Alas Kaki Menjadi Tren Fashion dan Prestise Penggunanya

24
USEP USMAN NASRULLOH/"PR" BRAM (40) memasang sol di tempat perajin sepatu milik Asuy di Gang Kopsi Jalan Raya Cibaduyut, Kota Bandung, Rabu (4/5/2016). Rata-rata jumlah produksi sepatu Cibaduyut bahan kain tersebut sebanyak 32 pasang per orang. Sepatu kain tersebut saat ini permintaannya melonjak dan ditampung di Jakarta untuk pemasarannya.*

BISNIS BANDUNG-Kepala Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Heru Budi Susanto, SE. MT mengemukakan, berdasarkan temuan dan penelitian di lapangan, kualitas produk sepatu Indonesia memiliki banyak keunggulan, seperti desain yang variatif. Kualitas sepatu lokal tidak kalah dibanding dengan produk dari luar negeri . Bahkan menurut kajian Litbang Perdagangan (2008) apresiasi konsumen terhadap merek lokal menempati peringkat 4 dunia setelah Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.

Menurut Heru Budi Susanto , dari tahun 2012 hingga 2017 volume eksport alas kaki terus meningkat . Pada tahun 2015 ekspor  alas kaki mencapai  235,242.5 ton, tahun 2016 meningkat menjadi 239,778.0 ton dan meningkat lagi ditahun 2017 menjadi 248,746.3 ton. “Periode 2016 hingga 2017 kenaikan nilai eksport mencapai 5.86%,” papar Heru, Selasa kepada BB.

Secara kualitas dari tahun ke tahun produk alas kaki lokal Indonesia mengalami kenaikan, ini dapat dilihat dari banyaknya brand dari IKM alas kaki dengan citra karakteristik pembuatnya yang lahir dan dapat menembus pasar dunia. Produk lokal juga di dorong dengan berbagai program pemerintah dalam menciptakan brand image maupun program untuk peningkatan kualitas. “Sekarang ini kepedulian masyarakat IKM di Indonesia akan kualitas sangat tinggi karena selain tuntutan masyarakat yang semakin selektif memilih barang juga ketetapan standar kualitas alas kaki yang harus dipenuhi agar dapat menembus pasar dunia,” kata Heru.

Berdasarkan word footwear year book pada tahun 2016 produksi alas kaki Indonesia menempati nomor 4 dunia setelah  China, India dan Vietnam dengan jumlah total yang di produksi sebesar 1000 juta pasang. Pada tahun 2017 produksi alas kaki Indonesia ,menurut Heru , walau tetap pada peringkat ke 4 setelah  China, India dan Vietnam tetapi jumlah produksi yang dihasilkan meningkat menjadi 1110 juta pasang atau meningkat 11% karena alas kaki merupakan kebutuhan primer setiap manusia, saat ini kebutuhan alas kaki setiap orang tidak cukup hanya satu. Berdasar hasil studi , kebutuhan alas kaki menyesuaikan dengan aktifitas yang dijalani setiap konsumen.

Alas kaki untuk pergi ke kantor akan berbeda dengan alas kaki untuk  jalan–jalan atau olahraga. Ini yang menjadikan setiap konsumen alas kaki memiliki lebih dari satu alas kaki untuk menjalani aktifitasnya. Alas kaki juga sudah menjadi tren fashion, prestise, karakter dan fungsi lain setiap manusia.Konsumen yang komsumtif dan mengikuti perkembangan mode alas kaki sudah pasti memiliki lebih dari satu atau bahkan memilik dua pasang, lima bahkan bisa sampai 10 pasang sepatu sebagai tren mode koleksinya. “Ini menyebabkan kebutuhan alas kaki semakin meningkat.

Selain  karena menjadi kebutuhan primer setiap konsumen, pertumbuhan penduduk juga sangat berpengaruh pada kebutuhan alas kaki. Saat ini pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, sehingga kebutuhan alas kaki juga meningkat,”ujar Heru. Di Indonesia diprediksi jumlah pertumbuhan penduduk (menurut data BPIPI 2010) tahun 2015 sebanyak 255.461,7 ribu jiwa , pada tahun 2020 akan menjadi 271.066,4 jiwa atau meningkat sebanyak 6,10%. Semakin meningkat pertumbuhan penduduk  akan berbanding lurus dengan kebutuhan alas kaki .

Heru Budi Susanto mengungkapkan,  dampak dari  kualitas dan kuantitas sepatu  akan mendongkrak penjualan. Konsumen saat ini lebih selektif dalam memilih produk yang akan dipakainya , bahkan harga tidak diperhitungkan apabila konsumen loyal sudah memilih sebuah produk karena kualitas dapat memuaskan konsumen baik secara fisk maupun psikologis.

