Virus Baru Flu Burung Rugikan Peternak

40

INDONESIA pernah dilanda virus flu burung, H5N1, yang mewabah dan menimbulkan korban jiwa yang cukup banyak. Akibat mewabahnya flu burung itu, nyaris membuat peternakan unggas lumpuh. Banyak peternakan unggas, terutama ayam, dan populasi burung merosot tajam. Impor burung, terutama burung kicau, dihentikan secara total. Burung sejenis wanbi, poksay, dan sejenisnya yang pernah sangat populer di kalangan pehobi burung, hilang dari peredaran. Banyak orang yang berhenti mengonsumsi unggas seperti ayam, bebek, entog, burung dara, termasuk telur.

Beruntung, Indonesia dapat mengatasi masalah flu burung itu. Produktivitas dan pasar unggas kembali notrmal. Orang Indonesia tidak merasa khawatir terpapar virus mematikan itu. Produktivitas dan konsumsi unggas terus meningkat dari waktu ke waktu. Masukan protein lewat telur dan daging unggas tidak terhambat lagi. Hal itu terbukti dari makin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan daging dan telur unggas. Setiap musim Lebaran dan Tahun Baru, pasar unggas sangat ramai. Harga di tingkat konsumen meningkat tajam. Pasokan sedikit tersendat karena ptoduktivitas di tingkat peternak tidak seimbang dengan permintaan pasar. Hal itu berimbas terhadap ketersediaan bibit unggas tertetas (DOC).

Masalah serangan virus H5N1  sudah benar-benar teratasi dan tinggal sejarah. Masyarakat tidak perlu takut lagi beternak dan mengonsumsi unggas. Namun para pehobi burung berkicau masih harus puas mendengar kicauan burung lewat kaset atau CD. Pintu impor burung masih tetap tertutup. Pemerinrah akan tetap berhati-hati, bibit penyakit hewan seperti flu burung, masih mungkin masuk dan berkembang di sini, melalui masuknya impor berbagai jenis burung. Impor unggas harus tetap diawasi secara ketat, termasuk impor daging beku dan daging unggas. Pemerintrah harus menjamin,  masyarakat terbebas dari rasa takut makan daging dan telur unggas.

Di tengah-tengah suasana aman dan nyaman berkaitan dengan perunggasan itu, tiba-tiba saja tersiar kabar, ditemukannya virus flu burung jenis baru. Perunggasan nasional dideteksi terpapar virus jenis H9N2  sejak 2017. Kementeri Pertanian dan badan PBB, FAO ECTAD Indonesia merilis berita tersebut agar diketahui semua masyarakat terutama kaum peternak unggas. Virus H9N2 itu bersifat low pathogenic avian influenza yang tidak membahayakan bagi kesehatan manusia. ”Masyarakat jangan resah,” kata Direktur Kesehatan Hewan, Kementan. Menurut hasil penelitian yang saksama, H9N2 itu berakibat buruk bagi perkembangan perunggasan nasional. Produktivitas ternak unggas, terutama unggas petelur, bila terpapar H9N2 produktivitas telurnya akan merosot sampai 70%.

Benar, serangan virus itu tidak membahayakan kesehatan manusia akan tetapi kemerosotan prioduktivitas telur, pasti berdampak sangat luas. Para peternak, secara ekonmomi, akan merugi, harga telur akan melambung. Kebutuhan masyarakat akan protein akan semakin berkurang. Dari sisi kesehatan masyarakat, serangan virus itu tetap saja akan berdampak negatif. Pemetrintah yang tidak pernah berhenti mendorong masyarakat agar meningkatkan konsumsi yang menyehatkan, jelas akan terhambat.

Bagaimanapun, flu burung, jenis apapun akan merugikan masyarakat. Karena itu kewajiban pemerintah dengan bantuan FAO ECTAD herus segera melakukan tindakan mengatasinya. Para peternak ayam petelur sudah mulai melakukan antisipasi dengan memberikan vaksin antibiotik (antibiotic promoter atau AGP) terhadap unggas ternaknya. Vaksin itu dalam jangka pendek dapat mencegah berjangkitnya flu burung jenis baru itu. Namun pada sisi lain, antibiotik itu justru akan menorong tumbuhnya penyakit dan virus lain. Karena itu penggunaan vaksin antibiotik dilarang di seluruh dunia.

Masalahnya, sampai sekarang para ahli penyakit hewan belum menemukan vaksin anti-H9N2. Berpedoman kepada ajaran agama, setiap penyakit pasti ada obatnya, manusia wajib mencari dan membuat obat. Kesembuhan tetap merupakan hegemoni Tuhan Yang Mahapenyembuh. Pemerintah dan badan dunia menghadapi tantangan berat. Pemerintah harus mendorong para ahli melakukan penelitian dan mencari penangkal munculnya virus membahayakan. Pemerintah, khususnya jajaran Direktorat Kesehatan Hewan Kementan, secara langsung harus melalukan penyuluhan bagi segenap peternak unggas dan masyarakat luas. Pencegahan masuknya virus H9N2 dapat dilakukann dengan menjaga kebersihan kandang dan lingkungannya.

Para penyuluh juga harus secara tegas melarang penggunaan AGP agar tidak merugikan peternak. Diharapkan masyarakat dapat meningkatkan kreativitasnya, khususnya  kuliner. Ketersediaan protein tidak terlalu bergantung pada daging unggas dan telur. ***