Gaya Hidup Milenial Dongkrak Impor Barang Konsumsi

20

PERUBAHAN  gaya hidup masyarakat dipengaruhi sekali gus mempengaruhi pola konsumsi. Masyarakat Indonesia, khususnya kelas menengah, tengah mengalami perubahan luar biasa. Cara-cara konvensional dalam segala bentuknya mengalami perubahan luar biasa. Fesyen, transportasi, tata rambut, sampai pada makan dan minum memperlihatkan perubahan ke arah gaya milenial. Kita tidak tahu persis apa dan bagaiman gaya milenial itu.

Karena masih dalam proses, perubahan itu belum jelas benar apakah menuju ke suatu pola tertentu atau tidak. Ciri yang paling tampak, masyarakat kita tengah memasuki era digitalisasi. Gaya hidup milenial adalah gaya hidup serba digital. Segala macam hubungan atau komunikasi tidak lagi terlalu butuh gerak fisik kecuali dua ibu jari tangan. Karena itu generasi milenial disebut orang sebagai ”generasu ibu jari”.

Hanya dengan menggerakkan ibu jari pada tuts gawai, segala kebutuhan akan datang. Butuh alat transportasi, dengan menggerakan dua ibu jari di atas angka-angka pada HP, baik melalui aplikasi tertentu maupun tidak, dalam waktu singkat datanglah mobil atau motor yang siap antar. Butuh makanan, minuman, palaian, tiket kereta api, pesawat terbang, kapal laut, tinggal klik, semuanya akan datang dengan pengantar yang berperilaku robotik.

Sesuai dengan kelas sosial yang mendominasi angkatan milenial, para pelaku perubahan gaya hidup itu ialah kaum menengah ke atas. Mereka merupakan generasi yang tengah bermanja-manja dengan segala sesuatu yang serba global. Masyarakat kelas sosial yang berada di bawah kelas menengah, mencoba dengan segala kemampuannya, masuk pula ke era milenial tersebut. Cara berpakaian, tata rambut, gesture, genre musik, pola dan jenis makanan, bergaya westernis, setidaknya epigon Barat, setara Korea, Hongkong, atau Bangkok. Proses jual beli dalam bentuk  e-dagang, warung daring, atau dagang online, sudah menjadi pilihan kebanyakan pelaku usaha dan konsumen.

Gaya hidup seperti itu berdampak luas pada perdagangan. Hanya makanan, pakaian, bahkan pertunjukan, yang memfasilitasi gaya hidup baru itulah yang laku. Tidak terlalu mengagetkan ketika barang impor semakin merajai pasar. Sejak tiga tahun terakhir ini, tren belanja daring turut mendongkrak impor barang konsumsi. Industri dalam negeri, seperti dituilis KOMPAS 30/7, semakin tergerus. Badan Pusat Statistik mencatat,  hasil penjualan barang konsumsi melalui e-dagang tahun 2017 mencapai 7,056 miliar dolar AS. Impor barang konsumsi  Januari – Juni 2018 mencapai 8,182 miliar dolar AS, naik 21,6 persen dibanding tahun 2017.

Menurut Bappenas, nilai impor barang konsumsi perkapita pada triwulan I 2018 mencapai 14,9 dolar AS, naik 2 dolar AS dari triwulan I tahun 2017. Sedangkan barang konsumsi domestik terus menurun dari tahun ke tahun. Menteri Perencanaan Pembanguinan/Kepala Bappenas, Bambang PS Brodjonegoro, mengatrakan,  tiga tahun terakhir ini tengah terjadi perubahan pola konsumsi, masyarakat cenderung membeli barang konsumsi impor. Hal itu didorong dengan maraknya e-dagang yang tidak terikat batas wilayah atau negara.

Pemerintah, bukan hanya di Indonesia, mengalami kesulitan ketika harus mengubah pola hidup masyarakat tersebut. Arus perubahan itu sejalan dengan masuknya arus globalisasi. Hanya dengan pendekatan pendidikan, agama, dan lingkungan keluarga yang akan mampu mengerem laju perubahan itu. Kita semua, terutama orang tua dituntut mampu mengendalikan gaya hidup milenial ke arah yang lebih sederhana yang dipagari gaya hidup agamis. ***