Diperkirakan pada  tahun ini kenaikan permintaan alas kaki akan mencapai 8%. Namun demikian , walau produksi alas kaki produk Indonesia meningkat dari tahun ketahun tetapi belum dapat memenuhi pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Data industri alas kaki di Indonesia untuk Industri Kecil Menengah tercatat sebanyak (data BPIPI 2018) 32.562 IKM  yang tersebar di Indonesia, antara lain di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali NTB dan Papua.  BPIPI sebagai satuan kerja yang fokus pada pembianaan IKM alas kaki, mendorong pertumbuhan WUB alas kaki di Indonesia. Jumlah IKM alas kaki  terbesar terdapat di Jawa Barat sebanyak 14.308 IKM , kedua di Jawa Timur  sebanyak 8.930 IKM. “Persebaran IKM alas kaki tidak merata , masih terpusat di Pulau Jawa,” Heru menjelaskan.

Sebab itu, ujar Heru ,  BPIPI sebagai unit Pembina IKM alas kaki di Indonesia konsen untuk pertumbuhan wirausaha baru di Indonesia Timur seperti Papua.  BPIPI memberikan fasilitasi bimbingan teknis bagi IKM yang berada di Indonesia bagian Timur. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mencatat sebanyak 473 Industri besar alas kaki di Indonesia dengan persebaran terbesar di Jawa Timur dan Jawa Barat.

Produk alas kaki Indonesia dalam hal stylish menduduki peringkat ke 3 setelah Eropa dan Amerika Serikat dengan kehalusan dan kerapihan produk yang nyaman dipakai. Perajin sepatu lokal saat ini tidak  membuat desaian yang kuno dan kaku, tetapi sudah berinovasi dengan membuat design sesuai tren dunia. Karena itu banyak merek lokal Indonesia yang berhasil menembus pasar dalam dan luar negeri .

Diakui Heru , sekarang masih ada sebagian IKM alas kaki Indonesia memasarkan hasil produksinya dengan cara menunggu pesanan (by order), karena generasi penerus mempunyai kecenderungan tidak meneruskan bisnis generasinya sebelumnya yang menganggap bisnis ini monoton. Namun  BPIPI terus mendorong IKM dalam memasarkan produknya melalui ekonomi digital.

IKM alas kaki didorong untuk memanfaakan e commerce dalam pemasaran produk IKM. Dengan memanfaatkan promosi dengan e- commerce, bisnis IKM alas kaki memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang luas bahkan global. Selain murah dan efisien e commerce juga memiliki akses tanpa batas dan memperpendek jarak distribusi produk.

Direktorat Jendral IKM Kementerian Perindustrian memberikan fasilitas untuk pemasaran IKM alas kaki di Indonesia dengan menggadang program ESmart IKM. Program ini menurut Heru , merupakan sebuah solusi pemasaran bagi Industri Kecil dan Menengah. ESmart IKM adalah sistem database IKM yang tersaji dalam profil industri, sentra dan produk yang diintegrasikan dengan marketplace yang ada. Tujuannya memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada IKM agar dapat menjual produknya melalui pasar digital.

“Diharapkan melalui program ini masyarakat IKM dapat menjual produknya lebih mudah. Melalui  program ini  IKM alas kaki merubah strategi pemasaranya dari manual menjadi online,”ucap Heru.

Mengenai maraknya sepatu impor ke Indonesia, diakui Heru sangat berpengaruh pada produk lokal. Fenomena saat ini produk impor  memiliki keunggulan, antara lain pada harga yang lebih murah dibanding produk lokal yang kualitasnya sama. Heru berpendapat , kondisi ini akan mengikis dan mematikan perusahaan lokal yang berdampak pada bertambahnya jumlah pengangguran.  Negara yang paling mempengaruhi terhadap produksi, pemasaran dan kreativitas sepatu ditanah air yakni China , dipicu turunnya bea masuk impor  setelah kesepakatan Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) diberlakukan.

Menggelontornya produk sepatu impor  mernjadi ancaman sekaligus tantangan bagi produsen alas kaki di Indonesia. Produsen lokal masih tertekan dengan high cost economy karena mahalnya bahan baku yang masih impor menjadikan produk dalam negri menjadi mahal.Walau secara kualitas produksi dalam negri tidak kalah dengan produk sepatu impor.

Nilai ekspor alas kaki Indonesia dari tahun ketahun mengalami kenaikan. Pada tahun 2015 eksport alas kaki sebesar 4,507,024.3 ribu USD,  pada tahun 2016 naik 2,94% menjadi 4,639,859.3 ribu USD dan ditahun 2017 mengalami kenaikan cukup besar dari tahun 2016, sebesar 4,911,848.3 ribu USD atau naik  5.8%. Volume impor ke Indonesia dari tahun ke tahun juga terus meningkat , tahun 2015  sebesar 76,641.0 ribu USD,  naik 7,32 % pada tahun 2016 menjadi sebesar 82,254.9 USD , pada tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 7,65% atau total impor sebanyak 88,548.8 USD.

Menurut Heru , produk sepatu lokal memang memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan alas kaki impor karenaprodusen lokal masih tertekan dengan high cost economy karena mahalnya bahan baku yang masih impor  menjadikan produk dalam negri menjadi mahal. Bahan baku kulit untuk  alas kaki mengalami masalah kontinuitas pasokan. Kebutuhan bahan baku yang dapat dipenuhi di dalam negri hanya sekitar 35% . Sisanya harus impor .  (E-018)***