Zaumi Sirad, Ssi.Apt. , “Menjadi Lebih Baik Dari Hari Kemarin”

94

Zaumi Sirad, Ssi.Apt., lahir di Manna, Bengkulu Selatan, tahun 1977.   Anak dari keluarga Sirad HM. Adil (Alm.) ini merupakan owner / pemilik PT. BGI (Buatan Guna Indonesia). Wanita pengusaha ini berencana akan melangkah ke panggung politik,  yakni sebagai anggota Legislatif.

Istri dari Ir.Vitex Grandis (48) ini menuturkan bahwa, perusahaannya yakni PT BGI didirikan oleh suaminya pada tahun 2001 silam.   Zaumi Sirad baru menekuni usaha ini sejak menikah di tahun 2007.   Di PT. BGI ini Zaumi Sirad berperan / bertugas sebagai marketing dan membuat flow proses.   PT. Buatan Guna Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang engineering dan machinery agro industri,  yakni membuat pabrik dan mesin pengolahan hasil agro atau paska panen.

Zaumi Sirad menyatakan bahwa,  produk usahanya ditujukan bagi segmen perusahaan skala small medium enterprise.   Segmen ini dipilihnya,  karena di Indonesia pabrik yang available masih dominan untuk skala besar.   Contohnya adalah pabrik kelapa sawit,  yang terkecil dilayani oleh perusahaan pembuat mesin adalah 30 ton tandan buah segar / jam. Sedangkan PT. Buatan Guna Indonesia miliknya membuat mesin dari mulai kapasitas 0,5 ton tbs hingga 5 ton tbs / jam.   Di perusahaan milik Zaumi Sirad ini,  bergabung sejumlah  tenaga engineer lulusan fakultasTehnik ITB dan Poltek-Poltek di Bandung.   Untuk para pekerjanya direkrut dari STM jurusan mesin di Bandung.

Ia juga mengatakan bahwa,  perusahaannya ini (PT.BGI) belum pernah mendapat penghargaan apapun dari pemerintah atau lembaga swasta. Menurutnya,  penghargaan tertinggi justru didapat dari kliennya yang merupakan para pengusaha UKM.   Omset pelaku UMKM makin bertambah, dan mereka selalu menyemangati PT.BGI untuk terus mendesain dan membuat mesin  bagi industri agro yang beragam.

“Karena kami selalu membuat mesin yang disesuaikan dengan bahan baku,  produk yang akan diproduksi,  serta skala kapasitas produksi yang disesuaikan dengan modal investasi dari pengusaha UKM tersebut,”  ungkapnya kepada BB di Bandung.

Wanita berhijab ini mengaku bahwa,  ia memperoleh banyak manfaat selama menjalani profesinya sebagai pengusaha,  yakni bisa lebih mengetahui beragam usaha di masyarakat maupun lebih mengenal pengusaha UMKM di  Indonesia. Menurutnya,  pelaku usaha UMKM sangat kreatif.

“Bahkan ada yang mempunyai klinik herbal dan meminta kami membuat mesin pemeras biji anggur,  untuk menghasilkan minyak biji anggur.   Minyak ini ternyata dapat menjadi obat dari berbagai penyakit.   Hal-hal seperti inilah yang membuat perusahaan kami tetap semangat berusaha.   Dan positifnya lagi,  kami bisa mendapat harga diskon bila kami membeli obat herbal dari klinik ini,”  cerita Zaumi.

Pengalaman negatif yang pernah didapat adalah,  perusahaannya beberapa kali mendukung perusahaan-perusahaan yang ikut tender dalam pengadaan mesin sistem pengolahan agro. Setelah menang,  ternyata mereka membeli dari tempat yang lebih murah.   Kemudian sistem tersebut ternyata tidak jalan dan berkasus. “Biasanya kami jadi harus ikut sibuk menjadi saksi.   Alhamdulillah akhirnya mereka dihukum,  supaya kapok.   Berdasarkan pengalaman ini,  perusahaan kami untuk selanjutnya tidak mau mendukung lagi,  jika tidak ada perjanjian terlebih dahulu.   Isi perjanjian tersebut adalah bahwa,  jika perusahaan yang didukung menang tender dan tidak membeli dari kami,  maka surat dukungan tersebut dianggap tidak berlaku lagi,”  tutur Zaumi.

Untuk meningkatkan kualitas diri,  profesi dan perusahaan,  Zaumi memperbanyak lagi untuk membaca literatur,  dan bekerjasama dengan sebanyak mungkin peneliti bahan baku,  serta mengikuti perkembangan teknologi pengolahan agro.   Selain sebagai pengusaha,  Zaumi Sirad juga berprofesi sebagai apoteker penanggung jawab di sebuah apotek di Kabupaten Bandung,  serta mengelola bisnis online,  dan menjadi tenaga lepas di klinik-klinik kecantikan yang ada di Bandung.

Hijrah ke jalur politik.

