Dampak Penggunaan Internet Berpengaruh Pada Model Usaha Ritel

16

BISNIS BANDUNG – Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jabar, H.Hendarta,SH.MM, mengungkapkan , beroperasinya internet saat ini baru disadari oleh warga di seluruh penjuru dunia yang dapat merasakan efek dari penggunaannya. Pemanfaatan internet pertamakali dilakukan oleh Jerman, dan negara inilah yang yang kemudian mempopulerkan istilah industri 4.0

Aprindo sebagai wadah para pelaku usaha ritel yang berada di sektor riil, menurut Hendarta , harus merespon  era ini, agar para pelaku usaha (ritel) tidak hanya mendengar tanpa melakukan langkah antisipatif. “Program revolusi industri 4.0 yang kini berkumandang , tentu berpengaruh terhadap model usaha ritel, karena sedianya peritel hanya pedagang konvensional dengan sekedar sentuhan teknologi,”ucap Hendarta menyebut pelaku usaha ritel

Dunia usaha kini tengah memasuki “new era”, era belanja baru,  cara berbelanja yang lebih mudah/praktis tanpa harus ribet. Belanja online bagi generasi milenial sekarang sudah menjadi pilihan. Dikemukakan Hendarta , anggota Aprindo kini tengah mempersiapkan diri terhadap perubahan model belanja (online) disamping model belanja konvensional (offline). Beberapa anggota Aprindo kini banyak “bermain” di keduanya (offline dan online) walaupun secara kontribusi penjualan online belum menunjukkan angka yang signifikan,  prosentasenya masih di bawah 10% .

Walaupun masih relatif kecil dibandingkan dengan yang masih berkunjung ke toko (belanja konvensional/offline) para riteler tidak boleh memandang sebelah mata. Bahwa dunia tengah mengalami perubahan (model belanja), kita harus berbenah, mempersiapkan diri, sebelum toko – toko (konvensional) perlahan–lahan akan ditinggal konsumennya (generasi milenial). Adanya “perubahan” ini harus disikapi dengan nalar yang positif, era revolusi 4.0 mungkin saja masih dianggap sesuatu yang baru, masih perlu waktu ke arah sana. Namun realita, bahwa era itu tengah “merasuki” kehidupan , dimulai dengan hal – hal yang sederhana, seperti membeli tiket kereta api, pesawat terbang , dilakukan masyarakat melalui online, memesan hotel pun lebih suka dengan online, selain lebih mudah, praktis sekaligus murah.

Dunia usaha harus adaptif, mengikuti perubahan dunia, bahwa generasi sekarang (generasi milenial) adalah masyarakat yang menjadi “konsumen” , disamping a masih ada generasi baby boomers (60-an) yang tetap memilih belanja model lama, konvensional. “Apakah sektor usaha/niaga di Indonesia sudah “melek” internet. Kalaupun belum semua , namun mereka sekarang sudah mengenal smartphone bahkan banyak orangtua sudah familiar dengan penggunaannya, contoh sederhana pemesanan “Go Food”, membeli makanan berbasis aplikasi, pemesanan taksi Gojek, Grab, Go Car dan sejenisnya,” tutur Hendarta, Senin (9/7/18).

Para pelaku usaha, baik itu anggota Aprindo maupun pelaku usaha, lanjut Hendarta , hendaknya mulai dikenalkan melalui sosialisasi, apa itu revolusi industri 4.0, walau sekarang ini kita dapat dengan mudah mengakses internet mencari literatur, informasi tentang revolusi industri 4.0 tapi alangkah baiknya tatkala pemerintah melalui instansi/institusi terkait juga menyampaikan mengenai hal ini, efeknya terhadap tatanan kehidupan kita. Sehingga masyarakat kita yang begitu besar dan tersebar, terinformasikan. “Mereka adalah bagian dari dunia yang tengah berubah sejalan tuntutan jaman, memasuki era baru, era revolusi industri 4.0,” ucap Hendarta.

Kolaborasi Jadi Kunci Utama

Sementara itu,  Ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia – HIPMI Bekasi Raya, Radityo Egi Pratama, ST, MBA berpendapat, program Revolusi Industri 4.0 yang berbasis pada dunia online/internet atau IoT (Internet of Things). “Fenomena banyak muncul toko online adalah salah satu indikator pengaruh revolusi industri 4.0. Jenis usaha yang bersifat collaborative antara pemilik produk dengan calon pembeli”, ungkap Radityo .

Indikator banyaknya perusahaan berbasis online , menjadikan toko tidak lagi menjadi ujung tombak sales suatu usaha.   Kendala yang dihadapi pelaku usaha/niaga dalam mengaplikasikan/menyongsong program Revolusi Industri 4.0 yakni membangun kepercayaan calon konsumen karena calon pembeli tidak bisa melihat dan menyentuh secara langsung barang yang dibeli.

Dikemukakan Radityo Egi Pratama , pemberlakuan Revolusi Industri 4.0 memiliki banyak pengaruh positif maupun negatif. Positifnya pada biaya yang relatif lebih rendah dibanding industri sebelumnya. Dampak negatifnya , rentan penipuan , persaingan begitu ketat, relatif lebih mudah dalam menjatuhkan kompetitor. ( E-018) ***