Hubungan Asian Games dan Brokoli

54

LUMRAH  di mana pun perhelatan besar olahraga, seperti Piala Dunia, Olimpiade, Asian Games, Piala Eropa, dan sejenisnya, selalu menjadi momentum paling baik bagi perkembangan perdagangan. Masyarakat di negara tempat penyelenggaraan even internasional itu  berkesempatan mandapat untung besar. Semua komoditas lokal dan industri kreatif berupa kerajinan tangan khas negara itu, diburu orang.

Penonton pertandingan yang datang dari berbagai belahan dunia, pasti membutuhkan makanan, minuman, fesyen, dan beaneka macam oleh-oleh. Para pedagang marema. Sema komoditas itu  laris manis. Para pelaku usaha, baik perajin barang maupun kuliner, sudah bersiap-siap memproduksi  barang yang dipastikan akan menarik pembeli. Karena itu industi rumahan dan perdagangan dipastikan memasuki masa panen raya, meski hanya semusim.

Fenomena ”aneh” justru terjadi di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Menurut pengalaman para petani, setiap kali ada even besar, harga sayur mayur, justru anjlok. Para petani sayur di seputar Bandung, selalu merugi bersamaan dengan penyelenggaraan even olahraga nasional atau internasional. Menjelang Asian Games 2018, para petani sayuran mulai resah. ”Kondisi ini sudah terjadi sejak tahun-tahun silam. Setiap kali ada penyelenggaraan Piala Dunia, Asian Games, SEA Games, meskipun diselenggarakan di luar negeri efeknya terhadap lokal, harga panen sayuran anjlok,” kata salah seorang petani di Lembang, seperti dimuat PR18/7.

Masih menurut petani sayuran di Lembang itu, para petani sepakat, jelang Asian Games ini, mereka akan membatasi penanaman sayuran. Dengan demikian, mereka tidak mengalami kerugian yang terlalu banyak. Penurunan harga sayuran pada saat Piala Dunia kemarin, terjadi dua hari setelah Piala Dunia usai. Harga brokoli turun dari Rp 17.000/kg menjadi Rp 5.000/kg. Harga cengek yang semula Rp 55.000/kg menjadi Rp 32.000/kg.Apalagi harga kol saat itu hanya Rp 1.000/kg. Anehnya lagi, biasanya seminggu setelah even itu usai harga akan kembali ke level semula.

Fenomena itu tentu saja sangat muskil, tidak sesuai dengan teori dasar ekonomi. Pada setiap even dipastikan permintaan naik sedangkan  pasokan menurun. Atrtinya harga akan naik. Ini merupakan lahan penelitian para ekonom dan para mahasiswa fak.ekonomi. Jawaban yang harus dicari pada penelitian itu, apa relevansi even olahraga internasional dengan anjloknya harga sayuran.

Badan seperti BBPP, Asosiasi Pedagang Komoditas, dan sejenisnya, seyogianya nelakukan sosialisasi tentang fluktuasi harga berkaitan dengan melemahnya nilai tukar rupaih, dan sebagainya. Para petani harus didorong agar tanpa henti melakukan peningkatan produktivitas hasil panen, khusunya hortukultura. Mereka harus bersemangat dalam bertani. Paling penting, para petani diberi penerangan, bahwa tidak ada relevansi antara Asian Games dengan anjloknya harga sayuran. Harga sayuran anjlok karena pasokan melimpah. Para petani baru memanen tanamannya setelah masa libur panjang berkaitan dengan perayaan  Idulfitri. Pasokan komoditas yang melimpah, pasti mendorong harga terus turun. Even internasional biasa dilakukan pada bulan Juli – September ketika pasokan melimpah.Hal itu dikatakan Wakil Ketua Asosiasi Pedagang Agro Jawa Barat, Muchlis Anwar, dan itu benar, sesuai dengan teori ekonomi.

Anjloknya harga juga akibat mutu hasil panen yang kurang baik akibat cuaca ekstrem. Dipastikan harganya juga turun. Anomali cuacalah yang harus diwaspadai bukan penyelenggaraan even internasional. Perubahan agrikultur dari tradisional ke budidaya berteknologi, harus terus didorong.Jadikanl;ah mereka petani inovatif, kreatif, dan berprestasi.  Hasil panen pertanian rumah-kaca (…………..)—misalnya– jauh lebih baik dari pertanaman di kebun terbuka. Tanamannya tidak akan terpengaruh cuaca, apalagi terdampak Asian Games. ***