibagikan kepada kaum dhuafa dan miskin. Kebanyakan merayakannya dengan bersama-sama memanggang sate daging kambing, domba atau sapi.

Cerita lain asal kata sate,  berasal dari istilah Minnan-Tionghoa sa tae bak  yang berarti tiga potong daging. Akan tetapi hal ini diragukan karena secara tradisional sate terdiri atas empat potong daging, bukan tiga. Dan angka empat dianggap bukan angka yang membawa keberuntungan dalam kebudayaan Tionghoa. Warga Tionghoa Indonesia juga mengadopsi dan mengembangkan sate sesuai selera mereka, yaitu sate babi yang disajikan dengan saus nanas atau kecap yang manis dengan tambahan bumbu-bumbu Tionghoa, sehingga sate Tionghoa memiliki cita rasa seperti hidangan daging panggang khas Tionghoa.

Dari Jawa, sate menyebar ke seluruh kepulauan Nusantara yang menghasilkan beraneka ragam variasi sate. Pada akhir abad ke-19, sate telah menyeberangi selat Malaka menuju Malaysia, Singapura, dan Thailand, dibawa oleh perantau Jawa dan Madura yang mulai berdagang sate di negeri jiran tersebut. Pada abad ke-19 istilah sate berpindah bersamaan dengan perpindahan pendatang Melayu dari Hindia Belanda menuju Afrika Selatan, di sana sate dikenal sebagai sosatie.

Orang Belanda juga membawa hidangan ini—dan banyak hidangan khas Indonesia lainnya—ke negeri Belanda, hingga kini seni memasak Indonesia juga memberi pengaruh kepada seni memasak Belanda.  Sate ayam atau sate babi adalah salah satu lauk-pauk yang disajikan dalam hidangan Rijsttafel di Belanda.

Indonesia adalah negeri asal mula sate, dan hidangan ini dikenal luas di hampir seluruh wilayah di Indonesia dan dianggap sebagai masakan nasional dan salah satu hidangan terbaik Indonesia. Sate, adalah hidangan  dalam masakan Indonesia, dihidangkan di mana-mana, mulai dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran mewah di hotel berbintang, demikian juga di rumah atau dalam berbagai pesta, perayaan, dan kenduri. Hasilnya  tumbuh berkembang berbagai variasi resep sate di seluruh kepulauan Indonesia.

Sate Maranggi

Sate Maranggi merupakan sate khas Purwakarta, Jawa Barat , biasanya terbuat dari daging kambing atau daging sapi. Namun ada juga yang berpendapat bahwa sate maranggi berasal dari Cianjur.

Penjaja sate maranggi dapat ditemukan hampir di setiap sudut Kota Purwakarta, sebagian menajajakan dengan cara berkeliling. Yang membedakan sate maranggi dengan sate lainnya adalah bumbunya terbuat dari kecap yang memiliki cita rasa paduan manis, asam, dan pedas yang menyentuh lidah kala menikmati sate berbumbu khas ini. Paduan rasa yang menggoda selera ini muncul karena bumbu sate maranggi terbuat dari kecap, sambal cabai hijau ditambah sedikit cuka lahang (cuka yang terbuat dari tebu). Saat disajikan, bumbu kecap itu dilengkapi dengan irisan bawang merah dan tomat segar.Biasanya sate maranggi dihidang dengan ketan bakar atau nasi timbel.

Sate Padang

Sesuai namanya, sate Padang merupakan sate khas dari daerah Padang, Sumatera Barat. Sate ini memiliki cita rasa yang khas karena saus kuningnya yang diolah menggunakan banyak campuran rempah. Saus ini terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan bawang putih, jintan putih, ketumbar, jahe, kunyit, lengkuas, bubuk kari, garam, jeroan, dan kaldu daging. Pada penyajiannya, saus kuning tersebut biasanya disiramkan di atas sate yang telah dibakar.

Sate Madura

Sate Madura merupakan sate asli dari Madura, Jawa Timur. Sate Madura biasanya berbahan daging ayam. Namun terkadang, sate Madura menggunakan daging kambing yang ditandai dengan digantungnya bagian kaki belakang si kambing di gerobak sang penjual sate. Bumbu sate Madura terbuat dari campuran kacang yang ditumbuk halus bersama petis dan sedikit bawang merah. Sate Madura asli biasanya dibakar dengan api yang dihasilkan dari batok kelapa yang dihanguskan lebih dulu yang disebut dengan arang batok kelapa. Rasa sate Madura ini sangat gurih dan sedikit manis.

Sate Klathak

Sate klathak adalah sate khas dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelum dibakar, sate klathak hanya dilumuri dengan garam dan tidak dibumbui dengan kecap atau saus kacang. Tusuk sate yang digunakan pun sangat unik. Sate klathak tidak menggunakan tusukan bambu , tapi dari  besi jeruji sepeda. Sate ini dinamakan sate klathak karena terdengar bunyi berkletak seperti besi terbakar yang dihasilkan saat proses pembakaran. Daging kambing sate klathak ini sangat enak karena matang secara merata dan sangat empuk. Hal tersebut dikarenakan daging kambing yang dibakar terkena panas secara merata dari besi jeruji sepeda yang digunakan sebagai tusuk sate.

Sate Lilit

Sate lilit adalah sate asli nusantara khas dari daerah Bali. Sate lilit terbuat dari daging cincang yang sebelumnya sudah dicampur dengan bumbu khusus. Bumbu khusus tersebut terdiri dari bawang merah, merica, jeruk nipis, kelapa parut, dan santan kental. Adonan sate lilit dicampur rata kemudian dililitkan pada batang serai atau bambu yang digunakan sebagai tusuk sate. Setelah itu, sate akan digarang sampai matang.

Sate Ponorogo

Sate ayam Ponorogo adalah jenis sate yang berasal dari Kota Ponorogo, Jawa Timur. Daging ayam sebagai bahan baku sate  terkenal sangat empuk dan bumbunya juga sangat meresap. Perbedaan sate Ponorogo dengan sate-sate lainnya terletak pada cara memotong dagingnya. Dagingnya tidak dipotong menyerupai dadu seperti sate ayam pada umumnya, melainkan disayat tipis panjang menyerupai fillet, sehingga selain lebih empuk, gajih atau lemak pada dagingnya pun bisa disisihkan. Sate Ponorogo dibumbui dengan cara dibacem agar bumbunya lebih meresap ke dalam daging.  Setelah matang, sate dilumuri dengan bumbu kacang yang ditumbuk halus dan dilumuri dengan irisan bawang merah dan juga cabai rawit. (E-001) ***