Tessa Vebista Basarah, Miliki Mental Memberi, Bukan Mental Diberi

36

KELAHIRAN Bandung 17 Februari 1993, Tessa Vebista Basarah merupakan anak ketiga dari pasangan Tatang Basarah dan Elies Siti Rohmah.  Sebagai mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi di program Pascasarjana Universitas Pasundan (Unpas), Tessa juga terpilih sebagai Mojang mewakili Kabupaten Bandung Barat yang diraihnya pada ajang Mojang dan Jajaka  pada tahun 2017.  Tessa adalah juga lulusan Help University Malaysia jurusan Business Entrepreneurship dengan gelar B.Bus (entrepreneurship).

Awal ketertarikannya untuk mengikuti ajang Mojang Jajaka dimulai pada tahun 2015, yang mana ketika itu ia menemani sahabatnya yang menjadi salah satu sponsor  ajang Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Bandung Barat dan pemilik  Zebra Room Costume.

“Jujur, pada saat itu saya tidak mengerti apa itu Mojang Jajaka, dan teman saya ini mendorong saya untuk mengikuti seleksi, namun momen seleksi ketika itu malah terlewatkan, karena  saya sibuk dengan pekerjaan, dan juga mempersiapkan diri untuk mengikuti test masuk program Pascasarjana.  Beberapa waktu kemudian, tanpa disengaja, ketika saya sedang bercengkrama bersama teman-teman, dan saya membuka Instagram, disitu terlihat ada pengumuman seleksi MOKA KBB 2017.  Ketika itu, saya sempat bergurau bahwa saya mau jadi Mojang, dan teman-teman mendorong saya untuk mencobanya, walaupun sebelumnya mereka sempat tertawa dan berfikir ‘nothing is impossible’.  Akhirnya saya mengirimkan CV dan foto melalui email, walaupun sebenarnya saya merasa tidak percaya diri, karena dilihat dari segi usia, saya pas dengan persyaratan seleksi yakni 24 tahun,  namun tinggi badan saya kurang sekitar 5 cm, dan berat badan saya saat itu sedang tidak ideal.  Singkat cerita, tahapan seleksi tetap saya ikuti.

Ketika itu, saya melihat peserta lain, secara fisik mereka sangat memenuhi syarat, dan kebanyakan masih muda belia dibandingkan saya.  Sayapun mengakui bahwa,  saya masih harus menambah lagi pengetahuan tentang Kabupaten Bandung Barat (KBB), karena meskipun sejak kecil saya tinggal di KBB, namun tidak pernah terpikirkan bahwa saya  akan mengikuti seleksi ajang pemilihan Moka.  Memang betul, dalam hidup ini ‘nothing is impossible’, karena kalau memangTuhan berkehendak, yang secara manusiawi saya sulit untuk bisa lolos seleksi, ternyata saya malah terpilih menjadi Mojang Wakil II KBB 2017.  Selain keluarga, orang-orang terdekat saya juga tidak percaya bahwa saya berhasil mendapatkan predikat tersebut, sungguh sebuah kejutan.

Saya bukanlah seorang yang sangat ambisius dalam menjalani segala aspek kehidupan, karena saya menyadari bahwa, di alam semesta ini ada yang namanya faktor ‘X’ yang tidak bisa kita tebak atau kita atur maunya seperti apa.  Inilah yang terjadi dalam kehidupan saya, dan saya hanya berdoa  sebelum mengikuti tes seleksi : ‘Ya Tuhan, saya tidak tahu Tuhan mau menjadikan saya sebagai apa dan untuk apa, namun satu hal yang saya tahu bahwa, Tuhan akan memberi  yang terbaik bagi saya,  sehingga apapun yang terjadi dalam kehidupan saya, itu adalah kehendak-Mu dan itulah yang terbaik bagi saya,”  cerita Tessa  kepada BB Sabtu lalu di Bandung.

Diungkapkan pula oleh Tessa bahwa, predikat tersebut  memotivasi dirinya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih baik dan mempunyai citra diri.  Gadis tomboy ini mengaku cukup sulit untuk membentuk citra diri.

