Dewi Pratiwi, Bangkit dari Keterpurukan

55

Dewi Pratiwi kelahiran Bandung  22 Agustus 1975 .Istri  Budi Syaripudin (43 tahun) ini,  merupakan pengusaha printing sublim. Ia pengusaha yang lahir dari keterpurukan sesudah kena musibah . 

Ibu dari Talitha Syahla (14 tahun) dan Arham Fadhlurrahman (6 tahun) ini , sebelum menggeluti usaha bisnis printing sublim, ia berkecimpung pada bidang usaha konveksi yang memproduksi kaos anak laki-laki dan dewasa , namun karena ditipu, banting setir ke usaha printing sublim . “Karena kejadian ditipu itulah, muncul ide beralih ke printing sublim,  seiring berjalannya waktu dalam rangka pengembangan usaha,  saya buka divisi kerudung sekaligus memanfaatkan fasilitas  mesin yang ada,” tuturnya.

Dewi Pratiwi mengungkapkan,  usaha yang digelutinya saat ini, sama sekali  tidak berkaitan dengan latar belakang pendidikannya, namun bisa jadi berhubungan dengan latar belakang keluarga, terutama suami yang notabene merupakan keluarga besar pengusaha/berkecimpung di sektor perniagaaan. Keluarga besarnya punya usaha konveksi. Alasan ia memilih usaha tersebut (printing sublim) karena usahanya tidak berbeda jauh dengan usaha sebelumnya, hanya saja peralatan penunjangnya yang beda. Printing sublim merupakan proses mencetak kain menggunakan teknik sublim.

”Teknik sublim  merupakan teknik, sebelum melakukan proses pencetakan pada media kain, harus diaplikasikan ke atas kertas yang bisa disebut kertas transfer paper dengan menggunakan tinta sublim. Sedangkan sublimasi merupakan perubahan wujud zat dari zat padat ke gas atau sebaliknya, pengertian sublimasi ini diartikan juga sebagai proses perubahan zat dari fase padat menjadi uap, dan kemudian uap tersebut dikondensasi langsung menjadi zat padat tanpa melalui fasa cair atau fase antara,”ujar Dewi

Proses printing sublim, lanjut Dewi ,  menggunakan printer sebagai fasilitasnya dan kertas transfer paper yang digunakan untuk mentransfer tinta yang berbentuk gambar ke bahan kaos dengan bantuan suhu panas. Nantinya gambar yang berada atau dicetak di kertas transfer  dapat dipindahkan ke bahan kaos atau kain dengan cara dipanaskan. Kertas transfer paper sublim , digunakan sebagai perantara dalam pemindahan hasil cetak.

Sedangkan tinta sublim  yang berada pada kertas  bisa pindah ke kaos atau kain melalui proses sublim. Prinsip kerja inilah yang disebut dengan sublimasi yang artinya memindahkan zat yang mudah menyublim dari kertas ke kain atau kaos. Metode teknik sublim yang banyak digunakan untuk print kain yang besar menggunakan printer untuk transfer paper yang cukup besar, area cetak mesin rata- rata 160 cm tergantung menyesuaikan bahan kertas yang digunakan.

Cara mencetak atau print sublim ini disebukan Dewi , menggunakan kertas transfer paper Roll To Roll atau mesin printing kain, kertas tersebut dirolling dengan suhu minimal 200 derajat celcius di atas bahan kain yang ingin kita sublim.

Selain printer sublim yang menggunakan cara rolling roll to roll, ada juga yang menggunakan pemanas , yaitu mesin press atau hotpress.Tentu saja cara ini lebih banyak step proses lebih lama dibanding menggunakan mesin khusus sublim roll to roll yang sangat cepat. Teknik sublimasi ini akan sangat maksimal pada bahan polyester, contoh sublimasi yang digunakan , seperti untuk seragam olahraga sepak bola jersey clothing, club sepeda, club motor dan lainnya.

Harga tinta sublim bervariasi , biasanya menggunakan tinta sublim buatan Cina atau Korea, harga tinta sublim Korea lebih mahal karena hasil cetaknya  lebih tajam dan awet. Printer untuk cetak foto ini juga tidak terbatas warnanya, dan perlu diingat  bahwa printer sublimasi tidak cocok untuk bahan cotton. Bisa digunakan pada bahan cotton tetapi kertasnya harus menggunakan transfer paper, dan tintanya juga harus menggunakan tinta sublim/pigmen agar lebih kuat.

Untuk usaha print sublim menengah  ke bawah bisa menggunakan partai kecil, cetak kaos satuan, cetak mug, piring, dan lain-lain. Aplikasi hanya khusus printer stylus photo berbasis Epson. Penggunaannya dengan material kertas HVS, photo transfer paper dan lain-lain. Gambarnya dicetak pada kertas diprint dengan model terbalik atau mirror.

Pengusaha berhijab ini mengatakan, kemampuan memproduksi/mendesain produk ada yang ide sendiri, ada juga dari referensi mengambil dari internet, hanya saja dimodifikasi lagi , hingga hasilnya berbeda sama sekali. Rumah tempat produksi milik Dewi berada di Jalan Terusan Logam nomor 286 Ciwastra Kota Bandung. Dalam sebulan mampu memproduksi 7.200 m2 untuk printingnya, sedangkan untuk kerudung tergantung PO masuk. Bahan baku yang digunakan untuk kerudung memakai bahan voal impor karena lebih adem dan lebih mudah dibentuk, sedangkan untuk jersey tergantung permintaan konsumen.

Ditambahkan Dewi , dalam sebulan untuk printing bisa terjual minimal 7.200 m2 sedangkan kerudung tergantung pesanan.  Produk printing minimal 10 meter harganya Rp 25.000/meter persegi, di bawah itu dibandrol seharga Rp 32.000/ meter persegi. Sedangkan untuk kerudung dijual mulai Rp100.000 – Rp175.000 dengan omset penjualan perbulannya sekitar Rp 270 juta .

Mengenai pemasaran produknya, Dewi mengaku , masih di lingkup pasar lokal wilayah Jawa Barat . Menurut Dewi , pihaknya  bisa menerima order dengan pakai merk sendiri memakai design yang sudah ada tanpa dibebani biaya lagi.

Dikemukakannya, agar produknya tetap bisa berdaya saing, upaya yang dilakukannya yakni membuat inovasi , termasuk meningkatkan kualitas usaha, tetap ramah kepada kosumen dan karyawan , selain mempertahankan kualitas. “Perhatian pemerintah,perbankan atau swasta  agar bisa tumbuh yakni dengan mempermudah perzjinan serta menyelenggarakan banyak even untuk UMKM sebagai ajang memperkenalkan dan mendongkrak penjualan,” Dewi berharap .  (E-018)***