Kelaparan dalam Kemajuan

17

PROGRAM pemerintah yang lebih banyak mengarahkan pembangunan ke Indonesia Timur berimbas pada makin menurunnya angka kemiskinan di wilayah itu. Hal itu disampaikan Kepala Badan Statistik Provinsi Maluku, Dumangar Hutauruk, seperti dimuat KOMPAS 24/7.

Distreribusi barang ke seluruh pelosok Maluku makin lancar melalui tol laut. Salah satu dampak kelancaran distribusi itu, harga berbagai barang di provinsi itu sama dengan di kota-kota besar di P.Jawa. Kantong-kantong kemiskinan seperti Maluku Barat Daya, MalukuTengara Barat, dan Kepulauan Aru dapat terlayani dengan tol laut.

Selain tol laut, pembangunan infrastruktur berupa jalan juga makin melancarkan arus barang. Dengan demikian, Indonesia bagian timur yang dulu seolah-olah terlupakan, kini meningkat bahkan dalam berbagai sektor, sudah sejajar dengan wilayah di Indonesia bagian barat. Perikanan bahkan meningkat sampai 478,2 persen. Kenaikan yang sungguh fantastik. Pendapatan Maluku dari ekspor ikan mencapai 2,3 juta dolar AS.

Masyarakat pasti mengapresiasi keberhasilan tersebut. Program pemerintah ”mengindonesiakan”  semua wilayah, khususnya Indonesia Timur (Maluku dan Papua) mulai dirasakan hasilnya. Rakyat di wilayah itu yang selama ini merasa terkucilkan dan tertinggal dibanding saudara-saudaranya di belahan Nusantara Barat, kini merasa bagian yang tak terpisahkan dari NKRI. Perasaan ketertinggalan itulah yang menjadi sumber konflik vertikal dan horisontal, antara rakyat wilayah timur dengan pemerintah dan masyarakat di bagian barat. Paham separatisme yang muncul di belahan timur itu pada dasarnya didorong rasa ketidakpuasan sebagian rakyat.

Dalam kemajuan masyarakat di wilayah Maluku itu, tiba-tiba muncul berita yang cukup mengagetkan. Sebuah komunitas adat yang tinggal di daerah terpencil Mause Ane, Desa Maneo Rendah, Kecamatan Seram Utara Kabupaten Maluku Tengah, menderita kelaparan. Menurut KOMPAS, dua anak balita dan seorang lansia dilaporkan meninggal dunia karena kehabisan makanan. Sekira 170 warga terpaksa mengonsumsi daun-daunan karena tidak ada makanan lain. Akibat peralihan cuaca, warga adat Mause Ane gagal panen. Tanaman padi dan jagung tidak tumbuh sebagaimana biasanya akibat kebakaran lahan yang menghabiskan ladang dan tempat tinggal mereka.

Komunitas itu terisolasi di perbukitan. Menuju ke tempat itu membutuhkan waktu berhari-hari dengan berjalan kaki dari  Masohi, ibu kota Maluku Tengah. Kendaraan dari Masohi ke Desa Maneo Rendah butuh wajktu tujuh jam. Dari sana ke lokasi Mause Ane butuh waktu seharian dengan jalan kaki.

Benar, mereka merupakan komunitas adat yang ”sengaja” hidup di daerah terpencil, tidak berarti mereka harus menderita. Mereka, seperti komunitas adat di tempat lain, pada dasarnya dapat bertahan hidup dan  tidak pernah mengalami kekurangan makanan. Sikap mandiri dalam mengelola lahan adat yang mereka miliki, seharusnya mereka berkecukupan karena mereka tidak memiliki tuntutan hidup di luar kemandiriannya.

Pemerintah tetap berkewajiban melindungi dan mengayomi mereka. Antara lain, membuka mereka dari keterisolasian. Infrastruktur berupa akses jalan dan jembatan harus tetap dibangun. Dengan adanya infrastruktur itu, pemerintahj dapat dengan segera memberi bantuan apabila masyarakat adat itu membuituhkan pertolongan.

Warga Mause Ane harus segera diangkat dari penderitaan akibat terisolasi itu. Jangan sampai berita itu dijadikan konsumsi politik oleh kaum yang punya niat meruntuhkan pemerintah dan NKRI. ***