Ekspor Kopi Mengulang Sejarah

23

HAMPIR di semua tempat di Indonesia terdapat kopi dengan ciri rasa yang khas pula. Banyak daerah penghasil kopi khas itu antara lain Aceh, Lampung, Jabar (Priangan), Bondowoso, Toraja, Bali, dan sebagainya. Kini Indonesia tengah berpromosi kopi di mancanegara. Kopi Indonesia sudah mulai ”berbicara” di tingkat global. Banyak negara yang melirik kopi Indionesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di negara tersebut.

Di samping kakao, kopi mulai menjadi tren lagi dalam percaturan minuman dunia. Kopi Indonesia, khususnya kopi Priangan sejak zaman Belanda sudah menjadi komoditas andalan Hindia Belanda. Kopi Priangan, selain masuk ke Negeri Belanda, juga masuk ke beberapa negara Eropa dan Timur Tengah. Lembaga perdagangan Belanda di Indonesia, memfokuskan penanaman kopi dan teh di Priangan karena cuacanya sangat cocok. Sedangkan daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi lahan perkebunan tebu sebagai bahan baku gula putih.

Ketika Belanda melakukan politik tanam paksa (culture stelsel), rakyat Priangan dipaksa memperluas tanaman kopi dan teh serta kina. Belanda sangat ketat mengawasi peredaran kopi. Mereka tidak segan-segan menghukum gantung orang yang berani membawa kopi ke luar areal penanaman. Tindakan itu dilakukan karena kopi saat itu merupakan ”emas” dalam perdagangan internasional.

Para petani Priangan mendapat tekanan yang sangat kuat sehingga sebagai penghasil kopi, mereka tidak pernah dapat merasakan nikmatnya minum kopi panas ketika mereka beristirahat. Tetapi Belanda tidak bertindak apa-apa ketika para petani memungut kopi dari  kotoran luwak. Para kontrolir Belanda tidak paham, kopi dari kotoran luwak itu jauh lebih berkualitas dari kopi hasil panen. Baru setelah rakyat Priangan terbebas dari politik tanam paksa, mereka secara bebas mengolah kopi dari kotoran luwak menjadi kopi yang sangat terkenal. Sekarang, kopi luwak mulai mendunia apalagi setelah MUI menyatakan kopi luwak halal.

Sekarang kopi kembali menjadi komoditas ekspor andalan di pasar global. Indonesia yang punya sejarah panjang dalam dunuia penanaman kopi, masih belum mampu mendorong kopi sebagai komoditas ekspor utama. Indonesia masih berada di urutan keempat dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Padahal Indonesia memiliki potensi sangat besar, selain punya sejarah, juga iklim dan cuacanya sangat mendukung.

Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Amerika-Eropa, berusaha melakukan diplomasi kopi ke berbagai negara. Beberapa negara Amerika Selatan diprediksi menjadi pasar utama kopi Indonesia meskipun  di sana ada Brasil sebagai penghasil kopi terbesar dunia. Indonesia harus berani menerobos pasar global dan melakukan pembicaraan bilateral tentang khasiat kopi Indonesia. Dengan hubungan bilateral itu, Indonesdia dapat melakukan kesepakatan tentang bea masuk kopi Indonesia.

Mari kita dorong para diaspora Indonesia di berbagai negara, membuka warung kopi khas Indionesia, diklengkapi pisang goreng dan lumpia kering. Di Australia sudah ada warung seperti itu, mengapa tidak didirikan pula di negeri lain. (bahan: Kompas, Bandung Tempo Doeloe, dan bacaan lain)***