Laba Antam Dipoles Emas Freeport

26
Sejumlah Haul Truck dioperasikan di area tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Timika, Papua, Sabtu (19/9). PT Freeport Indonesia kini mendapat izin ekspor untuk Juli 2015 - Januari 2016 dengan kuota ekspor mencapai 775.000 ton konsentrat tembaga. Selain itu Freeport mendapat pengurangan bea keluar menjadi lima persen lantaran kemajuan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) di Gresik, Jawa Timur, yang sudah mencapai 11 persen. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/kye/15

PT Aneka Tambang Tbk mengukir kinerja cemerlang tahun ini. Saham emiten berkode ANTM ini makin berkilap berkat kenaikan harga nikel dunia hingga sentimen positif akuisisi Freeport Indonesia oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), induk usaha ANTM.

ANTM terhitung sukses memanfaatkan kenaikan harga komoditas dunia. Hingga Mei, volume produksi feronikel ANTM mencapai 10.618 ton nikel dalam feronikel (TNi) naik 51,3% dari tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, penjualan feronikel melesat hingga 97% jadi 9.511 TNi.

ANTM juga cuan dari bisnis emas. Dalam lima bulan pertama tahun ini, volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung mencapai 900 kilogram. Penjualan pun melonjak 303% dari sebelumnya 3 ton menjadi 12,10 ton hingga akhir Mei lalu.

Harga saham ANTM juga terus naik. Kemarin, ANTM ditutup di Rp 900 per saham. Sejak awal tahun, harga saham ANTM naik sebesar 46,9%. “Ini merupakan cerminan kinerja operasional dan keuangannya yang cemerlang juga,” ujar Robertus Yanuar Hardy, analis Kresna Sekuritas, Senin (16/7).

Analis Sinarmas Sekuritas Richard Suherman, dalam risetnya per 10 Juli, juga menyebut, kinerja operasional ANTM tahun ini mengalami perbaikan signifikan. “Baik produksi maupun penjualan naik di semua divisi komoditas, yaitu nikel, emas, dan bauksit,” tulis Richard.

Kenaikan harga nikel dunia juga mendukung kinerja ANTM. Harga nikel sudah naik 55% sepanjang tahun ini. Richard menilai, ke depan, produksi feronikel akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ANTM, didukung proyek tambang di Halmahera Timur yang bakal beroperasi tahun ini. “Sampai Maret lalu sudah komplit 55% proyeknya. Tambang Halmahera Timur ini diperkirakan akan menambah 50% kapasitas produksi feronikel dari yang ada sekarang,” terang dia.

Akuisisi Freeport

Kinerja ANTM bakal makin kinclong bila Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan, bisa terealisasi sesuai rencana, yakni di 2021. Smelter ini direncanakan bisa mengolah bauksit menjadi SGA hingga sebesar 1 juta ton.

Langkah Inalum mengakuisisi saham Freeport juga menjadi katalis positif buat Antam. “Aksi korporasi ini dapat mengamankan suplai anoda slime Antam, karena selama ini Freeport banyak mengekspor bahan baku emas tersebut,” ujar Robert.

Analis menilai kinerja ANTM tahun ini akan positif. Richard memprediksikan penjualan emas tahun ini dapat mencapai target 24 ton, naik 82% dibanding tahun lalu. Laba bersih ANTM bisa naik 329% jadi Rp 586 miliar.

Richard menghitung valuasi ANTM saat ini masih menarik. Menurut dia, saat ini harga ANTM mencerminkan PBV 2019 1,1 kali. “Ini lebih rendah dari rata-rata sebelumnya secara historis, maupun dibandingkan dengan saham lain di sektornya,” imbuh Richard.

Untuk itu, ia memberi rekomendasi beli saham ANTM dengan target harga Rp 1.150 per saham. Begitu pun dengan Robert yang merekomendasikan beli ANTM dengan target harga yang lebih optimistis, yakni Rp 1.500 per saham.

Tak ketinggalan, analis BCA Sekuritas Aditya Eka Perkasa juga turut merekomendasikan beli saham ANTM. Ia memasang target harga sebesar Rp 1.140 per saham. (C-003/KNTN)***