Ibu dari Mikayla Zweena Grandis (9),  M. Zaidan Arkanshah Grandis (7) dan Dhaneeza Alma Grandis (2) ini mengklaim bahwa,  ia adalah turunan aktivis / politisi.   Sejak kuliah di ITB,  Zaumi sudah aktif sebagai pengurus Unit Bola Voli ITB,  juga menjadi pengurus Ikatan Kepemudaan Bengkulu Selatan yang ada di Bandung,  serta aktif di komunitas Anti Hoax Bandung dan beberapa komunitas kemasyarakatan lainnya di Jawa Barat.

“Saya memberanikan diri terjun ke dunia politik,  karena ingin lebih berguna buat orang banyak.   Politik sudah bukan hal yang menakutkan bagi kaum wanita,  apalagi sekarang ini wanita mendapat presentase lebih untuk hadir dipercaturan politik Indonesia,  sehingga saya gunakan kesempatan ini,  karena melalui jalur parlemenlah saya bisa berjuang dengan maksimal terkait dengan kebijakan,”  ucapnya.

Zaumi Sirad mengungkapkan bahwa,  dunia politik bukan hal baru bagi keluarga besarnya di Bengkulu Selatan,  karena kakeknya pernah menjadi salah satu Kepala Daerah di sana.   Dan kakaknyapun sudah ada yang menjadi anggota DPR RI (periode 2014-2019) dari partai politik lain.   Menurut Zaumi,  saat ini persaingan di bidang politik sangat berat di ongkos politik.

“Beruntung saya mencalonkan diri dari PSI,  karena tidak ada biaya apapun untuk menjadi caleg disini.   Saya diterima untuk nyaleg melalui system penyaringan secara intelektual, membuat esai dan mempresentasikan ide saya di depan panitia seleksi dari DPP PSI. Alhamdulillah,  ide saya tentang visi-misi pembangunan kesadaran berbangsa bagi anak-anak adalah hal yang menarik bagi PSI.   Saya mencalonkan diri dari daerah pilihan Jabar 2.   Dapil ini adalah wilayah yang saya sudah akrab dengan konstituen dewasa / yang mudanya,  sejak saya kuliah di ITB sampai hari ini saat saya sudah berumah tangga.   Karena saya baru saat ini terjun ke politik praktis,  maka saya banyak dibantu / disokong oleh teman-teman sendiri untuk sosialisasi program.  Target saya,  mendapat suara cukup untuk bisa melaju ke DPRD kota Bandung,”  cerita Zaumi Sirad.

Penganut moto hidup “Menjadi lebih baik dari hari kemarin” ini mengutarakan bahwa,  jika berhasil mendapatkan kursi,  maka Zaumi ingin bergabung di Komisi B,  yaitu bidang perekonomian dan keuangan.   Alasannya,  karena ia ingin Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Bandung bisa seperti PAD Daerah Khusus Ibukota.   Dengan pertumbuhan pariwisata yang pesat di kota Bandung,  diharapkan hal ini bisa menjadi lokomotif pertumbuhan bidang-bidang lain.   Ramainya wisatawan yang dating ke Bandung memberi demand yang besar,  salah satunya adalah good consumer product.

“Saya ingin produk-produk good consumer ini diisi oleh manufaktur lokal,  seperti good consumer yang banyak dikonsumsi di kafe-kafe, resto dan hotel, misalnya : saos sambal, saos tomat,  krimer,  santan,  sabun dan lain sebagainya.   Pembenahan pasar tradisional juga penting,  karena produk good consumer ini didistribusikan melalui pasar tradisional, sehingga untuk kedepannya bisa nge-branding seperti Pasar Santa di Jakarta,”  papar alumni ITB ini.

Jika Zaumi terpilih,  maka program yang akan digulirkannya adalah, pembenahan pasar tradisional untuk program jangka pendek.   Kemudian menyediakan area lingkungan industri kecil untuk UKM produsen produk good consumer yang mengolah bahan baku dari petani / peternak di daerah tetangga Bandung untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota Bandung yang merupakan program jangka menengah.   Sedangkan program jangka panjangnya adalah,  membangun sistem manufaktur di Bandung yang memproduksi produk substitusi import,  seperti pakan ayam,  yang mana karena dolar naik,  maka harga telor ayam ikut naik,  akibat menggunakan pakan ayam import.

Zaumi Sirad menambahkan bahwa,  kota Bandung merupakan provinsi dengan penduduk terbesar di Indonesia.   Di kota ini ada ITB, UNPAD, UNPAR, yang terkenal secara nasional,  sehingga solusi permasalahan bangsa ini seharusnya muncul dari kota ini.   Substitusi produk import dan menggantinya dengan produk lokal dengan brand lokal bisa dilakukan dengan cepat dan mudah,  bila menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu cara.   Juga produksi yang dilakukan di Bandung dengan menggunakan bahan baku dari petani lokal Jawa Barat untuk memenuhi kebutuhan di seluruh Indonesia.

“Contohnya seperti pabrik ‘Samsung’ yang memproduksi smartphone untuk kebutuhan dunia.   Petani tidak perlu khawatir harga panennya akan anjlok,  dan kebutuhan lokal bisa terpenuhi,  sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi,”  pungkas penggemar warna merah ini kepada BB. (E-018)****