Ada 95 Ribu Lebih Jaring Apung di Cirata

32

SELAIN eceng gondok yang menutupi permukaan Waduk Cirata, Jawa Barat, juga berjejalnya keramba jaring apung. Tahukah Anda, di Bendung Cirata—antara Saguling dan Bendung Jatiluhur, sama-sama di DAS Citarum, terdapat  95.397 keramba jaring apung? Permukaan air bendung yang cukup luas itu sedikit sekali yang masih tampak bentangan airnya. Saung-saung penunggu keramba membentuk perkampungan mengambang . Di sekitarnya tumbuh eceng gondok yang menghijau bagai padang rumput. Hal itu masih dilengkapi dengan hilir mudiknya jukung para pemasok benih dan pencari ikan.

Bendung  Cirata merupakan salah satu sentra ikan air tawar terbesar. Ribuan ton ikan dipasok dari para pembudidaya ikan  itu ke semua pasar ikan air tawar baik domestik maupun ekspor. Pemeliharaan ikan air tawar Cirata juga menjadi bukti, masyarakat Jawa Barat merupakan pemelihara ikan air tawar yang paling berhasil. Hampir di seluruh Jawa Barat terdapat kolam ikan yang  menghasilkan berbagai jenis ikan air tawar, terutama ikan emas, gurame, mujair. Ketika pemerintah mengizinkan Bendung Cirata digunakan sebagai lahan pemeliharaan ikan, ribuan orang membuka usaha budidaya ikan.

Secara ekonomi, pemeliharaan ikan dalam jaring apung (japung) itu, cukup menguntungkan. Jabar makin terkenal sebagai penghasil ikan air tawar terbesar di Indonesia Namun pemeliharaan ikan di japung itu mengandung risiko yang sangat merugikan pula. Nilai ekonomisnya tidak seimbang dengan kerugian yang ditimbulkannya. Akibat tidak terkendalinya jumlah jaring terapung, Bendung Cirata,semakin terganggu. Air waduk tercemar limbah pakan ikan.

Selain sering menimbulkan arus balik dari bawah ke permukaan yang mengakibatkan ribuan ton ikan mati, juga air yang mengandung cemaran kimia berupa amoniak bercampur sulfur dapat merusak mesin pembangkit tenaga listrik. Perlatan yang ada di dalam air mengalami korosi lebih cepat. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja, pengelola Bendung Cirata mengalami kerugian lebih dari Rp200 miliar.

Mau tidak mau, pemerintah harus melakukan pemulihan Waduk Cirata. Salah satu tindakan drastis yang dilakukan Satuan Program Citarum Harum Sektor 12 Dam III Siliwangi ialah membersihan Cirata dari keramba jaring terapung. Melalui sosialisasi cukup panjang, Gerakan Citarum Harum membongkar keramba japung secara bertahap. Sejak 11 Juli terdapat 11 ribu lebih keramba japung yang sudah dibongkar. Rata-rata 1.300 japung yang dibongkar. Ditargetkan tahun 2023, Cirata bebas japung.

Tentu saja tindakan pembongkaran japung itu merupakan tindakan yang dilakukan setelah melalui penelitian saksama. Para pembudidaya ikan mau tidak mau harus mengikuti program itu. Lahan usahanya akan hilang padahal selama ini, sejak 1997-an, japung merupaka lahan usaha yang mereka geluti dengan modal cukup besar. Seyogianya sejak awal pemerintah menentukan kuota japung di Cirata itu dengan pengawasan sangat ketat. Pembatasan kuota itu harus berdasarkan penelitian yang menyeluruh, disesuaikan dengan daya dukung air, kekuatan bendung, dan pengaruhnya terhadap peralatan pembangkit listrik.

Pemerintah dan para pelaku budidaya ikan sebaiknya menjadikan kasus Cirata sebagai cermin. Kasus Japung Cirata jangan sampai terjadi di bendung lain, terutama bendung yang baru selesai dibangun. Jangan sampai pemerintah harus melakukan tindakan drastis yang pasti merugikan petani. Sediakanlah kompensasi yang sedikitnya menolong para pembudidaya ikan japung dari kerugian yang lebih besar.

Pemerinrah daerah setempat jangan sekali-kali memberi izin sementara. Pemerintah akan bingung ketika kesementaraan itu menjadi permanen. ***