Digelar Pasar Murah untuk Tahan Inflasi Harga Telur dan Daging Ayam Tetap Mahal

25

BISNIS BANDUNG – Di wilayah Jawa Barat harga  bahan makanan pokok , khususnya telur ayam  dan daging ayam ras pasca Idul Fitri 1439 H/2018 cenderung meningkat.

Berdasarkan hasil pemantauan  Portal Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Barat yang bersumber dari 7 (tujuh) Kota penghitung inflasi Jawa Barat ,yakni Kota Bandung, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya dan Kota Cirebon, kedua komoditas tersebut   naik sejak bulan Juni 2018. 

Fenomena ini  disebutkan TPID Jabar  berbeda dengan pola historis pergerakan harga 5 (lima) tahun terakhir yang biasanya mengalami normalisasi harga pasca Idul Fitri. Terdapat beberapa faktor anomali yang menyebabkan terbatasnya pasokan kedua komoditas dimaksud.  Di antaranya ,  faktor cuaca ekstrim yang mempengaruhi produktivitas  peternak ayam dan pembatasan pembibitan.

Di sisi lain, terdapat egg drop syndrome atau penyakit ayam  yang berdampak pada ayam yang diternak , walau tidak mati, tapi tidak bertelur. Berbagai kendala ini diharapkan dapat segera diatasi pemerintah. Penyakit yang menyerang ayam ternak dan meningkatnya harga pakan ayam seiring volatilitas nilai tukar rupiah telah mendorong terjadinya pemotongan ayam petelur memenuhi permintaan pasar, teruatama saat Idul Fitri.

Menurut data TPID , andil inflasi komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras di Jawa Barat dalam 5 (lima) tahun terakhir masing-masing sebesar 0,064% (yoy) dan 0,066% (yoy) serta dengan bobot sebesar 1,38% (daging ayam ras) dan 0,77% (telur ayam ras) dari sekitar 800 komoditas yang disurvei oleh BPS. Artinya andil inflasi dan bobot kedua komoditas tersebut cukup tinggi dan berdampak cukup signifikan terhadap daya beli masyarakat.

Melihat fenomena tersebut, TPID Provinsi Jawa Barat yang pada tanggal 20 Juli 2018  dalam rapat koordinasi  membahas mengenai fenomena kenaikan harga komoditas tersebut, berinisiatif k melakukan stabilitasasi harga melalui program Bazar Murah. Kegiatan program bazar murah dilaksanakan secara serentak di 7 (tujuh) Kota penghitung inflasi yang ditentukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bersinergi dengan Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, Bulog Divre Jawa Barat dan Bank Jawa Barat Banten.

Khusus Kota Bandung, kegiatan bazar murah dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2018 bertempat di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung, Jl. Arjuna, No 45 dan di Pasar Ujungberung pada tanggal 24 Juli 2018.  ” Bazar murah di Kota Bandung dilakukan dua hari yakni di Jalan Arjuna dan Pasar Ujung Berung, ” ujar  Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung, Eli Wasliah kepada wartawan, Senin (23/7). Pada kesempatan sama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat bersama Perum Bulog, Bank BJB serta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Barat dan TPID Kota Bandung, menggelar “Bazar Murah Pengendali Inflasi” bertempat di Kantor Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung.

Kepala Fungsi Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan, Divisi Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Ahmad Perkasa Subarkah mengatakan, sejumlah komoditi yang dijual dalam bazar murah kali ini antara lain telur ayam, daging ayam beku, minyak goreng, beras, gula pasir serta terigu.

“Saya harap adanya bazar murah ini bisa menekan harga sejumlah komoditi yang saat ini harganya cukup tinggi  dipasaran, seperti daging ayam dan telur,” kata Ahmad, diacara Bazar Murah di Kantor Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Jln. Arjuna No. 46,  Senin (23/07).

Ahmad berharap, selain untuk menekan harga daging ayam beku yang saat ini mencapai Rp42.000/ ekor dan harga telur yang  mencapai Rp30.000/ kg, bazar murah ini,  bisa menekan inflasi di Kota Bandung khususnya, dan Jawa Barat pada umumnya.

“Tujuannya untuk menekan harga telur dan daging ayam yang akan menurunkan inflasi karena bibit ayam ras dan telur cukup tinggi di dalam perhitungan inflasi,’ujar Ahmad. (B-003) ***