Pompanisasi Terbentur BBM Ribuan Hektar Sawah di Jabar Kekeringan

20
Petani melihat kondisi sawahnya yang mengering di desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (13/7). Puluhan hektarE lahan sawah di daerah tersebut terancam gagal panen akibat kekeringan dan kesulitan mendapatkan air irigasi. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/aww/18.

BISNIS BANDUNG – Ribuan hektar sawah di Jawa Barat terdampak kekeringan, bahkan beberapa di antaranya mengalami puso. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, Hendy Jatnika mengatakan , sampai dengan tanggal 17 Juli 2018, luas lahan yang terdampak kemarau mencapai 9.311 hektare (ha). Dengan rincian, kondisi ringan 5.460 ha, sedang 2.610 ha, berat 835 ha.

“Khusus  yang mengalami puso mencapai 406 hektare, memang masih kecil, tapi luas lahan yang terdampaknya sangat besar,” ujar Hendy .

Dijelaskan,  lahan puso paling banyak terjadi di Indramayu seluas 100 Ha. Kemudian di Garut 92 ha, Ciamis 77 ha, Kabupaten Sukabumi 67 ha, Majalengka 51 ha, Kabupaten Bogor 51 ha,  Kabupaten Bandung 3 ha.

“Memasuki musim kemarau saat ini, debit air hujan sudah berkurang, terhitung sejak bulan Juli, Agustus, dan September. Luas lahan terdampak kemarau terjadi hampir di seluruh daerah Jabar, terutama di wilayah yang belum memiliki sistem irigasi teknis,” tutur Hendy menjelaskan lahan yang terdampak kemarau di wilayah Jawa Barat.

Seharusnya, lanjut Hendy ,  petani yang punya lahan tanpa irigasi teknis tidak memaksakan menanam padi. Sebaiknya menanam jagung atau kedelai.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah menyiapkan pompanisasi bagi lahan yang masih punya potensi air. Alat pompa sudah disebar ke dinas terkait di kabupaten/kota.

“Pompa sudah siap digunakan, tinggal digerakkan petugas di lapangan . Tapi kadang kendalanya terbentur pada masalah bahan bakar,”ujar Hendy .

Meski dihantui kemarau panjang, Hendi optimistis target produksi padi Jabar bisa tetap tercapai mengingat realisasinya hingga pertengahan tahun sudah mencapai 60%.

Tahun ini, kata dia, target produksi padi Jabar  sebesar 12,5-13 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dengan rata-rata produksi sebesar 1 juta ton/ bulan.

“Saya harap pada bulan Oktober sudah hujan, sehingga bisa langsung masuk musim tanam 2018-2019,” ungkap Hendy , baru-baru ini kepada wartawan di Gedung Sate.

Nelayan terdampak

 Sementara  itu , aktivitas nelayan di Pantai Selatan Jawa Barat sudah  sepekan terhenti karena  gelombang pasang tinggi hingga 6 meter.

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jabar Jafar Ismail, nelayan sudah  mengetahui pada musim pancaroba dalam  sepekan terakhir ini akan menimbulkan gelombang tinggi terjadi. Tinggi gelombang sangat membahayakan.

“Berdasar  pantauan , nelayan sudah tidak melaut  sampai seminggu ini, menunggu cuaca bagus. Bahaya kalau cuaca seperti ini masih tetap melaut,” ujar Jafar, Jumat (27/7) pekan lalu.

Pihaknya mendapatkan laporan , akiba gelombang tinggi tidak hanya nelayan yang aktifitasnya terganggu, sejumlah kerusakan seperti warung dan rumah warga di wilayah Pangandaran dan Tasikmalaya juga terdampak. “Ada rumah yang rusak, ada yang mengungsi juga ke tempat yang lebih tinggi, karena khawatir  ada gelombang yang lebih besar,” ungkapnya.

Jafar  berharap cuaca buruk dan fenomena alam ini tidak berkepanjangan mengingat saat ini di wilayah selatan, khususnya Pangandaran, ikan sedang banyak-banyaknya, seperti ikan kembung dan tongkol . “Di daerah Rancabuaya Garut, terdapat  ikan tongkol dan layur,” papar Jafar.

Namun dia memastikan,  meski aktifitas nelayan berhenti selama satu pekan, namun tidak akan berpengaruh besar pada produksi ikan tangkap di Jabar. “ Kecuali kalau satu, dua bulan terus-terusan,  baru ada pengaruhnya,” ujar Jafar. (B-003) ***