Transaksi e-commerce, Pada Tahun 2020 Pemerintah Targetkan Rp 130 Miliar

28

BISNIS BANDUNG – Pengamat Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama Utama Bandung, Dr Nurul Hermina SE.MM mengatakan,  berdasarkan fakta di lapangan,  usaha online di Indonesia memiliki prospek  menjanjikan . Hal itu terlihat  dari peningkatan pengguna internet dan mobile, peningkatan pengguna jasa on line, serta peningkatan pengguna e-commerce dan penyedia e-commerce.

Saat ini 93,4 juta dari 250 juta orang Indonesia merupakan pengguna internet dengan jumlah penjualan melalui e-commerce tahun 2014 mencapai USD 2,6 miliar. Menurut Nurul , target yang dicanangkan pemerintah cukup menantang dengan transaksi e-commerce  Rp 130 miliar pada tahun 2020,  hal ini merupakan peluang bagi para pelaku usaha online. Di samping itu pelaku bisnis e-commerce juga mengalami peningkatan dan bersaing ketat , terutama top 10 e-commerce   rata-rata di pengunjung . Pertumbuhan belanja on line mengalami kenaikan mulai dari tahun 2013 sampai sekarang . “Pada  tahun 2016 saja mencapai 8.7 juta (sumber : e-Marketer).Demikian pula tren pengguna mobile broadband global memicu pertumbuhan usaha on line Indonesia,  pelanggan  internet broadband hampir setengahnya (48.8%) dari pelanggan seluler,” ujar Nurul.

Tidak kalah pentingnya ,  faktor pendukung lainnya  adalah program yang dicanangkan pemerintah melalui  pencanangan visi ekonomi digital yakni , “The Digital Energy of Asia”, dimana salah satu aksi kongkritnya adalah gerakan 1000 start up. Kebijakan pemerintah untuk mendukung perkembangan ekonomi digital , telah dibuat  paket kebijakan ekonomi e-commerce.

Dikemukakan Nurul, beberapa  usaha bisnis on line yang saat ini sedang booming  antara lin ; Startup Digital Media. Website portal baru di internet saat ini  cukup banyak . Contohnya beberapa blog yang membahas suatu content tertentu. Mereka adalah para startup digital media yang membahas topik khusus sesuai dengan minat dan keahlian para pengembangnya. Kemudian Copywriter. Maraknya berbagai artikel di beberapa website saat ini memang  mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bukan tanpa alasan, pertumbuhan portal website dan  banyaknya blog profesional membuat potensi bisnis jasa penulisan artikel semakin menarik dan menjanjikan . Jasa desain grafis , juga merupakan salah satu peluang usaha online pada tahun 2018 yang kemungkinan akan semakin booming . Peluang ini muncul karena tingginya pengguna media sosial seperti instagram dan facebook yang memposting konten-konten visual untuk keperluan pemasaran online.  Pelatihan Online , pendidikan formal sebuah kewajiban yang harus diikuti kebanyakan orang yang peduli akan skill untuk menunjang karirnya. Namun, sekarang ini banyak juga yang lebih memilih untuk kursus secara online. Bidang ilmu yang dipelajari secara online ini sangat beragam. Mulai dari pelatihan internet marketing, desain grafis, photoshop dan lainnya. Lainnya adalah jasa internet marketing. Model bisnis ini  cukup marak, bisnis ini  diprediksi akan menjadi salah satu tren bisnis online pada tahun 2018 ini. Beberapa jenis pemasaran online yang paling banyak digunakan saat ini adalah google adwords, facebook ads, blogging dan SEO.

 Nurul Hermina menyebut  faktor yang mempengaruhi perkembangan usaha online di Indonesia  dipengaruhi oleh globalisasi, teknologi informasi, perubahan perilaku pasar serta  perubahan gaya hidup. Faktor globalisasi disini bukan hanya bicara pasar global, lanjut Nurul , tapi imbas dari perubahan teknologi yang berdampak pada revolusi industri  yang dikenal dengan Industri generasi 4 (industri 4.0) yakni sistem yang mengintegrasikan dunia secara online dengan produksi industri.

Sektor usaha yang banyak memanfaatkan usaha online , menurut Nurul , mayoritas sektor industri retail dan jasa yang memanfaatkan usaha on line dengan pola B2C (Business to  Consumer). Sedangkan sektor usaha online yang sedang booming saat ini ; Pertama adalah fashion.Sekarang, ada kecenderungan  yang dapat meluangkan waktunya untuk berbelanja ke mall ataupun pusat perbelanjaan.  Fashion disini tidak hanya pakaian, terdapat juga  aksesoris , mulai dari anting dan lainnya banyak dijual secara online. Kuliner,  makanan yang sebenarnya biasa saja citarasanya ,namun karena packaging dan cara mempromosikan  unik , makanan yang biasa ini menjadi viral. Sebab itu dengan inovasi yang kreatif , sektor kuliner sangat menjajikan di dunia bisnis online.  Gadget , merupakan kebutuhan yang bisa dibilang menjadi kebutuhan sehari-hari dijaman modern ini, mulai dari chatting, video call, telepon, dan lainnya. Gadget jadi peluang untuk membuka usaha online shop.  Nurul Hermina  yang juga  Direktur U&I Consulting mengatakan, pajak e-commerce merupakan pajak yang dibebankan kepada semua pelaku jual-beli yang menggunakan fasilitas internet , baik  situs marketplace, toko online, jualan di sosmed, kegiatan promosi dan apapun itu selama berkaitan dengan proses perdagangan. “Bukan suatu hal yang negatif jika pajak e-commerce dibebankan terhadap pebisnis online,” ujar Nurul , Senin.

