Dr. Nurul Hermina, SE.MM. , Dosen Diminta Berlari, Tapi Kedua Kakinya Diikat

86

Dr. Nurul Hermina, SE.MM., kelahiran 15 Maret 1960 ini,  adalah putri dari pasangan Oma Somawiria dan Ida Djubaedah (Alm.).   Selain berprofesi sebagai dosen / akademisi di Universitas Widyatama Bandung,  ia juga menjabat sebagai Direktur U&I Consulting. 

Istri dari Ir. Ahmad Kordinal ini,  mulai berkiprah sebagai Direktur U&I Consulting setelah ia mempunyai pengalaman bekerja sebagai praktisi di PT. Telkom selama 25 tahun,  yang mana banyak pengalaman bisnis yang dialaminya,  mulai dari menghadapi customer,  membangun hubungan dengan atasan maupun teman,  serta berbagai pengalaman dalam pengambilan keputusan.   Selama bekerja di Telkom,  posisi terlama yang dijabatnya adalah di bidang pemasaran,  yakni sebagai General Marketing Divisi Enterprise yang menghandle customer perusahaan .

Berbekal pengalaman tersebut,  Dr. Nurul Hermina menyatakan bahwa,  keunggulan suatu perusahaan bukan lagi ditentukan oleh mesin dan fasilitas fisik produksinya,  tetapi ditentukan oleh aset knowledge nya.   Hal inilah yang mendorong dirinya untuk melanjutkan sekolah S3 di DBM (Doctoral Business Management) UNPAD,  dan merintis perusahaan di bidang pelatihan serta konsultasi manajemen bisnis,  yakni U&I Consulting yang didirikan tahun 2014.   Seiring perjalanan waktu, U&I Consulting mulai dikenal masyarakat.   Ketika itu,  U&I hanya fokus pada kelas pelatihan inhouse,  dan mulai tahun 2016 mulai men-deliver jasa konsultasi bisnis management,  serta membuka pelatihan public training.

Clientnya saat ini adalah :  PT. Telkom, Indosat, Peruri, Hutama Karya, Icon+, Pajak, Admedika, Infomedia, Radana Finance, Indonesia Power, Dekopin (Dewan Koperasi Indonesia), Gratika, Infomedia Solusi Humanika (ISH), PT. Graha Sarana Duta, IMA (Indonesia Marketing Association), Tugu Kresna Pratama, Universitas Pembangunan Nasional, Universitas Widyatama, SBM ITB serta UNPAD.   Beberapa di antara klien U&I Consulting berkeinginan untuk meningkatkan kompetensi peserta binaannya.

Ibu dari Ir. Satria Indraprasta,  Citra Lestari, ST.MM.,  Nurani Asri Utami, B.Comm, MSc.,  Rizky Nurakbarianti, BSc.MSc.,  serta Nabila Rizka Ramadhani ini,  selain menjabat sebagai Direktur U&I Consulting,  ia juga bekerja sebagai dosen di Universitas Widyatama Bandung.   Dari pengalaman inilah,  akhirnya ia menemukan “passion”nya di bidang pendidikan.   Dr. Nurul Hermina mengungkapkan bahwa,  semua ini mungkin ada hubungannya dengan latarbelakang keluarganya,  khususnya dari almarhum ibunya yang notabene sebagai kepala sekolah.

“Setelah pensiun dari Telkom,  saya mengajar sebagai dosen luar biasa di Telkom University, Universitas Widyatama, MBA ITB serta di STIE Ekuitas.   Dari pengalaman mengajar selama 2 tahun,  akhirnya saya mengambil posisi sebagai dosen tetap di Universitas Widyatama.  Selama mengajar,  saya merasa selalu ada semangat, sesuatu yang datang dari hati,  dan merasa berkewajiban untuk membagi ilmu saya kepada generasi muda,  serta menghasilkan lulusan yang kompeten, inovatif dan berkarakter. Hal ini selaras juga dengan usaha yang saya jalani di bidang konsultan manajemen bisnis,”  klaimnya.

