10 Negara Anggota Colombo Plan Mengikuti Pelatihan dan Pengembangan IKM di Bandung

51

BISNIS BANDUNG -Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah (IKM) bersama dengan Kementerian  Sekretariat Negara dan Sekretariat Colombo Plan memberikan pelatihan kepada aparat pemerintah dan pengusaha Industri Kecil Menengah (IKM) anggota Colombo Plan dari Afghanistan,  Bangladesh, Bhutan,  India,  Laos,  Myanmar,  Nepal,  Pakistan,  Sri Langka dan Indonesia sendiri.

 Kegiatan ini menurut Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian RI, Gati Wibawaningsih,merupakan Program Kerja Sama Teknik Selatan Selatan dan Triangular (KSST)  “Capacity Building Program on Enhancing The Development of Small and Medium Industry” yang berlangsung dari tanggal 18  – 30 Juli 2018 di Jakarta dan Bandung. Peserta pelatihan berjumlah 20 orang dari 10 negara adalah aparat pemerintah dan pengusaha Industri Kecil Menengah (IKM), diberikan pembelajaran tentang pengembangan IKM di Indonesia. “ Pembelajaran difokuskan pada pengembangan IKM melalui penelitian dan pengembangan (R&D) oleh lima Balai Besar Kementerian Perindustrian di Bandung , yakni Balai Besar Textile,  Balai Besar Logam dan Mesin, Balai Besar Pulp dan Kertas, Balai Besar Bahan dan Barang Tekhnik dan Balai Besar Keramik,”ujar Gati, Senin di Bandung.

Di Balai Besar Kemenperin, lanjut Gati , para peserta diajarkan membuat Kain Jumputan, kemudian di Balai Besar Textile menjajal mesin MNC buatan Balai Besar Logam dan Mesin. Selain itu dilakukan kunjungan ke Balai Besar Pulp dan Kertas, untuk melihat proses daur ulang kemasan Aseptik,  serta di Balai Besar Bahan dan Barang Tekhnik untuk pengembangan Batrei Lithium Ion dan proses layanan dengan menggunakan prinsip loT. Sedangkan di Balai Keramik menyaksikan proses membuat hiasan keramik.

Tak hanya mengenai R&D, para peserta juga melakukan kunjungan ke beberapa IKM  di Kota Bandung, antara lain Batik Komar,  Bandrek Hanjuang, Matoa Indonesia dan Elina Keramik. Selain itu , para peserta latihan juga melihat kemajuan  kedirgantaraan dan pengembangan start up inkubator di PT Dirgantara Indonesia dan Bandung Technopark.Termasuk berkunjung ke  Museum Konfrensi Asia Afrika dan Saung Angklung Udjo sebagai tinggalan sejarah dan budaya Jawa Barat .

Dikemukakan  Gati Wibawaningsih, para peserta yang berasal dari negara anggota Colombo Plan , termasuk Indonesia yang  sama-sama belajar tentang pengembangan IKM. Posisi Indonesia dalam kegiatan ini  memberikan pembelajaran mengenai IKM kepada negara – negara peserta dan bertukar pengalaman terkait keberadaan IKM yang diharapkan bisa dikembangkan di negara masing-masing.

Bishnu Sharma Prasad, pengusaha IKM telematika Dumba 3D Work asal Buthan mengaku, mendapatkan pengalaman yang sangat berharga yang bisa ia terapkan di negaranya.  “Saya sangat terkesima dengan R&D yang ada di Balai Besar Pulp dan Kertas, mereka berinovasi dari mendaur ulang kemasan Aseptik. Ini merupakan hal baru, dan saya rasa bisa diterapkan nanti di negara saya.  Selain itu juga pengembangan inkubator IKM yang ada di Bandung Techno Park menurut saya merupakan hal yang luar biasa dan bisa saya coba terapkan,”ungkap Bishnu.

Lain halnya yang diungkapkan MD Olliulah peserta dari Kementerian Perindustrian Bangladesh . Ia menyebut, Indonesia dan  Bangladesh memiliki permasalahan yang hampir sama seperti populasi yang tinggi, khususnya  pada IKM. “Saya rasa, kami harus mengembangkan apa yang kita dapat dari kegiatan ini, khususnya dalam penggunaan tekhnologi industri. Satu hal yang saya rasa bisa diimplementasikan di negara saya,  yaitu penerapan bahan baku IKM yang semuanya berasal dari produk lokal,”tuturnya.

