ZONASI & PEMERATAAN MUTU DIDIK

16

MEMBANGUN kualitas masyarakat itu laiknya membentuk tim sepakbola juara. Setiap lini, baik lini serang, lini tengah atau lini pertahanan harus diisi oleh pemain yang mumpuni secara kualitas. Gesit dalam menyerang, paten mengolah bola namun juga handal dalam bertahan.

Masyarakat kota Bandung, juga negeri ini umumnya harus berbasiskan mutu pendidikan yang tinggi dan merata di semua tempat. Ini menjadi syarat mutlak agar masyarakat bisa maju dalam kompetensi, cerdas kreatif berbudaya serta mandiri secara ekonomi. Menjadi masyarakat yang bermental juara!

Human Development Index (HDI) Indonesia yang dirilis badan dunia UNDP sejauh ini mengalami peningkatan.  Tahun 2017, HDI Indonesia mencatat angka 70,81 atau meningkat 0.63 point dari tahun 2016. Namun, pencapaian ini masih tertinggal dari negeri2 lain yang tergolong maju dengan tingkat kualitas hidup yang layak.

Menurut para ahli dan badan dunia, salah satu konsep yang diajukan untuk meningkatkan HDI adalah menghilangkan kesenjangan, terutama memperluas akses ke Pendidikan dan penghilangan norma sosial dan hukum yang diskriminatif.

Sistem zonasi, dulu kita kenal juga dengan nama sistem rayon. Anak didik diarahkan untuk menempuh pendidikan di area yang terdekat dengan tempat tinggalnya.
Selain memudahkan dari sisi logistik, juga agar masyarakat atau orang tua mendapatkan akses yang mudah untuk memantau anak-anaknya.

Tentu saja sistem zonasi ini tak luput dari kekurangan. Misalnya yang akan sangat terasa adalah meningkatnya harga jual properti di area yang sekolahnya punya reputasi sangat baik. Orang-orang tua akan berbondong membeli rumah disekitar sekolah tersebut, menyebabkan disparitas harga yang cukup signifikan. Ini juga terjadi di Jepang.

Kita tahu Jepang adalah contoh Negara yang sukses menerapkan sistem zonasi atau rayon. Dengan mutu pengajar yang hampir merata, peserta didik mendapat pendidikan yang juga terukur dan berstandar. Hebatnya, sistem zonasi ini menjamin kehadiran peserta didik sebesar 99%. Kalau peserta didik nyaman menjalani pendidikannya, tentu kualitas bisa terkejar.

Pemberlakuan zonasi pendidikan mesti dipandang positif namun juga penting untuk dikritisi, karena kita tahu zonasi pendidikan bertujuan untuk pemerataan mutu didik dan memperluas askes pendidikan ke siapa saja. Zonasi pendidikan menjanjikan kualitas yang merata dan berimbang di semua area. Tujuan akhirnya untuk meningkatkan Human Development indeks ke angka yang lebih baik.

Tapi, pemberlakuan zonasi juga perlu sosialisasi yang terukur, misalnya pemberlakuan yang bertahap. Tak serta merta juga dilakukan secara langsung tanpa kesiapan perangkat pendidikan, juga terutama kondisi psikologis peserta didik yang akan mengalaminya. 1-2 tahun mungkin cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya, sebelum diberlakukan secara menyeluruh. Dan untuk menghindari munculnya dampak negatif dari pemberlakuan sistem zonasi, hendaknya pemerintah dan masyarakat wajib untuk senantiasa membenahi kualitas infrastruktur dan suprastruktur pendidikan agar mutu juga merata di seluruh kota.

Namun demikian, kami berharap proses dan pemberlakuan system zonasi ini sukses demi kemajuan masyarakat.
Amin.

Penulis : Zaumi Sirad, Ssi.Apt
Caleg DPRD Kota Bandung 2
(Alumni ITB95)