“Bagaimana kita harus dapat menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu, dan ketika menjadi mojang, kita juga harus bisa membuat kesan  bahwa diri kita ini adalah seorang pemilik predikat Mojang dari ajang Pasanggiri Mojang Jajaka,”  ujar penggemar warna hijau tosca, pink, gold, dan merah cabai ini.

Menurut Tessa, ia bukanlah sosok yang suka mengikuti kejuaraan. Ia senang bernyanyi sejak duduk di Sekolah Dasar (SD), tapi tidak pernah ada kompetisi apapun yang ia ikuti.  Kontes Mojang dan Jajaka merupakan ajang pertama yang diikutinya. Kegiatan Moka saat ini adalah, melakukan promosi destinasi pariwisata Kabupaten Bandung Barat (KBB),  khususnya bagian selatan.  Moka juga aktif mengikuti pelatihan dari Kementerian Pariwisata serta Pemprov Jabar, maupun dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan KBB tentang pariwisata di Kabupaten Bandung Barat.

Bagi Tessa, dengan menjadi seorang Mojang, kita mempunyai kesempatan untuk lebih dekat dengan masyarakat, yakni ketika kita sedang mengunjungi salah satu destinasi pasiwisata di wilayah KBB, maka kita dapat berinteraksi dengan masyarakat setempat, sambil bertanya seputar kebudayaan di desa tersebut, yang masih menjunjung tinggi kearifan lokal, dan bisa dikaji untuk kepentingan pribadi maupun perkuliahan.

“Saya rasa, ketika saya berkunjung sebagai wisatawan atau sebagai seorang Mojang, maka respon masyarakat dan jawaban yang diberikan dari seorang nara sumber kepada saya sangatlah berbeda.  Dibalik semua itu, ada juga sisi dukanya bila menjadi seorang Mojang, yakni adanya pandangan maupun image negatif terhadap Mojang, dan itu tidaklah mudah untuk diatasi.  Mulai dari keterbatasan bahasa daerah dalam berkomunikasi, seperti ketika  saya ditanya mengapa saya bisa menjadi Mojang, bila melihat keberadaan fisik saya. Banyak orang yang belum memahami bahwa, Mojang itu juga bukanlah manusia yang sempurna, bukan pula seorang yang serba tahu segalanya.  Ketika saya mengahadapi hal ini, saya mencoba untuk berlapang dada, dan mencoba menjelaskan semampu saya dengan baik, agar pihak lain bisa sama-sama belajar dan mengembangkan diri menjadi jauh lebih baik lagi,” ungkapTessa.

Tessa juga mengaku bahwa, ia selalu membuka diri dan pikirannya seluas mungkin,  sehingga ketika dihadapkan pada hal yang tidak sesuai dengan pandangan, maka ia akan mencoba melihatnya dari berbagai sisi.  Baik atau buruk, dan salah atau benar suatu masalah, semuanya akan terbentuk dari bagaimana cara kita membentuk paradigma kita sendiri.  Berasal dari keluarga yang beragam,  membuat Tessa jauh lebih membuka diri dan pikirannya terhadap perbedaan, dan tidak pernah menilai orang secara generalisme, karena bagi Tessa, yang tidak tepat itu adalah pola pikir pada hal tertentu saja, tapi bukan orangnya.

 “Sudah seharusnya kita saling menghargai dan menghormati terhadap sesama. Ketika kita membuka diri, maka sudah sepantasnya kita juga memberikan toleransi terhadap perbedaan  itu, termasuk perbedaan pandangan, tanpa menimbulkan rasa benci.  Hal inilah yang menjadi salah satu alasan, mengapa saya meneruskan studi di Magister Ilmu Komunikasi, dan saya menyadari bahwa, komunikasi itu bisa menjadi masalah, sekaligus menjadi solusi dari problematika kehidupan,” tuturnya.

