Perang Dagang, Rupiah Loyo

13

NILAI rupiah  atas dolar Amerika Serikat  akhir-akhir ini  nampak meradang, sewot, lunglai dan makin loyo. Konon  faktor eksternal perang dagang AS-Cina  menjadi faktor rupiah tertekan.  Upaya Bank Indonesia (BI)  menaikan suku bunga acuan  masih belum dapat mendongkrak nilai tukar rupiah.

Ketika saya menulis  untuk  rubrik  “Aspirasi”  ini  kurs  rupiah  tengah mencapai posisi jual Rp 14.481 dan beli Rp 14.337. Ya,  faktor utama pelemahan rupiah  selain perang dagang  juga kebijakan The Fed yang cenderung terus menaikan tingkat suku bunga. Hal tersebut membuat permintaan akan dolar meningkat (over demand),  sehingga posisinya terus menguat dan rupiah  loyo.

Intervensi BI dengan meningkatkan suku bunga acuan kelihatannya belum cukup efektif dalam mengerem laju depresiasi rupiah. Posisi Indonesia dirugikan akibat perang dagang,  karena berada di bawah global supply chain sebagai negara pemasok bahan baku AS dan Cina.

Jika volume perdagangan dunia turun, imbasnya permintaan batubara, sawit, hingga karet akan anjlok. Belum ada perang dagang saja, dalam lima bulan terakhir ada empat  kali defisit perdagangan. Apalagi paska dimulainya perang dagang AS-Cina, defisit perdagangan kita  tentunya makin bengkak.

Ada kaitan erat antara melemahnya ekspor dengan permintaan rupiah yang anjlok.  Dampak lain adalah kita  jadi target barang impor Cina.  Dan banjir impor  itu membuat permintaan valas terutama dolar naik signfikan.

Untuk meredam gejolak rupiah tentu ada solusinya.  Permintaan rupiah berkaitan erat dengan lonjakan impor. Selain industri yang butuh bahan baku impor, penyebab impor bengkak adalah proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan  BUMN. Nah !

Yusuf  Abidin, Rajawali Bandung