Sajian Rujak Cingur Disukai Mantan-mantan Presiden RI

36

MENCICIPI kuliner khas suatu daerah seolah menjadi keharusan apabila kita mengunjunginya. Mandalawangi saat melakukan perjalanan ke Surabaya belum lama ini , sempat menyantap sajian kuliner khas Surabaya ,yakni rujak cingur.Kita bisa dengan mudah menemukan penjual penganan ini di  Surabaya.

Salah satu penjual rujak cingur yang berlokasi Jalan Ahmad Jaiz nomor 40  yang telah berjualan rujak cingur lebih dari 40 tahun, kami kunjungi . Rujak cingur disini banyak dikunjungi oleh kalangan artis yang ingin menyantapnya , bahkan mantan-mantan presiden Indonesia,seperti almarhum Pa Harto dan Gus Dur, dan Megawati pun pernah mencicipi kelezatan rujak cingur di kawasan Ahmad Jaiz ini.

Rujak cingur merupakan salah satu makanan tradisional  daerah Jawa Timur, terutama Surabaya. Dalam bahasa Jawa kata cingur berarti “mulut”, hal ini merujuk pada bahan irisan mulut atau moncong sapi yang direbus dan dicampurkan ke dalam hidangan. Rujak cingur biasanya terdiri dari irisan beberapa jenis buah seperti timun, kerahi (krai, sejenis timun khas Jawa Timur), bengkuang, mangga muda, nanas, kedondong, kemudian ditambah lontong, tahu, tempe, bendoyo, cingur, serta sayuran seperti kecambah/taoge, kangkung, dan kacang panjang.

Semua bahan tadi dicampur dengan saus atau bumbu yang terbuat dari olahan petis udang, air matang untuk sedikit mengencerkan, gula merah, cabai, kacang tanah yang digoreng, bawang goreng, garam, dan irisan tipis pisang biji hijau yang masih muda (pisang klutuk). Semua saus/bumbu dicampur dengan cara diulek, itu sebabnya rujak cingur juga sering disebut rujak ulek.

Dalam penyajiannya rujak cingur dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyajian ‘biasa’ dan ‘matengan’ (menyebut huruf e dalam kata matengan seperti menyebut huruf e dalam kata: seperti/menyebut/bendoyo). Penyajian ‘biasa’ atau umumnya, berupa semua bahan yang telah disebutkan di atas, sedangkan ‘matengan’ (matang, Jawa) hanya terdiri dari bahan-bahan matang saja, lontong, tahu goreng, tempe goreng, bendoyo (kerahi yang digodok) dan sayur (kangkung, kacang panjang, taoge) yang telah digodok.

Tanpa ada bahan ‘mentah’nya yaitu buah-buahan, karena pada dasarnya ada orang yang tidak menyukai buah-buahan. Keduanya memakai saus/bumbu yang sama.

Makanan ini disebut rujak cingur karena bumbu olahan yang digunakan adalah petis udang dan irisan cingur. Hal ini yang membedakan dengan makanan rujak pada umumnya yang biasanya tanpa menggunakan bahan cingur . Rujak cingur biasa disajikan dengan tambahan kerupuk dengan alas pincuk (daun pisang) atau piring.

Dibalik rasanya yang lezat, kuliner ini ternyata memiliki nilai filosofis tersendiri. Bila selama ini Anda menikmati sepiring rujak cingur hanya karena ingin menikmati rasanya yang nikmat dan khas, tak ada salahnya bila Anda juga menggali lebih dalam tentang filosofi rujak cingur itu sendiri. Dalam hal ini, Anda bisa memulainya dengan memahami sejarah serta asal rujak cingur tersebut.

Asal muasal rujak cingur diyakini berangkat dari sebuah cerita terdahulu yang menyebutkan bahwa ada seorang raja bernama Firaun Hanyokrowati di Masiran yang ditakuti oleh rakyatnya. Hingga suatu ketika pada saat sang raja berulang tahun, ia memerintahkan kepada seluruh juru masak istana untuk membuat sajian istimewa. Namun, ternyata tak ada satupun masakan yang tersaji cocok dengan lidah sang raja.

Lalu ada seorang punggawa kerajaan yang mengatakan kepada raja bahwa ada seseorang yang ingin menyajikan masakannya. Orang tersebut mengaku bernama Abdul Rozak. Setelah memeriksa makanan yang dibawa oleh Rozak, akhirnya sang raja mencicipi masakan tersebut.  Ternyata raja begitu menikmati hidangan tersebut.

Saat raja menanyakan nama masakan tersebut, Rozak mengaku belum memiliki nama untuk hidangan tersebut,  rajapun kemudian menanyakan salah satu isian dari masakan tersebut yang memiliki tekstur kenyal. Rupanya itu adalah cingur atau mulut unta. Kemudian sang raja memberi nama masakan tersebut dengan Rozak Cingur. Raja menawarkan hadiah kepada Rozak. Karena keinginannya untuk mengembara, akhirnya Rozak meminta kapal laut sebagai hadiah dan ia pun memulai perjalanannya hingga terdamparlah kapalnya di dermaga Tanjung Perak. Kemudian ia mulai memperkenalkan masakan yang ia hidangkan untuk sang raja.

Namun, karena kesulitan menemukan cingur atau mulut unta, ia  menggantinya dengan cingur sapi yang ternyata justru memiliki rasa yang jauh lebih baik. Masyarakat sekitar rupanya kesulitan untuk menyebut Rozak , sehingga  masyarakat menyebutnya rujak (Rozak) cingur. Untuk menyajikan hidangan rujak cingur yang lezat, rupanya menggunakan tambahan dua jenis petis sebagai bumbunya, yaitu petis yang hitam yang paling enak dan petis kecoklatan yang terbilang kurang enak. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa penggunaan kedua jenis petis tersebut hanya sebagai salah satu trik berdagang supaya bisa mendapatkan untung banyak.

Tapi rupanya, pemikiran tersebut kurang tepat, rujak cingur yang dibuat hanya dengan menggunakan petis hitam yang berkualitas tinggi ternyata justru menghasilkan rujak yang kurang lezat, bahkan cenderung membuat eneg. Inilah mengapa perlu diseimbangkan dengan penggunaan petis kecoklatan yang kurang enak. Hal ini merupakan salah satu cara untuk bisa mendapatkan rujak dengan citarasa yang pas di lidah dan nikmat.

Dari pengolahan rujak terlebih dari penggunaan petis tersebut mengandung nilai filosofi hidup yang cukup mendalam, bahwasannya hidup serba ‘enak’ seringkali membuatnya kehilangan rasa nikmatnya. Inilah mengapa perlu adanya penyeimbangan yang membuat hidup terasa lebih enak dan nyaman. Saat kita tak mengetahui bagaimana rasanya sesuatu yang tak enak, kita mungkin tak akan pernah bisa menyebut sesuatu yang enak adalah hal yang enak. (E-001) ***