Menjawab pertanyaan mengenai keberadaan usaha online, apakah menjadi sebuah ancaman bagi pelaku usaha konvensional,ritel danwaralaba. Akademisi Universitas Widyatama ini mengakui , ada yang menyebut ancaman. Tapi kita tidak bisa menghindari tren, karena e-commerce atau bisnis online adalah tren bisnis . Kita jangan melawan tren, tapi justru harus beradaptasi dengan perubahan yang ada. Kalau sampai melawan, kita sendiri yang akan kalah. Dalam bisnis kita harus menjadikan ancaman menjadi peluang, tentunya dengan memanfaatkan apa yang menyebabkan bisnis berubah, terutama untuk pebisnis skala kecil dan menengah yang memanfaatkan internet untuk memasarkan produk berpotensi menjaring peningkatan pendapatan lebih cepat dibandingkan bisnis offline. Nurul menyebut, hasil Riset dari Deloitte Access Economics tahun 2015 menunjukan usaha kecil dan menengah (UKM) yang memiliki kemampuan e-commerce atau masuk kedalam kategori bisnis online lanjutan mengalami kenaikan pendapatan 80% lebih cepat dibandingkan dengan pebisis yang tidak menggunakan internet

Disisi lain , belanja online untuk kondisi saat ini belum signifikan, apabila melihat hasil survey Yuswohad (e-marketer)  bahwa  penjualan e-commerce hanya menyumbang 1,2% total dari  GDP ,  hanya sekitar 0,8% (2016) dari total penjualan ritel nasional. Meskipun memang ada fenomena terjadinya penurunan penjualan konvensional  di pusat perdagangan Jakarta, misalnya  di Roxi, Glodok, Matahari, Ramayana, Lotus, bahkan terakhir Debenhams di Senayan City. “ Akan tetapi perubahan teknologi, perubahan gaya hidup konsumen sangatlah dinamis, masih menurut hasil suryey Yuswohadi , gaya hidup konsumen saat ini terutama era milenial sudah beralih ke Leisure ekonomi,” tutur Nurul. Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini (mencapai 46%) lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience, dengan demikian usaha bisnis on line dan off line apabila ingin tetap exist, seyogyanya melakukan inovasi sesuai perubahan gaya hidup para konsumennya. Pola belanja e-commerce ke depan akan menjadi ancaman serius perdagangan konvensional. Nilai transaksi e-commerce 2017 tumbuh 30-50% dari 2014, sehingga fondasi menuju kesana sudah ada, didukung pengguna internet saat ini sudah 132 juta pengguna internet dan 92 juta pengguna ponsel aktif, serta peraturan tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik atau Roadmap e-commerce menjadi perhatian serius pemerintah untuk segera diimplementasikan, maka tidak ada pilihan lain untuk pebisnis offline untuk segera mempersiapkan ke usaha online secara bertahap.

Nilai transaksi antara belanja online dengan offline  akan tergantung jenis sektor industrinya, porsi pasar belanja online tahun 2016 menurut lembaga riset Nielsen , produk elektronik 35%, perjalanan 27%, fashion 16%, IT dan ponsel 13%, kosmetik 4%, buku 2%, produk perawatan pribadi 2%, tiket acara 1%, bahan pangan makanan dan minuman 1%, selebihnya masih menggunakan offline. Pelaku usaha niaga offline perlu merambah ke belanja online, alasannya karena perkembangan teknologi  bisa membantu pelaku bisnis agar lebih  lebih efisien karena tidak memerlukan modal yang besar .”Alasan pelaku usaha  offline harus memanfaatkan belanja online karena dengan belanja online cakupan konsumen menjadi lebih banyak dan dagangan dapat diakses dari berbagai daerah dengan sangat mudah. Pelaku usaha bisa mempunyai konsumen dengan segmen pasar lebih luas,” ungkap Nurul seraya mengatakan , perlindungan terhadap konsumen belanja online dari pemerintah sudah cukup baik dengan terbitnya Peraturan Pemerintah nomor 82/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE), yang merupakan turunan dari UU nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Dalam peraturan tersebut termaktub, kewajiban pengusaha  online harus memiliki itikad baik dalam berbisnis, memberikan informasi yang benar, jelas, jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa, serta penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan, melayani dengan baik, jujur, dan tidak diskriminatif, jaminan mutu barang/jasa sesuai standar yang berlaku, memberi kesempatan konsumen untuk menguji, mencoba, dan memberi jaminan atau garansi, selain memberi kompensasi ganti rugi dan penggantian  bila barang tidak sesuai dengan perjanjian. Dalam Undang –undang tersebut ditegaskan, bila pelaku usaha tidak melakukan kewajiban atau melanggar dikenakan hukuman pidana.

“Untuk melindungi konsumen yang  dilakukan oleh pemerintah adalah memantau dari aspek security, terkait maraknya penipuan online . Pemerintah dalam hal ini Menkominfo telah membuat sistem “CekRekening Id” untuk mencegah penipuan on line , diharapkan agar disosialisasikan kepada masyarakat, “ pungkas Nurul. ( E-018)***