“Kami mengapresiasi dukungan dari seluruh pihak yang terlibat dalan program ini. Harapan kami para peserta dapat belajar dari pengalaman Indonesia dan dapat mengaplikasikan “action plan” yang telah mereka susun dinegaranya masing masing. Semoga melalui program ini,  Indonesia dan negara Colomba Plan dapat semakin bersahabat erat” ungkap Sekretaris Direktorat Jenderal IKM Eddy Siswanto pada penutupan kegiatan pelatihan.  Pada penutupan kegiatan pelatihan oleh Sekretaris Direkorat Jenderal  IKM Kemenperin Ir.Eddy Siswanto MAM , dihadiri Kepala Biro Kerjasama Teknik Luar Negeri Nanik Purwanto S.H,M.Pub.Pol, dan Sekretaris Jenderal Colombo Plan Ambassador Phan Kieu Thu PhD serta unsur dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perindustrian, Kementerian Sekretariat Negara , perwakilan dari Balai Besar Kementerian Perindustrian di Bandung, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, PT Dirgantara Indonesia,  Museum Indonesia,  Museum Konferensi Asia-Afrika,  Saung Angklung Udjo, Bandung Techno Park dan para pelaku IKM yang terlibat dalam program pelatihan.ik

Kerjasama Colombo Plan  

Capacity Building Program On Enhancing The Development of Small and Medium Industry, menurut Gati ,  merupakan program di bawah pilar Programme For Private Sector Development (PPSD) Colombo Plan. Program ini juga merupakan salah satu komitmen  delegasi Indonesia pada forum pertemuan pejabat senior seluruh negara anggota Colombo Plan “Colombo Plan Conslutative Committe Meeting (CP-CCM) ke-45”  di Fiji tanggal 28-30 September 2016 lalu.

Program ini telah diselenggarakan dalam 2 angkatan. Angkatan pertama  diselenggarakan tanggal 24-28 Oktober 2016 di Bali yang diiukuti oleh 19 negara peserta  dari negara anggota Colombo Plan, antara lain Bhutan,  Bangladesh,  Fiji,  Myanmar,  Nepal, Sri Langka, Pakistan, Papua Nugini,  Malaysia, Laos, Thailand,  Maladewa,  dan Indonesia. Angkatan kedua  berlangsung Yogyakarta pada 30 Juli-9 Agustus 2017 dengan dihadiri 22 peserta dari Bhutan,  Bangladesh, Myanmar, Nepal, Sri Langka, Pakistan, Nepal,  Papua Nugini, Malaysia, Laos, Thailand, Iran, Vietnam dan Indonesia. Pada tahun 2018 ini didiselenggarakan  di Kota Jakarta dan Bandung yang memperkenalkan tekhnologi dan inovasi yang  dilakukan pemerintah dalam mengembangkan IKM.

Dikemukakan Gati , Indonesia mulai terlibat dalam kerjasama pembangunan internasional melalui Konfrensi Asia Afrika pada tahun 1955. Kerjasama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST) menjadi salah satu bentuk kerjasama Indonesia dalam pembangunan internasional dalam membantu negara – negara berkembang a dengan cara berbagi pengetahuan melalui mekanisme Bilateral dan Triangular. KSST Indonesia memberikan dukungan dalam bentuk proyek-proyek bantuan, dukungan peralatan,  program magang,  seminar/lokakarya, kunjungan belajar, pelatihan, pengiriman tenaga ahli.

Sejak Indonesia berhasil mengembangkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,  Indonesia menjadi salah satu pemeran penting dalam pembangunan regional dan global.  KSST Indonesia juga menjadi instrument  bagi kebijakan pembangunan bangsa dan tatanan dunia berdasarkan asa kemerdekaan,  perdamaian abadi dan keadilan sosial.

“Visi KSST adalah kemitraan yang lebih baik demi kesejahteraan. Sementara misinya adalah mempromosikan kemitraan,  meningkatkan kerjasama pembangunan,  termasuk kerjasama ekonomi  serta meningkatkan solidaritas dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki setiap negara,” ucap Gati. (E-018)****