Menabung di Pasar Modal Membantu Mengurangi Inflasi

34

BISNIS BANDUNG – Direktur PT. Sinarmas Sekuritas, Fendi Sutanto mengatakan, tingkat inflasi di Indonesia cukup tinggi dan secara historis  return IHSG  lebih tinggi dari inflasi. Dikemukakan Fendi , untuk mengurangi inflasi, masyarakat dapat membantu dengan menabung karena pola konsumtif akan dialihkan ke saving dalam bentuk saham.

Fendi menyebut , Program Yuk Nabung Saham yang digagas oleh BEI pada akhir tahun 2015 yang bertujuan mengajak masyarakat Indonesia untuk berinvestasi di pasar modal.

Dengan menabung saham, lanjut Fendi , diharapkan dana investor terus berkembang dan terlindungi dari inflasi. Untuk keuntungan jangka pendek, investor mendapatkan keuntungan dari capital gain (selisih harga beli dan jual), sedang untuk jangka panjang, beberapa emiten juga sering membagikan keuntungan per-tahunnya lewat deviden.

“Dengan menabung saham, masyarakat dapat membantu untuk mengurangi inflasi karena pola konsumtif akan dialihkan ke saving dalam bentuk saham,” papar Fendi Susanto kepada BB, Kamis di Bandung.

Pihak yang berhak mengakses “Program Yuk Nabung Saham” yakni,  warga masyarakat yang telah berusia 17 tahun ke atas dan memiliki KTP. Untuk mekanismenya, setiap bulannya investor akan diajak “menabung” dengan membeli saham di tanggal tertentu yang dia pilih sampai jangka waktu tertentu (dollar cost averaging). Untuk pembelian sahamnya minimal 1 lot dan investor harus menyetorkan dana di RDN minimal 1 hari sebelum tanggal pembelian. Untuk saat ini, Nabung saham banyak diminati oleh para karyawan dan mahasiswa . Karena kesibukannya mereka membutuhkan solusi praktis untuk berinvestasi di pasar modal dengan dana yang terjangkau dan jangka waktu investasi yang cenderung lama dan untuk jangka panjang. Untuk sosialisasi, bursa juga sangat mendukung dalam hal mengajak masyarakat untuk menabung di pasar modal.

Fendi Sutanto mengungkapkan, “Yuk Nabung Saham” sangat mungkin diakses oleh masyarakat dari segmen menengah ke bawah. Dengan ukuran lot yang diperkecil menjadi 100 lembar, 1 lot sama dengan 100 lembar dimana sebelumnya 1 lot sama dengan 500 lembar,  jadi untuk membeli saham BBRI 1lot diharga 3.000 hanya menyediakan Rp.300.000. Berbeda yang sebelumnya beli 1 Lot BBRI perlu dana sebesar Rp.1.500.000. Untuk saat ini, daerah Jakarta dan sekitarnya masih menduduki jumlah penduduk terbanyak untuk “Yuk Nabung Saham”. Hal ini dikarenakan untuk kota-kota kecil, edukasi dan pemasaran pasar modal masih sangat minim dan belum sebanyak di kota besar.

Semua kegiatan yang berhubungan dengan transaksi efek diawasi sepenuhnya oleh Otoritas Jasa Keuangan. Saat ini, dengan adanya SID, Subrek dan RDN, dana di RDN juga dilindungi oleh Indonesia SIPF, Indonesia SIPF adalah sebuah lembaga perlindungan yang diawasi penuh oleh OJK untuk mengatasi masalah investasi yang hilang akibat adanya penipuan, sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi para investor dalam berinvestasi di pasar modal Indonesia, sehingga para investor tidak perlu kuatir lagi untuk menabung saham.

Saat ini Nabung saham sudah ada di Inggris dan juga Tokyo jepang.  minat public terhadap nabung saham positip  dan dapat di terima di Negara tersebut. Saat ini Bursa Efek Indonesia terus menggalakan program “Yuk Nabung Saham” sampai ke seluruh pelosok negeri. Keberhasilan ini dapat dilihat dari naiknya jumlah investor yang dapat dilihat dari jumlah SID (akhir tahun 2015 sekitar 434 ribu SID, akhir tahun 2017 sudah lebih dari 1 juta SID)

Menurut Fendi Sutanto, salah satu factor ekonomi yang mempengaruhi minat masyarakat untuk menabung saham tentu saja karena laju pertumbahan ekonomi. Apabila pertumbuhan ekonomi meningkat, maka kesadaran masyarakat akan investasi semakin meningkat dan salah satu solusi alternative berinvestasi adalah di pasar modal.”Yang mesti diperhatikan oleh publik/masyarakat sebelum mengikuti program “Yu Nabung Saham” yakni masyarakat harus tahu dan mengerti akan investasi di perusahaan mana. Kesalahan terbesar yang sering dilakukan oleh investor adalah menempatkan investasinya di perusahaan yang tidak mereka kenal dengan baik. “Smart Investor” pasti akan memlilih perusahan yang baik untuk berinvestasi misalnya memilih saham-saham yang berpotensi bagus untuk jangka misalnya BBRI, UNVR, BMRI, BBCA  dan lain sebagainya”.

Migrasi menabung konvensional ke nabung saham tentu saja dapat terjadi apabila masyarakat sudah mulai mengenal pasar modal dan edukasi mengenai literasi keuangan sudah menjangkau semua lapisan masyarakat, pungkas peraih gelar Bachelor of Business Administration, di bidang Accounting and Finance dari Stephen F. Austin State University Nacogdoches – Texas itu kepada BB.

 (E-018)***