Nilai Rupiah Terhadap Dolar Melemah, Peternak Ayam Mengluarkan Biaya Tinggi

27

BISNIS BANDUNG– Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan provinsi Jawa Barat, Dewi Sartika mengatakan , kenaikan harga daging ayam dipasaran  dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya penyebanya karena  melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berpengaruh terhadap harga pakan ayam.

Dikemukakan  Dewi Sartika mengatakan,  meski 50 %sen pasokan daging ayam nasional berasal dari Jawa Barat. Namun, kenaikan harga ayam sulit dicegah. Penguatan nilai dolar  ikut mempengaruhi harga pakan yang mengalami kenaikan sekitar Rp 100/ kilogram.

“Melemahnya nilai tukar rupiah ini menjadi salah satu penyebab tingginya harga daging ayam,” ungkapnya kepada wartawan , Jumat lalu.

Kenaikan harga ayam dan telur  terpicu juga oleh biaya produksi yang ikut melonjak, diantaranya pembiayaan Day Old Chicken (DOC) atau anak ayam dan pakan. Termasuk jagung selama ini masih mengandalkan impor,  dibutuhkan untuk 30-50 % bahan baku pakan,” ujarnya.

Dewi mengungkapkan, kenaikan harga ini juga dipengaruhi oleh Growth Promotor (AGP) dimana serum ini tidak diperkenakan digunakan pada bahan makanan. AGP tersebut hingga kini belum ditemukan penggantinya sehingga berat ayam mengalami penurunan.

“Tadinya 1 kg butuh 1,5 pakan , sekatang dibutuhkan 1,9 pakan. Itu pun belum termasuk tambahan biaya lain,” ujarnya

Sementara  kondisi cuaca sangat dingin yang terjadi akhir-akhir ini, menurut Dewi ,   para peternak banyak mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk mempertebal dinding kandang ayam, bahkan membeli penghangat ruangan.

“Jadi pada biaya produksi terjadi penambahan. Itulah yang menyebabkan kenaikan harga daging ayam,” ujarnya

Dijelaskan Dewi , harga ayam di tingkat peternak meningkat dari Rp 21.000/ kg bobot hidup menjadi  Rp 24.000 hingga Rp 25.000. Saat masuk broker di Bandung, menjadi sekitar Rp 28.000 hingga Rp 29.000.  Harga daging ayam di pasaran mencapai Rp  Rp 40.000/kg. Sebenarnya, lanjut Dewi , kontribusi Jawa Barat terhadap kebutuhan daging ayam secara nasional mencapai 50 %. Meski dalam stok telur ayam Jabar bertindak sebagai konsumen, sekitar 35 % pasokannya berasal dari Blitar dan Boyolali sebagai sentra telur nasional dengan harga Rp 25.000/ kilogram di tingkat produsen.

 Dewi Sartika mengatakan, kenaikan harga telur di Jabar karena di tingkat produsen masih tinggi penyebabnya karena biaya produksi peternak ayam  cukup tinggi. Hal serupa juga terjadi  pada kenaikan harga daging ayam.

“Jadi harga dari produsen telurnya  sudah mahal. Sebab itu ketika tiba di Jabar harganya sudah Rp28 .000,” ujar Dewi .

Selama ini selain dari luar provinsi, Kabupaten Ciamis menjadi pemasok utama kebutuhan telur ayam di Jawa Barat. Namun, tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat.

“Kita masih mengadanlkan pasokan dari Ciamis, tapi ya gituh tidak banyak,” ujarnya.

Dewi menambahkan, guna menstabilkan harga telur di pasaran, pemerintah mengimbau kepada para peternak ayam agar selalu menjaga kesehatan hewan ternaknya dengan memberikan enzim atau herbal , sehingga pasokan telur maupun daging ayam di Jabar terpenuhi. Selain itu , para peternak agar memelihara kebersihan kandang ayam. (B-003) ***