Penganut moto hidup “Ikhtiar, Doa, Tawakal (IDT)” ini mengutarakan bahwa,  pengalamannya mengajar karyawan dengan mahasiswa yang mempunyai perbedaan.  Untuk mengajar mahasiswa,  diperlukan kiat-kiat khusus agar mahasiswa tetap “stay tune” di kelas,  dan harus menjaga suasana kelas agar tetap hidup.   Apalagi mahasiswa saat ini termasuk golongan generasi milenial atau gen Y, sedangkan dirinya termasuk generasi “baby boomers”,  jadi ada gap yang cukup tinggi,  walaupun sebenarnya pengajar golongan ‘baby boomer’ ini juga mempunyai kelebihan,  antara lain dari aspek wisdom dan pengalaman.

“Lalu,  bagaimana caranya menghadapi generasi era milenial ?. Mengutip hasil riset konsultan Experd yang menyatakan bahwa,  kita sebagai generasi sebelumnya,  harus aware dulu karakter manusia era milenial,  antara lain dapat bekerja all out,  high profile,  inovatif dan menguasai teknologi,  serta sudah menjadi warga digital.   Agar kita bisa berjalan selaras dengan mereka,  maka kita perlu memberi mereka lingkungan yang tepat,  serta dukungan yang kuat untuk berkreasi.   Begitu pula untuk pola pengajaran di kelas,  yang tidak lagi dilakukan satu arah,  tapi menciptakan interaksi yang kuat dengan mahasiswa,  dan melibatkan semua mahasiswa di kelas,  tidak hanya mahasiswa yang pintar saja.   Kasus-kasus riil perusahaan diperbanyak,  dan latihan juga ditingkatkan.   Sebagai pengajar, kita harus sudah siap dengan materi yang ‘fresh’,  tidak hanya sekedar diambil dari buku referensi,  namun ditambahkan juga beberapa informasi yang sedang tren.   Dari aspek soft skill,  di sela-sela mengajar sebaiknya juga ditanamkan motivasi,  serta bagaimana breaking the habbit untuk menjadi mahasiswa yang kompeten dan extraordinary,” ucap Dr. Nurul.

Dr. Nurul Hermina menambahkan juga bahwa,  berprofesi sebagai dosen di era sekarang ini apalagi ke depan,  bukanlah hal yang mudah.   Prinsipnya,  kita harus tetap confidence dan lebih pintar dari mahasiswa,  bagaimana caranya ?  Sudah pasti kita harus mengupdate informasi terkini sebanyak mungkin,  tidak hanya di lokal,  namun juga secara global.   Di hadapan mahasiswa,  kita cukup memberi arahan sedikit saja,  namun ajak mereka berdiskusi dan bertukar pendapat.   Satu kelemahan dari mahasiswa era saat ini adalah, kurang mempunyai semangat juang, serta kurang bisa menyampaikan pendapat, walaupun sebenarnya mahasiwa tersebut pintar,  tapi communication skill nya lemah.   Oleh karena itulah,  Dr. Nurul Hermina mengaku bahwa,  ketika sedang mengajar,  ia selalu selipkan motivasi,  serta selalu mendorong mahasiswa untuk mau berbicara dan mengemukakan pendapat.

Nurul Hermina mengaku juga bahwa,  selama menjadi dosen,  selain mengajar,  ia juga melakukan riset dan penelitian.   Terkait profesinya ini,  ia bergabung dengan organisasi seperti ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), IMA (Indonesia Marketing Association), IKA DIM UNPAD (Ikatan Alumni Doktor Ilmu Manajemen UNPAD) dan MASTEL (Masyarakat Telekomunikasi).

Harapannya adalah,  dalam dunia pendidikan khususnya universitas,  sebaiknya lebih disempurnakan pada basis keahlian (vokasi),  serta peningkatan kualitas dan pengembangan karir bagi dosen,  supaya jangan sampai ada ungkapan : ‘dosen diminta berlari, tapi kedua kakinya diikat,  sehingga dosen itu tidak dapat move on’.   Selain itu,  penerapan teknologi informasi di universitas adalah mandatory,  karena paradigma suatu organisasi yang inovatif saat ini,  dilihat dari seberapa cepat organisasi ini bisa beradaptasi dengan teknologi digital,  serta memiliki lingkungan kerja yang terbuka dan kolaboratif.

(E-018)****