Dengan predikat Mojang, Tessa  juga berusaha untuk dapat memenuhi ekspektasi masyarakat terhadap Mojang, yakni dengan memperbanyak interaksi terhadap budayawan, dan orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih tentang KBB. Menjadi seorang Mojang, menjadi sebuah batu loncatan bagi dirinya, karena selain tertarik di bidang kebudayaan, Tessapun menyukai bidang musik, seperti yang sedang dijalankannya saat ini dengan menjadi seorang penyanyi.

“Salah satu musisi lagu balada kota Bandung yang bernama Ganjar Noor mempunyai lagu tentang salah satu destinasi pariwisata KBB, yakni ‘Situ Ciburuy’ yang ingin saya nyanyikan, sekaligus mempromosikan destinasi wisata tersebut, berkaitan dengan predikat saya sebagai Mojang KBB.  Saya juga diberi kesempatan untuk menyanyikan lagu-lagu kang Ganjar, yang liriknya menggunakan bahasa Sunda, dan diajak pula oleh kang Ganjar untuk bergabung dalam komunitas pengamen Ampera maupun komunitas musik Balada,” ungkap Tessa.

Prioritas hidupnya yang utama adalah keluarga dan fokus pada kuliah.  Setelah itu,  barulah karirnya sebagai Mojang dan penyanyi. Kendala yang kadang dihadapi Tessa dengan menjadi seorang mahasiswi, Mojang sekaligus sebagai penyanyi adalah, kesulitan dalam membagi waktu.

“Mengenai musik, saya selalu terbuka terhadap segala jenis musik, disamping untuk meningkatkan kualitas diri. Ketika dipanggung, saya harus bisa mengatur emosi, agar tidak canggung dan bisa membawa suasana nyaman dengan lagu yang saya bawakan, sekaligus menyampaikan pesan melalui lagu tersebut dengan baik,”  ujar Tessa yang lebih fokus pada musik Pop

“Saya belum mempunyai album, namun sekarang mini album saya bersama kang Ganjar sedang dalam proses produksi. Sebelumnya, saya hanya seorang wedding singer.  Saya menyukai dunia tarik suara, karena sejak kecil saya terbiasa mendengarkan lagu yang diputar oleh orang tua saya, dan membuat saya bernyanyi secara spontan, yang akhirnya juga menjadi profesi.  Dengan bernyanyi saya  bisa mencurahkan isi hati  tanpa mengharuskan adanya pendengar.  Setiap manusia mempunyai rencana indah untuk kehidupan, namun semuanya dikembalikan kepada Tuhan yang akan menentukan,” cerita Tessa.

Menurut Tessa, dukungan pemerintah terhadap perkembangan seni dan budaya lokal sudah cukup, tapi akan lebih baik lagi jika pemerintah juga memberikan perhatian terhadap pelaku seni dan budaya lokal.  Pemerintah diharapkan bisa memberi wadah yang lebih besar terhadap pekerja seni, karena berkesenian itu membutuhkan banyak effort dari keuletan, keterampilan maupun kreatifitas. Tessa berharap,  bisa diadakan festival budaya lokal di setiap daerah, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat mengingat kembali budaya lokalnya, walaupun dunia meminta kita untuk menjadi modern.

“Salah satu upaya yang dilakukan yang bisa dilakukan adalah, bagaimana kita tidak malu mengakui budaya lokal  dan bangga menjadi warga Bandung dengan segala kearifan lokalnya.  Banyak orang yang terlalu terlena dengan modernisasi dan  melupakan budaya lokal, padahal budaya lokal bisa dipadukan dan bisa saling bersinergi dengan alam modernisasi.  Contohnya, media sosial banyak menyita perhatian masyarakat, dan akan menjadi lebih baik, bila media sosial ini bisa menjadi sarana edukasi maupun sosialisasi budaya lokal, karena budaya seni itu dapat mempersatukan perbedaan, sekaligus pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.  Karena sejatinya, kita sebagai manusia harus mempunya mental memberi, bukan mental diberi.  Oleh karena itu, marilah kita memberi apa yang kita punya, apapun bentuknya, selama itu berguna,” pungkas Tessa.     (E-018)***